Tradisi Kurban Warga Bone, Sapi Bali Tetap Favorit

Tradisi Masyarakat Bone dalam Memilih Hewan Kurban

Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, tradisi masyarakat dalam memilih hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha masih didominasi oleh sapi Bali. Jenis sapi ini menjadi pilihan utama karena dianggap lebih sesuai dengan selera dan kebiasaan warga setempat saat berkurban.

Meski Hari Raya Iduladha masih beberapa pekan lagi, sejumlah pedagang hewan kurban di Kabupaten Bone mulai menyiapkan stok sapi dan kambing untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu pengusaha jual beli sapi di Jalan Sungai Limboto, Kecamatan Tanete Riattang, Aris, mengatakan bahwa hingga saat ini permintaan hewan kurban masih terbilang sepi.

“Kalau di tempat saya, permintaan konsumen untuk sapi masih sepi dan harga juga masih di batas harga wajar. Untuk kambing kurban juga masih sepi,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dirasakan di tempat usahanya, tetapi juga dialami pedagang dan peternak lain di wilayah Watampone. “Info teman-teman peternak sekitar Watampone rata-rata sama. Biasanya masyarakat mulai ramai membeli sekitar tujuh sampai 10 hari menjelang hari raya,” tambahnya.

Aris mengungkapkan bahwa masyarakat Bone memiliki kecenderungan memilih sapi Bali dibanding jenis sapi lainnya untuk dijadikan hewan kurban. Selain dianggap lebih cocok, sapi Bali juga banyak tersedia di pasaran lokal dengan harga yang relatif terjangkau.

Saat ini harga sapi Bali di Bone masih berkisar antara Rp12 juta hingga Rp14 juta per ekor, tergantung ukuran dan kondisi hewan. Meski harga masih stabil, pedagang memprediksi akan terjadi kenaikan mendekati Hari Raya Iduladha. “Kenaikan biasanya mulai terasa sekitar 10 hari menuju hari H. Prediksi saya kurang lebih sama seperti tahun lalu, estimasi kenaikan sekitar 10 sampai 15 persen,” jelasnya.

Untuk menghadapi lonjakan permintaan, dirinya telah menyiapkan sekitar 10 ekor sapi dan 25 ekor kambing kurban. Seorang warga Kecamatan Tanete Riattang, Andika, mengaku belum membeli hewan kurban karena masih menunggu waktu mendekati hari raya. “Biasanya memang beli mendekati lebaran kurban karena pilihan hewan masih banyak dan bisa menyesuaikan kondisi keuangan,” katanya.

Ia mengatakan keluarganya hampir setiap tahun memilih sapi Bali untuk kurban. “Kalau di keluarga kami memang lebih pilih sapi Bali karena sudah biasa dari dulu,” tandasnya.

Keunikan Sapi Bali sebagai Hewan Kurban

Sapi Bali masih menjadi pilihan utama masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia untuk hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha. Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, jenis sapi ini bahkan menjadi primadona karena dianggap paling sesuai dengan kebiasaan dan selera masyarakat setempat.

Sapi Bali merupakan salah satu ras sapi asli Indonesia yang berasal dari hasil domestikasi banteng liar. Jenis sapi ini dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca tropis dan mudah dipelihara oleh peternak lokal. Secara fisik, sapi Bali memiliki ciri khas berwarna cokelat kemerahan dengan bagian kaki bawah berwarna putih menyerupai kaus kaki. Selain itu, terdapat garis hitam di bagian punggungnya.

Dibandingkan jenis sapi lain seperti Sapi Limousin dan Sapi Simmental, ukuran tubuh sapi Bali relatif lebih kecil. Namun, sapi Bali dinilai lebih ekonomis karena harga jualnya lebih terjangkau dan kebutuhan pakannya tidak sebanyak sapi impor. Selain itu, daging sapi Bali dikenal lebih padat dengan kandungan lemak yang lebih sedikit sehingga banyak diminati masyarakat.

Pedagang hewan kurban di Bone menyebut masyarakat masih cenderung memilih sapi Bali karena mudah ditemukan di pasaran lokal dan telah menjadi tradisi turun-temurun. Saat ini harga sapi Bali di Bone masih berkisar antara Rp12 juta hingga Rp14 juta per ekor, tergantung ukuran dan kondisi hewan. Meski begitu, pedagang memprediksi harga akan mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 15 persen mendekati Hari Raya Iduladha seiring meningkatnya permintaan masyarakat.