
Kembali Terjadi, Kasus Penjambretan di Jakarta Pusat
Kasus penjambretan kembali terjadi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Kali ini, seorang warga negara asing (WNA) asal Italia menjadi korban. Hal ini menambah daftar kejadian serupa yang terjadi di wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Sebelumnya, seorang WNA asal Polandia juga dilaporkan menjadi korban pencurian ponsel dengan modus jambret di lokasi yang sama. Polisi menyebut bahwa aksi kejahatan jalanan ini sering kali menyasar korban yang sedang lengah di tepi jalan. Menurut AKBP Braiel Arnold Rondonuwu dari Polsek Menteng, pelaku tidak memilih korban berdasarkan kewarganegaraan tertentu. Mereka lebih melihat situasi dan kondisi korban saat berada di lokasi.
"Pelaku modusnya random (acak), terhadap korban yang terlihat lengah di pinggir jalan," papar Braiel.
Polisi masih mendalami kemungkinan keterkaitan antar pelaku dalam sejumlah kasus penjambretan tersebut. Namun sejauh ini, belum ditemukan indikasi adanya jaringan khusus yang beroperasi secara terorganisir. "Keterkaitan antara pelaku sampai saat ini belum kami temukan modus komplotan jambret," kata Braiel.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, jajaran Polsek Menteng kini meningkatkan patroli terutama pada jam-jam yang dianggap rawan tindak kriminal jalanan.
Penjambretan di Sawah Besar
Dalam peristiwa lain, seorang WNA asal Jerman juga menjadi korban penjambretan di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kejadian ini terjadi pada Minggu (19/4/2026) sore, sekitar pukul 15.40 WIB di depan Sekolah Santa Ursula, Jalan Lapangan Banteng Utara, Pasar Baru.
Korban diketahui bernama Robin (26), yang saat kejadian tengah berada di pinggir jalan dan hendak menyeberang sambil memainkan telepon genggamnya, Samsung S23. Secara tiba-tiba, dua orang pelaku yang berboncengan menggunakan sepeda motor mendekat dan langsung merampas ponsel milik korban.
Kapolsek Sawah Besar, Kompol Rahmat Himawan, mengatakan pihaknya menerima laporan kejadian tersebut sekitar pukul 16.00 WIB. "Ketika korban sedang ingin menyebrang dipinggir jalan sekitaran lokasi, tengah asik memainkan Handphonr (HP), pada saat yang bersamaan HP korban diambil seseorang menggunakan motor berboncengan," ucap Kompol Rahmat saat dikonfirmasi, Senin (20/4/2026).
Akibat kejadian itu, korban mengalami kerugian berupa satu unit telepon genggam. Beruntung, tidak ada laporan terkait luka fisik yang dialami korban. Saat ini, pihak kepolisian dari Polsek Sawah Besar tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap identitas pelaku dan memburu keberadaannya. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, khususnya saat menggunakan ponsel di ruang publik.
Tanggapan Gubernur DKI Jakarta
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah menunjukkan respons cepat terhadap gangguan keamanan yang meresahkan masyarakat. Penjelasan ini disampaikan saat ia dimintai evaluasi terkait peristiwa pedagang bakso dipalak preman di Tanah Abang.
Pramono Anung juga menyinggung kejadian tersebut terjadi saat Jakarta baru saja memperoleh predikat sebagai kota teraman nomor dua di Asia Tenggara. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil survei internasional. "Selama ini Jakarta biasanya ranking-nya antara 5, 6, 7, sekarang nomor dua, ya kami syukuri," katanya.
Menurut Pramono Anung, Jakarta memiliki berbagai dinamika, termasuk dalam aspek keamanan. Karena itu, pemerintah akan bertindak tegas terhadap setiap gangguan ketertiban. "Yang seperti itu tentu kami tindak dengan tegas," katanya.
Saat memberikan sambutan pada pembukaan 'Lebaran Betawi 2026' di Lapangan Banteng, Pramono mengatakan Jakarta sebelumnya belum pernah menjadi kota teraman nomor dua di Asia Tenggara. Dengan peringkat baru tersebut, Jakarta disebut berada di atas Bangkok (Thailand), Manila (Filipina), Kuala Lumpur (Malaysia), hingga Hanoi (Vietnam). Sementara peringkat pertama ditempati Singapura.
"Itu (peringkat Jakarta) tidak mungkin dicapai tanpa kebersamaan, kerukunan, silaturahmi, persatuan yang kita jaga bersama-sama," kata Pramono.
0 Komentar