Kemitraan Coda dan EKRAF untuk Membangun Ekosistem Gim Indonesia yang Kompetitif

Coda, sebuah perusahaan global dalam perdagangan digital, dan EKRAF (Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif) Indonesia baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman. Perjanjian ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem gim di Indonesia dengan memperkuat infrastruktur monetisasi, memperluas jaringan, serta memberikan akses ke pasar internasional. Dengan kerja sama ini, para pengembang gim digital Indonesia diharapkan dapat bersaing di tingkat global.
Melalui kemitraan ini, Coda dan EKRAF berkomitmen untuk menyediakan pengetahuan, perangkat komersial, serta kapabilitas bisnis bagi para pengembang gim lokal. Tujuannya adalah tidak hanya mendorong perluasan skala usaha mereka ke pasar global, tetapi juga memastikan bahwa mereka mampu bersaing di sana. Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kolaborasi sebelumnya, termasuk program peningkatan kapasitas bagi lebih dari 70 pengembang gim lokal melalui ajang Global Game Jam Pre-Workshop di Jakarta.
Coda, yang dikenal sebagai pemimpin global dalam perdagangan digital, sebelumnya telah memberikan akses ke pasar mancanegara bagi berbagai gim Indonesia melalui Codashop—sebuah lokapasar Coda untuk pembelian konten dalam gim dan konten digital. Shane Happach, CEO Coda, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki komunitas pengembang gim yang dinamis dengan pertumbuhan luar biasa. Meski talenta kreatif tersedia secara melimpah, membangun bisnis gim yang sukses membutuhkan akses terhadap infrastruktur, jejaring, dan peluang komersial yang tepat.
“Melalui kemitraan dengan EKRAF, kami ingin mendampingi lebih banyak pengembang dalam perjalanan tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Coda didirikan di Indonesia dan tetap berkomitmen penuh terhadap ekonomi digital dan kreatif di negara ini. “Kami bangga dapat bermitra dengan EKRAF untuk mendukung generasi penerus pengembang Indonesia dalam membangun bisnis yang berdaya saing global dan meraih kesuksesan di pasar internasional.”
Berdasarkan data Niko Partners, industri gim Indonesia mencatat pendapatan lebih dari US$1,1 miliar pada tahun 2025 dan diproyeksikan mencapai US$1,5 miliar pada tahun 2030. Namun, perubahan perilaku konsumen turut mewarnai pertumbuhan tersebut. Coda menambahkan bahwa melalui kolaborasi dengan EKRAF, mereka berupaya memfasilitasi para pengembang Indonesia agar bisa memanfaatkan peluang-peluang ini.
Secara keseluruhan kawasan Asia Tenggara, sekitar 38% pendapatan gim mobile kini berasal dari metode pembayaran di luar aplikasi, meningkat signifikan dari 21% pada dua tahun sebelumnya. Selain itu, 55% pemain gim mobile di Asia Tenggara menggunakan dompet digital untuk bertransaksi, sedangkan hampir 25% memanfaatkan pembayaran melalui operator seluler (memotong pulsa).
Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, menyatakan bahwa kolaborasi antara Coda, EKRAF, dan para pengembang gim di Indonesia bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman di atas kertas. Ini adalah langkah formal yang menunjukkan keseriusan dan komitmen Pemerintah dan sektor industri seperti Coda.
“Bagi semua pengembang gim di sini, Indonesia bukan hanya negeri penuh berbasis pemain gim yang besar atau target pasar yang hebat. Melalui penguatan ekosistem ini, kita ingin membuktikan bahwa kita tidak hanya mampu memenangi kejuaran dunia sebagai pemain, tetapi juga menguasai pasar global sebagai kreator yang hebat,” tegas Irene.
Selain mendukung para pengembang gim, Coda dan EKRAF mengeklaim akan terus mendorong literasi digital dan ruang bermain gim daring yang lebih aman. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah kampanye Guard Your Game, yang bertujuan mengedukasi para pemain gim agar bisa mengenali dan menghindari berbagai modus penipuan daring.
0 Komentar