Sejarah dan Tradisi Batik Tulis di Desa Girilayu
Desa Girilayu, yang terletak di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, memiliki keunikan yang menarik. Di balik udara pegunungan yang sejuk, desa ini menyimpan jejak sejarah panjang sekaligus tradisi batik tulis yang terus bertahan lintas generasi. Perjalanan menuju Girilayu memerlukan waktu sekitar satu jam dari pusat Kota Solo. Jalan berkelok sepanjang kurang lebih 34 kilometer membawa pengunjung meninggalkan hiruk-pikuk perkotaan, memasuki kawasan yang sejak lama dikenal sebagai ruang pertemuan sejarah, budaya, dan tradisi Jawa.
Nama Girilayu tak dapat dilepaskan dari dua kompleks pemakaman bersejarah yang berdiri berdampingan, yakni Astana Mangadeg dan Astana Giribangun. Keberadaan keduanya menjadikan desa ini bukan sekadar tujuan wisata religi, tetapi juga penjaga memori perjalanan bangsa dari masa kerajaan hingga Indonesia modern. Astana Mangadeg merupakan tempat peristirahatan terakhir Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa, sosok pendiri Pura Mangkunegaran yang dikenang sebagai pemimpin perlawanan terhadap kolonialisme pada masa Mataram Islam.
Di kompleks yang sama, dimakamkan pula Mangkunegara II, Mangkunegara III, beserta sejumlah anggota keluarga besar Mangkunegaran, mempertegas posisi kawasan tersebut sebagai bagian penting dari sejarah dinasti Jawa. Tak jauh dari sana berdiri Astana Giribangun, kompleks pemakaman keluarga Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, bersama Ibu Tien Soeharto. Kehadiran dua situs bersejarah itu membuat Girilayu menjadi desa yang memelihara jejak dua zaman dalam satu kawasan.
Batik Tulis yang Tetap Hidup
Di tengah suasana yang sarat nilai sejarah itulah batik tulis tetap hidup. Kain-kain bermotif khas lahir dari tangan para perajin yang menjaga tradisi membatik sebagaimana diwariskan para pendahulunya. Salah satu di antaranya adalah Partinah (58), generasi keempat keluarga pembatik Girilayu. Sejak kecil ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan canting, malam, dan lembaran kain putih yang perlahan berubah menjadi karya bernilai seni tinggi.
Tradisi membatik di keluarganya telah berlangsung sejak era berdirinya Mangkunegaran sekitar 1775. Warisan keterampilan tersebut terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa. Dari tangan Partinah lahir Giri Wastra Pura, usaha batik tulis yang bukan sekadar menjadi sumber penghidupan keluarga, melainkan juga ikhtiar menjaga tradisi agar tidak tergerus perubahan zaman.

Motif Batik yang Berakar pada Sejarah
Keistimewaan Giri Wastra Pura terletak pada ragam motif yang berakar kuat pada sejarah dan identitas Girilayu. Satu di antaranya yang paling dikenal ialah motif Tugu Tri Dharma, terinspirasi dari monumen yang berdiri di kawasan dua kompleks makam bersejarah tersebut. Bagi Partinah, Tugu Tri Dharma bukan hanya elemen visual yang dituangkan ke atas kain. Motif itu menjadi simbol pengabdian, persatuan, sekaligus nilai-nilai luhur yang diyakini terus menghubungkan warisan Pangeran Sambernyawa dengan perjalanan bangsa pada masa Presiden Soeharto.
"Muncul pula motif-motif batik lain seiring perkembangan batik kontemporer, tentu motif batik klasik seperti Wahyu Tumurun, Gringsing, Sido Luhur, Parang hingga Truntum juga masih dilestarikan," ujarnya mengawali perbincangan dengan Tribunnews pada Sabtu (20/6/2026). Motif-motif batik lainnya juga merefleksikan alam sekitar dan nilai luhur budaya Jawa. Semuanya dikerjakan dengan teknik tulis manual yang memerlukan kesabaran dan ketelitian tinggi.

