Waktunya USK bangkit jadi ukuran kemajuan peradaban dan kesejahteraan

Waktunya USK bangkit jadi ukuran kemajuan peradaban dan kesejahteraan

Kepemimpinan Baru dengan Energi Muda

Tanggal 13 Mei 2026 menjadi titik balik bagi Universitas Syiah Kuala (USK). Rektor Prof Mirza Tabrani SE MBA Ph D melantik empat wakil rektor periode 2026-2030. Pelantikan berlangsung di Darussalam Banda Aceh. Banyak orang dari berbagai kalangan hadir. Mereka datang dari unsur akademik, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat sipil. Semua menyaksikan pergantian garda kepemimpinan dengan penuh harapan.

Apa yang membuat mereka optimis? Komposisi tim ini berbeda. Mirza Tabrani bukan rektor biasa. Beliau adalah dosen Manajemen yang mumpuni. Bidang managerial dikuasai dengan baik. Teori kepemimpinan transformasional menjelaskan bahwa pemimpin dengan kompetensi teknis dan manajerial mampu menggerakkan organisasi secara efektif. Mirza akan menerapkan ilmunya langsung untuk memimpin USK empat tahun ke depan.

Yang menarik adalah strateginya. Untuk dapat berlari kencang, Mirza memilih para dosen muda. Mereka memiliki integritas tinggi. Empat wakil rektor yang dilantik rata rata berusia di bawah 50 tahun. Ini energi positif untuk perubahan cepat.

Profil Wakil Rektor: Kombinasi Kompetensi dan Karakter

Wakil Rektor 1 bidang Akademik dijabat Prof Dr Heru Fahlevi SE M Sc Ak CA. Beliau adalah guru besar lulusan Jerman. Bidang akademik dikuasai secara mendalam. Karakter beliau juga baik. Sistem pendidikan Jerman terkenal dengan ketelitian dan disiplin. Heru membawa filosofi itu ke USK. Urusan akademik seperti kurikulum, mutu pembelajaran, dan akreditasi akan mendapat perhatian serius.

Wakil Rektor 2 bidang Umum dan Keuangan dijabat Dr Fairuzzabadi SE M Sc. Dosen ini cerdas dan jujur. Satu karakter kunci lainnya: taat dalam beragama. Nilai kejujuran menjadi fondasi pengelolaan keuangan universitas. Banyak institusi pendidikan tinggi terjebak dalam masalah tata kelola karena lemahnya pengawasan. Fairuzzabadi menawarkan integritas sebagai solusi.

Wakil Rektor 3 bidang Kemahasiswaan dan Alumni dijabat Dr Rina Suryani Oktari S Kep M Si FRSPH. Beliau adalah aktivis perempuan. Taat beragama. Dan memiliki banyak prestasi. Di tingkat nasional dan internasional, nama Rina sudah dikenal. Keberadaan perempuan dalam kepemimpinan USK memberikan perspektif baru. Isu kemahasiswaan seperti pengembangan bakat, kesejahteraan mahasiswa, dan hubungan alumni akan dikelola dengan pendekatan inklusif.

Wakil Rektor bidang Perencanaan, Kemitraan, dan Bisnis dijabat Dr Ramzi Adriman ST M Sc IPM ASEAN Eng APEC Eng. Ramzi adalah kader dengan jaringan luas. Koneksi utamanya berada di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Jaringan ini sangat berharga. Banyak kebijakan dan pendanaan nasional yang membutuhkan akses dan pemahaman birokrasi. Ramzi membuka pintu itu untuk USK.

Mengapa USK Perlu Bangkit?

Aceh memiliki masalah struktural dalam pembangunan. Indikator kesejahteraan seperti indeks pembangunan manusia, tingkat kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi masih tertinggal dibanding provinsi lain di Sumatera. Laporan Badan Pusat Statistik Aceh tahun 2025 menunjukkan bahwa IPM Aceh berada di peringkat 27 dari 34 provinsi. Angka kemiskinan masih 14,5 persen, di atas rata rata nasional.

Pendidikan tinggi memegang peran kunci untuk mengubah angka ini. Universitas menghasilkan riset, inovasi, dan sumber daya manusia. Sebuah studi dari World Bank (2024) menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu persen dalam kualitas perguruan tinggi di suatu daerah berkontribusi pada peningkatan PDRB sebesar 0,3 persen dalam jangka waktu lima tahun. USK sebagai universitas tertua dan terbesar di Aceh wajib menjadi motor penggerak.

