Tribuana Manggala Bhakti: Tradisi Budha Merawat Alam di Kulon Progo

Mengenal Tradisi Tribuana Manggala Bhakti di Kulon Progo

Tribuana Manggala Bhakti adalah sebuah tradisi yang dijalankan oleh umat Buddha di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Tradisi ini bertujuan untuk merawat alam dan menjaga keseimbangan lingkungan. Dengan mengusung konsep ekoteologi, kegiatan ini sudah berlangsung sejak tahun 2014. Pada tahun 2026, tradisi ini kembali digelar dengan penuh khidmat dan makna mendalam.

Tradisi ini lahir dari kegelisahan masyarakat terhadap kondisi lingkungan kawasan Menoreh. Berkurangnya debit mata air menjadi salah satu alasan utama diadakannya kegiatan ini. Surahman, Ketua Panitia Tribuana Manggala Bhakti 2026, menjelaskan bahwa gagasan merawat alam berasal dari literatur masa lalu, baik ajaran Jawa maupun Buddha. Ternyata, dulu sudah ada upacara-upacara pelestarian alam.

Prosesi awal dari Tribuana Manggala Bhakti adalah kirab. Para peserta kirab mengenakan baju adat Jawa sebagai simbol kebersamaan dan kebudayaan. Selanjutnya, mereka mengambil tirta suci dari sumber mata air di Ekowisata Sungai Mudal. Dalam upacara adat yang berlangsung khidmat, masyarakat membawa ujub, sesaji, dan kendi sebagai bagian dari ritual yang sarat makna.

Setelah sembahyang, air suci dipercikkan bukan hanya kepada umat, tetapi juga kepada pohon, ikan, dan burung yang akan dilepas. Tindakan ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk hidup memiliki tempat yang setara dalam keseimbangan alam. Pendekatan budaya menjadi cara efektif untuk menanamkan kesadaran ekologis kepada masyarakat. Melalui tradisi, pesan pelestarian lingkungan dapat diterima dengan lebih hangat dan mudah dipahami oleh warga.

Makna Tribuana Manggala Bhakti

Dalam Tribuana Manggala Bhakti, terdapat pesan tentang pelestarian lingkungan. Konsep 'tribuana' yang berarti tiga matra alam, yaitu bumi, air, dan udara, menjadi dasar dari kegiatan ini. Matra bumi diwujudkan melalui penanaman pohon serta pembagian sekitar 500–600 bibit kepada warga untuk ditanam di lahan masing-masing.

Matra air direalisasikan melalui pelepasan ikan endemik di Sungai Mudal. Tujuannya adalah menjaga ekosistem perairan tetap lestari dan berkelanjutan. Di sisi lain, matra udara diwujudkan dengan pelepasan berbagai satwa burung sebagai simbol kebebasan alam sekaligus pemulihan keseimbangan ekosistem.

Keunikan lain dari Tribuana Manggala Bhakti adalah kuatnya semangat gotong royong lintas iman. Dalam setiap proses kegiatannya, umat Buddha tidak berjalan sendiri, melainkan mendapat dukungan dari warga dengan berbagai latar belakang agama. Kebersamaan ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan mampu menyatukan perbedaan dalam satu tujuan yang sama.

Selain sebagai gerakan spiritual dan lingkungan, Tribuana Manggala Bhakti kini mulai menarik perhatian wisatawan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memiliki nilai lebih karena memadukan pelestarian alam dengan potensi wisata budaya yang hidup. Seperti di Bali, orang datang bukan hanya melihat alamnya, tetapi juga kulturnya.

Peran dalam Perayaan Waisak

Tribuana Manggala Bhakti 2026 merupakan bagian dari rangkaian perayaan Waisak di Yogyakarta yang dikenal dengan nama Vesaka Sananda. Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kanwil Kementerian Agama DIY, Pandu Dinata, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata implementasi Asta Protas Kementerian Agama yang berfokus pada pengembangan ekoteologi.

Menurutnya, pendekatan ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas sosial, tetapi juga bagian dari nilai keagamaan yang mendalam. "Dengan mencintai lingkungan, berarti kita mencintai diri sendiri dan agama kita," kata Pandu.

0 Komentar