Pemasaran dan Adaptasi Digital
Dari galeri batik Giri Wastra Pura, Partinah menunjukkan sehelai kain batik yang mencapai 2,6 meter panjangnya, dengan lebar antara 1,2 hingga 1,5 meter. Cukup luas untuk menjadi bahan pakaian maupun pajangan artistik. Harga kain bervariasi tergantung kompleksitas motif dan proses pengerjaan, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta untuk batik mentahan yang belum diwarnai. Sedangkan batik yang sudah melalui proses pewarnaan lengkap, seringkali dengan teknik pewarnaan alamiah, dibanderol mulai dari Rp 1,5 juta hingga lebih. Mewarnai selembar batik bukanlah pekerjaan sehari dua hari, prosesnya bisa memakan waktu empat bulan bahkan enam bulan jika musim hujan memperlambat pengeringan.
Meski berada di desa kecil, pemasaran batik ini tak sebatas pada area lokal. Partinah memasarkan produknya langsung dari rumahnya di Dukuh Wetankali, tapi juga bekerja sama dengan beberapa lokasi strategis seperti Hotel Nava dan Rumah Atsiri di kawasan wisata Tawangmangu. Dari titik-titik itu, batik Giri Wastra Pura mengalir ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, hingga melintasi pulau ke Sumatra dan Kalimantan.
Adaptasi Dunia Digital
Kini, Giri Wastra Pura juga mulai beradaptasi dengan dunia digital. Partinah mengelola akun Instagram dan sudah membuka opsi pembayaran non-tunai menggunakan QRIS, menyesuaikan dengan kebiasaan belanja masyarakat masa kini. Tak sedikit para pembeli yang membawa pulang produk batik Giri Wastra Pura membayarnya dengan QRIS. Selain praktis, QRIS bermanfaat untuk transaksi pembayaran dengan nominal besar seperti jutaan rupiah ke atas. Pembeli atau pengunjung toko dan galeri Partinah tak perlu membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Melainkan cukup dengan memindai kode batang atau barcode dalam papan yang sudah disediakan. Transaksi pembayaran selesai dengan QRIS.
"QRIS ini meminimalisir resiko-resiko ya, pembeli tak perlu bawa uang tunai, cukup pakai QRIS lunas selesai," beber Partinah. Sementara, Giri Wastra Pura juga menerima pesanan baju batik yang kerap dijadikan suvenir resmi oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar, selain menjual kain batik lembaran. Baju-baju batik tersebut dikemas dalam kotak eksklusif, mencerminkan nilai budaya yang dibalut estetika modern.
Eduwisata dan Pelatihan
Selain batik tulis, Giri Wastra Pura juga terbuka untuk menerima pesanan batik printing, meski pengerjaannya dilakukan lewat kemitraan dengan pelaku usaha lain. Usaha ini bukan semata produksi dan penjualan, melainkan juga ruang belajar dan pelestarian budaya. Pengunjung yang datang tidak hanya bisa membeli batik, tapi juga merasakan pengalaman membatik secara langsung, sebuah bentuk eduwisata yang mulai menarik banyak wisatawan. Bekerja sama dengan Hotel Nava dan Rumah Atsiri, Partinah membuka ruang praktik membatik bagi tamu-tamu yang ingin menyentuh langsung proses penciptaan karya batik. Tak jarang pula, Partinah diundang sebagai narasumber pelatihan membatik, baik di dalam maupun luar Pulau Jawa.
Pada Agustus 2022, ia menghabiskan hampir sepuluh hari di Sulawesi Selatan, memberi pelatihan intensif di dua kota sekaligus yaitu Makassar dan Pare-pare. "Selama sembilan hari penuh kami pelatihan, antusiasme peserta luar biasa," kenangnya. Karya Ibu Rumah Tangga Partinah tak hanya membatik untuk dirinya sendiri, ia menggandeng tangan-tangan terampil di sekitarnya, membentuk sebuah komunitas pembatik yang ia beri nama Giri Wastra Pura atau GWP. Bukan sekadar kelompok kerja, GWP adalah rumah bagi 24 perempuan, mayoritas ibu rumah tangga, yang bersama-sama menjaga nyala warisan batik tulis agar tak padam ditelan zaman. Kelompok ini merupakan satu dari 12 komunitas pembatik yang kini tumbuh di Desa Girilayu, desa batik yang mekar di bawah bayang-bayang Gunung Lawu.
0 Komentar