Harapan Besar dari Pesantren BIMA untuk Indonesia Emas 2045

Dari sebuah pesantren di Kota Cirebon, harapan besar untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 kembali digaungkan. Di tengah momentum penting ini, Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, memberikan pesan penting kepada para santri yang akan menjadi pemimpin bangsa di era bonus demografi.

Cak Imin menyampaikan pesannya saat menghadiri Wisuda Kelas XII SMA dan MA Unggulan Bertaraf Internasional serta SMK Unggulan Pesantren BIMA, Cirebon. Ia menekankan tiga bekal utama yang wajib dimiliki oleh santri masa depan agar mampu menjadi pemimpin bangsa. Tiga hal tersebut adalah memiliki skill dan kemampuan, integritas, serta taat asas terhadap ilmu pengetahuan.

Menurutnya, Indonesia saat ini sedang memasuki fase penting yang akan menentukan arah pembangunan bangsa beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, generasi muda, khususnya para santri, harus mempersiapkan diri dengan kemampuan yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Santri harus memenuhi tiga syarat. Pertama memiliki skill dan kemampuan. Kedua memiliki integritas. Ketiga taat asas terhadap ilmu pengetahuan," ujar Cak Imin dalam kesempatan tersebut.

Ia optimistis bahwa lulusan pesantren akan menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 apabila mampu menggabungkan kecakapan, karakter, dan semangat belajar yang kuat. Dalam kesempatan tersebut, Cak Imin juga mengingatkan para wisudawan bahwa bonus demografi yang saat ini dinikmati Indonesia akan berada di tangan mereka dalam beberapa tahun mendatang.

"Kalau sekarang kalian lulus, berarti tahun 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA tahun 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian," ucapnya, disambut tepuk tangan para hadirin.

Visi Pesantren BIMA yang Visioner

Sebelumnya, Cak Imin mengaku terkesan dengan perkembangan Pesantren BIMA yang dinilainya memiliki konsep pendidikan yang visioner dan mampu menjawab tantangan zaman. Bahkan, perkenalannya dengan Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, berawal dari media sosial.

"Saya kenal beliau bukan langsung bertemu, tetapi lewat Instagram. Saya melihat ada pesantren yang unik, bangunannya bagus, suasananya luar biasa," jelas dia.

Rasa penasaran itu membuatnya mencari informasi lebih jauh tentang pesantren tersebut. Ia bahkan sempat meminta pendapat tokoh Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj.

"Saya sempat bertanya kepada Kiai Said Aqil Siradj, dan beliau mengatakan memang pesantren ini luar biasa. Akhirnya saya beberapa kali sowan ke BIMA dan semakin yakin bahwa pesantren ini memiliki visi, tahapan, dan model pendidikan yang sangat jelas," katanya.

Target yang Tercapai Lebih Cepat

Menurut Cak Imin, keberhasilan para lulusan BIMA saat ini menjadi bukti bahwa konsep pendidikan yang dirancang sejak awal telah berjalan sesuai tujuan. "Ini menunjukkan bahwa Kiai Imam Jazuli sejak awal memiliki konsep, arah, dan tujuan yang jelas. Apa pun program studi yang dipilih para santri, kalau fondasinya kuat, insyaallah akan berhasil sesuai tahapannya," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, pernah berdiskusi langsung dengan KH Imam Jazuli mengenai kurikulum pesantren yang efektif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. "Saya pernah bertanya kepada beliau, apakah pengalaman belajar puluhan tahun di Lirboyo bisa dipadatkan menjadi beberapa tahun. Beliau menjawab sangat bisa. Karena itu kurikulum yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan dan tantangan zaman," ucap Cak Imin.

Kesiapan Generasi Muda untuk Masa Depan

Sementara itu, Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, menyampaikan rasa syukur atas capaian para santri yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ia mengungkapkan target pesantren untuk melahirkan 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di perguruan tinggi negeri diperkirakan akan tercapai lebih cepat dari rencana awal.

"Target kami tahun 2028 harus ada 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di PTN nasional. Namun melihat perkembangan saat ini, insyaallah target tersebut akan tercapai pada tahun 2027," jelas KH Imam Jazuli.

Menurutnya, tahun ini sebanyak 175 santri akan melanjutkan pendidikan ke berbagai negara, seperti Rusia, Tiongkok, Tunisia, dan sejumlah negara di Timur Tengah. Selain itu, 99 santri diterima di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia dengan mayoritas memilih program studi umum.

KH Imam Jazuli menegaskan, pesantren modern harus mampu mencetak generasi yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga menguasai berbagai bidang strategis yang dibutuhkan bangsa. "Dari 13 santri yang berangkat ke Tunisia, hanya dua orang yang mengambil bidang agama. Selebihnya mengambil bidang-bidang umum," katanya.

Bahkan, sejumlah santri memilih jurusan yang berkaitan dengan kebutuhan strategis nasional, seperti pertambangan dan teknologi pertahanan. "Ada yang berangkat ke Rusia mengambil jurusan pertambangan dan teknologi persenjataan. Mengapa pertambangan? Karena Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola tambang," ujarnya.

Ia menilai kebutuhan sumber daya manusia unggul di berbagai sektor harus mulai dipersiapkan sejak sekarang agar Indonesia mampu bersaing dan mandiri di masa depan. Di akhir sambutannya, KH Imam Jazuli menegaskan bahwa pesantren harus menjadi bagian dari solusi pembangunan bangsa. "Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama, bukan sekadar mencetak santri yang saleh, tetapi juga mencetak santri yang bermanfaat, membangun negeri, dan menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara," ucap Imam.