3 Strategi Utama Konferensi Republik, Lokasi Konsolidasi Nasional Berpindah Usai Batal Digelar di UI

3 Strategi Utama Konferensi Republik, Lokasi Konsolidasi Nasional Berpindah Usai Batal Digelar di UI

Konsolidasi Nasional Konferensi Republik Tetap Berlangsung Meski Lokasi di UI Dibatalkan

Pada menit terakhir sebelum acara Konsolidasi Nasional Konferensi Republik, pihak Universitas Indonesia (UI) membatalkan izin penyelenggaraan acara tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi panitia dan peserta yang telah bersiap untuk mengikuti konferensi tersebut. Namun, meskipun lokasi resmi dibatalkan, acara tetap berjalan dengan format hybrid, yaitu kombinasi antara kehadiran langsung dan virtual.

Acara Konferensi Republik digelar secara online dengan partisipasi lebih dari 200 peserta dari ratusan organisasi masyarakat sipil. Sementara itu, sekitar 150 peserta lainnya hadir secara langsung di sebuah kafe di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Minggu (28/6/2026). Meski ada kendala dalam pengaturan lokasi, semangat peserta tetap tinggi dan tidak menyurutkan antusiasme mereka untuk berpartisipasi.

Tiga Mandat Utama yang Disepakati

Setelah hampir lima jam berdiskusi, peserta forum Konferensi Republik menyepakati tiga mandat utama sebagai dasar langkah selanjutnya:

  • Penyusunan platform bersama
    Tujuannya adalah menciptakan wadah yang dapat digunakan oleh berbagai elemen masyarakat sipil untuk saling berkoordinasi dan bekerja sama dalam merumuskan gagasan serta solusi untuk isu-isu nasional.

  • Desain pengorganisasian berbasis jejaring
    Forum menyepakati model organisasi yang tidak terpusat, tetapi lebih berbasis pada jaringan. Model ini bertujuan untuk menghubungkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, profesional, dan anak muda, tanpa struktur yang terlalu hierarkis.

  • Pembentukan pengurus perintis
    Sejumlah tokoh dan aktivis masyarakat sipil diusulkan untuk menjadi pengurus awal yang akan membantu menjalankan kegiatan dan memperkuat struktur organisasi.

Antusiasme Peserta yang Tetap Tinggi

Ketua Umum Konferensi Republik, Sudirman Said, menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme peserta yang tetap tinggi meskipun acara sempat menghadapi dinamika terkait lokasi penyelenggaraan. Menurutnya, forum ini tetap menunjukkan karakter yang kuat sebagai gerakan yang tumbuh dari bawah, bersifat kolektif, dan partisipatif.

Sudirman juga menilai bahwa kegelisahan yang dirasakan masyarakat di berbagai daerah menjadi alasan berbagai kalangan dari tujuh generasi berkumpul untuk membicarakan persoalan bangsa. Ia menegaskan bahwa republik ini bukan milik perseorangan, melainkan milik seluruh rakyat.

Pentingnya Ruang Publik

Wakil Ketua Umum Konferensi Republik, Jaleswari Pramodhawardani, menyatakan bahwa pembatalan lokasi tidak menyurutkan semangat peserta. Menurutnya, forum justru menjadi bukti pentingnya ruang publik bagi warga negara untuk berdiskusi dan merumuskan gagasan bersama.

Ia menambahkan bahwa diskusi sengaja dibuka di ruang publik agar berbagai gagasan yang berkembang dapat disusun menjadi langkah nyata. Forum ini juga menjadi ruang untuk merawat perbedaan sembari memperkuat kesamaan tujuan.

Model Kepemimpinan yang Inovatif

Sekretaris Jenderal Konferensi Republik, Yanuar Nugroho, menjelaskan hasil awal forum. Pertama, pembentukan platform bersama. Kedua, pembentukan desain organisasi berbentuk jejaring yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat tanpa struktur organisasi yang tersentralisasi.

Menurut Yanuar, model ini bertujuan menghubungkan mahasiswa, profesional, hingga anak muda yang memiliki kegelisahan serupa terhadap kondisi bangsa. "Anda tidak sendirian," katanya.

Ketiga, menyoroti model kepemimpinan. "Ini bukan tentang siapa, tetapi tentang bagaimana," ujarnya. Ia menilai pendekatan tersebut menjadi alternatif terhadap pola kepemimpinan yang selama ini dinilai terlalu pragmatis dan berpusat pada individu.

Ruang Intelektual untuk Berbagai Elemen Masyarakat Sipil

Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia Unsur Mahasiswa yang menjadi kolaborator kegiatan, Razaan Bayu Rachman, berharap forum seperti Konferensi Republik dapat terus berkembang sebagai ruang intelektual yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat sipil.

"Kita punya tujuan yang sama, dan kita butuh wacana perubahan yang lebih konkret lagi," ujarnya. Dalam forum tersebut juga dihimpun usulan 20 nama formatur yang akan menyusun kepengurusan organisasi.

Selain Sudirman Said, Jaleswari Pramodhawardani, dan Yanuar Nugroho, sejumlah tokoh lain turut diusulkan menjadi formatur, di antaranya Dandhy Laksono, Agus Sari, Rene Suhardono, Untoro Hariadi, Maria Selastiningsih, Ahmad Mujahid, Joko Susilo, Chandra M Hamzah, serta sejumlah nama lainnya.

Ke depan, Konferensi Republik Direncanakan Digelar Secara Bergilir

Sudirman Said mengatakan para formatur akan segera menggelar rapat untuk menyusun kepengurusan awal. Ia menegaskan susunan tersebut bersifat sementara dan akan terus berkembang seiring bertambahnya pihak yang bergabung untuk memperkuat platform maupun organisasi.

Ke depan, Konferensi Republik direncanakan digelar secara bergilir di berbagai kota yang telah menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah.

Pembatalan Izin Lokasi oleh UI

Diberitakan sebelumnya, acara Konsolidasi Nasional Konferensi Republik di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, dibatalkan secara sepihak oleh pihak kampus pada Minggu (28/6/2026) pagi. Pembatalan mendadak ini mengejutkan pihak panitia yang sebenarnya telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.

Ketua Panitia, Ahmad Mujahid, menyampaikan bahwa pihaknya telah menempuh seluruh prosedur administrasi yang dipersyaratkan oleh kampus sejak 19 Juni lalu. Menurutnya, sejak awal komunikasi dengan pihak kampus berjalan dengan baik, mulai dari proses perizinan hingga persiapan jelang acara. Namun, pada tengah malam, pihak kampus melayangkan surat resmi mengenai pembatalan izin penggunaan ruangan untuk acara tersebut.

0 Komentar