
Program Magang APINDO UMKM Merdeka 2026 Berhasil Memberikan Pengalaman Nyata bagi Mahasiswa dan Pelaku UMKM
Sebanyak 35 mahasiswa dari delapan perguruan tinggi di Sumatera Utara berhasil menyelesaikan Program Magang APINDO UMKM Merdeka 2026. Program ini digelar oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia Sumatera Utara (APINDOSU) dengan tujuan untuk memberikan pengalaman kerja nyata kepada mahasiswa sekaligus membantu pengembangan bisnis UMKM melalui berbagai inisiatif.
Selama empat bulan, para mahasiswa ditempatkan langsung di enam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Medan. Mereka membantu pengembangan bisnis melalui digitalisasi, pemasaran hingga tata kelola usaha. Program yang berlangsung sejak Maret hingga Juni 2026 ditutup melalui acara Graduation Mahasiswa Magang APINDO UMKM Merdeka yang digelar bertepatan dengan Hari UMKM Sedunia di Universitas HKBP Nommensen, Sabtu (27/6/2026).
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh penting seperti Rektor Universitas HKBP Nommensen Richard AM Napitupulu, Wakil Ketua APINDOSU Tarman Hartono, Ng Pin Pin dan Martono, Bendahara APINDOSU Perry Iskandar, Rektor Universitas Mahkota Tricom Unggul Dompak Pasaribu, perwakilan LLDIKTI Wilayah I, Dinas Koperasi dan UKM Sumut, Universitas Sumatera Utara, perguruan tinggi mitra, para pelaku UMKM, mentor, serta mahasiswa peserta magang.
Ketua Bidang UMKM APINDOSU, Tjoe Mun Tong, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja kepada mahasiswa, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi pelaku UMKM. Setiap tim ditempatkan di UMKM yang memiliki tantangan berbeda sehingga pendampingan yang dilakukan juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing usaha.
Pendampingan di Berbagai UMKM
Di Louise Bakedhouse, mahasiswa fokus membuat konten digital, menyusun strategi promosi, paket bundling produk, hingga memanfaatkan produk yang mendekati kedaluwarsa agar tidak terbuang. Pendampingan ini juga menghasilkan pemanfaatan produk yang tidak lagi layak dijual menjadi produk lain, sehingga mampu mengurangi pemborosan.
Sementara itu, di UMKM Kotama, mahasiswa menyusun proposal kerja sama, business plan, analisis SWOT, serta membuka peluang kerja sama dengan sekolah-sekolah. Visi UMKM ini pun berubah dari "UMKM Terkemuka" menjadi "Menengah Besar", serta mulai bekerja sama dengan sekolah dan membuat konten.
Di Sabina Collection, mahasiswa mengusulkan rebranding menjadi Jabutas agar identitas usaha lebih mudah dikenal masyarakat dan terkait pendaftaran HAKI Merek. Tim juga memberi nama pada setiap produk sehingga pencatatan stok lebih tertata dan pelanggan lebih gampang pesan. Selain itu, mahasiswa membantu memisahkan keuangan usaha dan pribadi serta mulai menerapkan pencatatan menggunakan aplikasi SiApik dari Bank Indonesia.
Pendampingan terhadap Jamu Niswah difokuskan pada digitalisasi usaha melalui penggunaan kecerdasan buatan (AI) sederhana, pembuatan invoice digital, katalog produk, redesain kemasan, hingga persiapan membuka peluang ekspor.
Ada pun di Nasi Gerilya, mahasiswa mengembangkan sistem digital berupa menu digital, sistem absensi, promosi digital, hingga persiapan ekspansi usaha melalui konsep waralaba. Berkat strategi pemilik UMKM dan kerjasama dari Tim Mahasiswa, Nasi Gerilya berhasil memperoleh penghargaan ‘The Rising Star dari Grab di Tingkat Nasional’ hanya dalam waktu 2 tahun sejak ekspansi ke Rumah Makan dari bisnis Sambal Gerilya.
Di Nakama Brew, tim menyusun program loyalitas pelanggan, pengendalian stok, redesain kemasan, serta menyiapkan rancangan pengembangan usaha berbasis franchise.
Partisipasi Mahasiswa dari Berbagai Perguruan Tinggi
Berdasarkan laporan program, magang diikuti 35 mahasiswa yang berasal dari Universitas Sumatera Utara, Politeknik Ganesha, Universitas HKBP Nommensen, Universitas Sari Mutiara Indonesia, Universitas Mahkota Tricom Unggul, STIE Eka Prasetya, Universitas Potensi Utama, dan Universitas Satya Terra Bhinneka.
0 Komentar