Kehadiran Ustaz Abdul Somad di Acara Meet and Greet BSI Region X Makassar
Lantai dua The Icon Beach Lounge & Cafe Center (The Icon Yasika) tampak ramai pada Senin (27/7/2026) siang. Lokasi acara berada di kluster Sunset Quay B No. 7, CitraLand City Losari, kawasan Center Point of Indonesia (CPI), Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebanyak 50 nasabah prioritas PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Region X Makassar dan jajaran pimpinan BSI Region X Makassar hadir untuk mengikuti acara Meet and Greet bersama Ustaz Abdul Somad (UAS).
UAS adalah pendakwah, ulama, dan dosen asal Indonesia yang lahir di Asahan, Sumatera Utara, pada 18 Mei 1977. Ia sangat terkenal karena ceramahnya yang lugas, jenaka, dan mudah dipahami di berbagai platform media sosial. Dalam acara ini, UAS menjadi pembicara utama.
Sebelum UAS tiba, acara dimulai dengan sambutan dari Tengku Chandra Husnadi, Deputy Funding and Transaction Business RO X BSI Makassar. Ia menyampaikan amanat dari Regional CEO BSI Region X Makassar Sukma Dwie Priardi. Sukma Dwie Priardi menekankan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi kepada nasabah atas kepercayaannya terhadap BSI Region X Makassar.
"Tentunya kepercayaan ini sebuah amanah, amanah yang terus kami jaga dengan baik," kata Tengku Chandra Husnadi mengutip pernyataan Sukma Dwie Priardi. "Dengan meningkatkan kualitas layanan, tentunya juga dengan solusi-solusi keuangan yang hadir di Bank Syariah Indonesia."
UAS hadir memberikan edukasi dan literasi keuangan syariah kepada nasabah prioritas. Ia menyampaikan rasa hormat setinggi-tingginya kepada Ustaz Abdul Somad yang telah meluangkan waktunya hari ini untuk hadir memberikan sharing dan nasihat kepada peserta.
"Mudah-mudahan majelis ini menjadi wasilah untuk bertambahnya ilmu dan tentunya rasa keimanan kita," imbuhnya. Sukma Dwie Priardi menambahkan, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi dan halal bi halal setelah rangkaian ibadah haji 2026 usai.
"Semoga kita semua mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan tentunya kita mempunyai komitmen yang sama untuk sama-sama membangun nilai ekonomi syariah di Sulawesi Selatan ini," ujar Sukma Dwie Priardi.
Setelahnya, dilanjutkan mukadimah atau pendahuluan dari Ustadz Fakhrurrazi Anshar. Ia menjelaskan bahwa UAS merupakan ulama yang sangat mendukung bank-bank syariah di Indonesia. Usai mukadimah, UAS memberikan edukasi dan literasi perbankan syariah.
UAS Dorong Hijrah Finansial

Dalam pemaparannya, UAS menjelaskan bahwa masyarakat memiliki latar belakang yang beragam. Ada yang lebih mudah menerima dakwah dari ulama dengan penampilan berjubah dan berjenggot, ada pula yang lebih dekat dengan dai berpenampilan sederhana. Karena itu, menurut UAS, pendekatan dakwah mengajak masyarakat beralih ke perbankan syariah juga harus disesuaikan dengan karakter masing-masing.
Ia mencontohkan Fakhrurrazi yang dikenal dengan jubah, jenggot, dan peci putih sebagai sosok yang dapat menjangkau kelompok masyarakat tertentu. Sementara untuk kalangan lain, ada dai dengan karakter yang berbeda sehingga setiap segmen masyarakat memiliki figur yang mereka percayai.
"Jadi tidak ada celah bagi masyarakat untuk menolak Bank Syariah," ujar UAS. Lanjut UAS, pendekatan yang sama juga diterapkan kepada para jamaah yang rajin umrah. Ia menyebut Ustadz Hasbi sebagai sosok yang dapat mengingatkan para jamaah, ibadah umrah seharusnya diikuti dengan upaya membersihkan seluruh aspek kehidupan, termasuk urusan keuangan.
Ia menyampaikan, seseorang yang telah menunaikan umrah dan berharap kembali dalam keadaan bersih dari dosa juga perlu memastikan dana yang dimilikinya tidak lagi tersimpan di bank konvensional.
"Untuk apa umrah sudah bersih dari segala dosa, tapi masih makan riba? Maka harus bersih. Solusinya beralih ke Bank Syariah," kata UAS.
Selain menyasar kalangan kampus, dai, dan jamaah umrah, UAS juga menilai nasabah prioritas memiliki peran besar dalam memperkenalkan layanan perbankan syariah kepada masyarakat. Menurutnya, para nasabah prioritas bukan hanya menyimpan dana di bank syariah, melainkan juga dapat menjadi duta yang menceritakan pengalaman mereka kepada orang lain.
"Orang pasti akan bertanya dari mulut ke mulut bagaimana menjadi nasabah Bank Syariah," kata UAS. "Mereka yang sudah merasakan manfaatnya akan menjadi bintang iklan terbaik," imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, UAS juga kembali menegaskan pandangannya mengenai riba. Ia mengutip sejumlah hadis dan pendapat ulama yang menjelaskan, makanan, minuman, pakaian, maupun harta yang berasal dari sesuatu yang haram dapat memengaruhi diterimanya doa seseorang.
"Gara-gara setetes darah haram masuk ke jantung, naik ke otak, lalu otak memerintahkan mata, tangan, dan anggota tubuh lainnya melakukan keburukan. Gara-gara haram, gara-gara riba," kata UAS.
Karena itu, UAS kembali mengajak masyarakat untuk beralih ke Bank Syariah Indonesia sebagai solusi menghindari praktik riba.
Pada bagian akhir ceramahnya, UAS mengatakan, gerakan mengajak masyarakat beralih ke bank syariah harus melibatkan seluruh unsur masyarakat. Menurutnya, unsur kampus, ulama, imam masjid, penyelenggara perjalanan umrah, lembaga filantropi atau sosial, hingga para pemangku kebijakan memiliki peran masing-masing dalam menyosialisasikan ekonomi syariah.
"Jadi tidak ada lagi alasan. Semua lima unsur sudah ada," kata UAS. "Kampus ada, imam masjid ada, travel umrah ada, filantropi ada, ditambah lagi orang-orang yang memiliki kewenangan," jelasnya.
0 Komentar