Pelayanan Khusus untuk Jemaah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan dalam Ibadah Haji 2026
Di tengah kelancaran ibadah haji 2026, khususnya dalam pengelolaan jemaah lanjut usia (lansia), disabilitas, dan perempuan, terdapat banyak tantangan yang dihadapi oleh petugas. Di bandara Arab Saudi, para petugas harus bekerja cepat dan sigap dalam menangani berbagai kondisi darurat yang dialami jemaah rentan setelah menempuh perjalanan panjang.
Pelaksana Layanan Lansia, Disabilitas, dan Perempuan PPIH 2026, Dita Prihastika, menjelaskan bahwa tugas mereka sesuai dengan tagline Kementerian Haji yaitu pelayanan haji ramah lansia dan perempuan. “Kami harus siap memberikan penanganan cepat kepada jemaah, khususnya lansia dan disabilitas,” ujarnya saat ditemui di area layanan kedatangan jemaah di Jeddah, Jumat (15/5/2026).
Dita mengungkapkan bahwa petugas telah menyiapkan berbagai perlengkapan darurat seperti masker, sarung tangan, alat pelindung diri (APD), pampers, kaus kaki hingga kantong khusus pakaian kotor. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kondisi yang mungkin dialami jemaah selama perjalanan.
Salah satu situasi yang sering ditemui adalah jemaah lansia yang mengalami inkontinensia atau buang air tanpa sadar selama penerbangan. “Terkadang jemaah turun dari pesawat sudah dalam kondisi pakaian terkena najis, tetapi mereka tidak sadar. Saat kami bilang ingin membantu mengganti pakaian, ada yang mengira hanya terkena air biasa,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, petugas langsung membawa jemaah ke toilet dan membantu membersihkan serta mengganti pakaian mereka. Jika jemaah tidak membawa pakaian cadangan, petugas menggunakan perlengkapan yang telah disiapkan sebelumnya.
Penanganan Kesehatan Ringan dan Kesucian Ibadah
Selain membantu kebersihan, petugas juga menangani berbagai keluhan kesehatan ringan seperti sakit perut, mual, dan kondisi tubuh lemas akibat kelelahan perjalanan. Untuk penanganan lanjutan, tim layanan lansia langsung berkoordinasi dengan petugas kesehatan PPIH.
“Kalau ada yang mengeluh perutnya tidak enak atau lemas, kami langsung koordinasi dengan petugas kesehatan. Kadang kami bantu dengan minyak angin atau memberikan air putih sambil menenangkan mereka,” kata Dita.
Ia juga menjelaskan bahwa pelayanan di area paviliun bandara harus dilakukan cepat karena arus perpindahan jemaah terus-menerus. Karena itu, seluruh perlengkapan dipisahkan dalam kantong khusus agar mudah digunakan sewaktu-waktu.
“Semua harus serba cepat. Ganti pakaian cepat, bersihkan cepat, lalu pakaian kotor langsung dimasukkan ke kantong plastik khusus dan ditaruh kembali di bagasi jemaah,” jelasnya.
Masalah Umum yang Ditemukan
Dalam praktik di lapangan, petugas juga menemukan masih banyak jemaah lansia yang belum memahami aturan penggunaan sarung tangan dan kaus kaki saat ihram. Banyak di antaranya menggunakan sarung tangan tertutup penuh yang sebenarnya tidak dianjurkan.
Karena itu, petugas menyiapkan perlengkapan cadangan untuk membantu jemaah yang membutuhkan. Meski menghadapi kondisi yang tidak mudah, Dita mengaku tetap menjalankan tugas dengan tulus.
Baginya, para jemaah lansia yang dilayani adalah seperti orang tua sendiri. “Alhamdulillah saya tidak merasa geli. Mereka seperti orang tua saya sendiri. Saya ingin mendedikasikan pelayanan ini untuk nenek saya yang dulu bercita-cita berhaji, tetapi belum sempat berangkat karena dipanggil Allah,” tuturnya.
Doa-doa dari para jemaah menjadi kekuatan terbesar bagi dirinya dan para petugas selama menjalankan pelayanan haji. “Setiap hari kami dibungkus dengan doa-doa indah dari jemaah. Itu nikmat yang luar biasa,” pungkasnya.
0 Komentar