Namun faktanya, riset yang dihasilkan USK masih minim diterapkan di masyarakat. Paten dan produk inovasi sedikit yang dikomersialkan. Lulusan USK sering kali tidak terserap di pasar kerja lokal karena ketidakcocokan kompetensi. Ini masalah sistemik. Dan tidak bisa diselesaikan dengan cara lama.

Teori Manajemen Strategis sebagai Landasan

Michael Porter dalam teori keunggulan kompetitif menjelaskan bahwa organisasi perlu memilih strategi diferensiasi atau fokus. Untuk USK, strategi fokus pada keunggulan lokal Aceh menjadi pilihan tepat. Aceh punya budaya, kearifan lokal, dan potensi sumber daya alam yang unik. USK bisa menjadi pusat studi kebencanaan karena pengalaman tsunami. USK bisa menjadi rujukan hukum Islam dan syariat karena kekhasan Aceh.

Mirza Tabrani sebagai dosen Manajemen memahami ini. Beliau tidak akan menggunakan pendekatan generik. Penerapan ilmu manajerial dalam kepemimpinan USK berarti memetakan kekuatan internal dan peluang eksternal. Kekuatan USK adalah sumber daya dosen yang terdidik dan semangat masyarakat Aceh untuk maju. Peluang eksternal adalah kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dari Kemendikbudristek.

Dengan wakil rektor yang memiliki jaringan di kementerian, USK bisa memanfaatkan program-program nasional. Misalnya program pendanaan riset kompetitif, hibah pengabdian masyarakat, dan kerja sama internasional.

Harapan dari Berbagai Kalangan

Saat pelantikan, suasana penuh optimisme. Rektor dan keempat wakil rektor yang masih muda ini disambut tepuk tangan meriah. Seorang ketua himpunan mahasiswa yang hadir menyampaikan harapannya. "Kami ingin birokrasi yang cepat dan tidak berbelit. Kami ingin ruang untuk berinovasi." Seorang tokoh masyarakat Aceh juga berkomentar. "USK harus kembali menjadi kampus rujukan. Bukan hanya untuk Aceh, tapi untuk Sumatera."

Masyarakat menaruh banyak harapan. Mereka ingin USK bangkit. Mereka ingin USK mampu menggelinding lebih cepat. Tujuan akhirnya jelas: meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh. Bukan sekadar akreditasi unggul atau peringkat universitas dunia. Tapi dampak nyata di lapangan.

Sebuah survei internal yang dilakukan Lembaga Penelitian USK pada Januari 2026 menunjukkan bahwa 78 persen responden dari kalangan usaha kecil dan menengah di Banda Aceh mengeluhkan ketidaksesuaian lulusan USK dengan kebutuhan industri. Mereka butuh tenaga kerja terampil di bidang digital marketing, logistik, dan teknologi pertanian. USK belum merespons secara optimal.

Langkah Konkret yang Dibutuhkan

USK tidak bisa hanya mengandalkan semangat. Dibutuhkan langkah terukur. Pertama, revisi kurikulum semua program studi berbasis outcome based education yang sesuai dengan permintaan industry dan dunia usaha. Kedua, pembentukan holding bisnis universitas untuk mengkomersialkan riset.

Ketiga, penguatan pusat studi kebencanaan dan budaya Aceh sebagai ciri khas. Keempat, perluasan kerja sama dengan industri lokal seperti pertanian, perikanan, dan energi. Kelima, sistem monitoring dan evaluasi real time untuk setiap unit kerja.

Teori manajemen kinerja dari Kaplan dan Norton melalui balanced scorecard bisa diterapkan. Empat perspektif: keuangan, pelanggan (mahasiswa dan pengguna lulusan), proses internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Setiap wakil rektor bertanggung jawab pada indikator tertentu. Hasilnya dievaluasi setiap tiga bulan.

Penutup

Aceh butuh USK yang kuat. Peradaban Aceh di masa depan ditentukan oleh kualitas pendidikan tingginya. Kesejahteraan masyarakat Aceh juga bergantung pada inovasi dan sumber daya manusia yang dihasilkan universitas. Prof Mirza Tabrani dan tim wakil rektor memiliki modal besar. Kini saatnya membuktikan. Tidak ada waktu untuk ragu. Tidak ada ruang untuk setengah hati.

Masyarakat sudah menanti. Mahasiswa sudah siap bergerak. Para dosen juga haus akan perubahan. Momentum pelantikan ini harus menjadi awal dari lompatan besar. USK harus bangkit. Bukan hanya menjadi barometer pembangunan peradaban Aceh. Tapi juga menjadi mesin kesejahteraan yang nyata. Selamat bekerja untuk rektor dan jajarannya. Aceh mendukung penuh.

0 Komentar