Dari Sampah ke Berkah, Kisah Sukses Om Jati Budidaya Jamur Tiram

Kehidupan di Omah Jamur Tiram (Om Jati) yang Berubah

Pada hari Rabu, 1 April 2026, suasana kumbung Omah Jamur Tiram (Om Jati) di Dukuh Banyuanyar, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tampak berbeda. Bangunan budidaya jamur tiram yang biasanya tenang dengan pencahayaan temaram itu mendadak ramai. Sebanyak 50 peserta Program Local Hero binaan PT PLN Power Unit Pembangkitan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, memenuhi area kumbung untuk belajar langsung.

Mereka datang bukan sekadar melihat proses budidaya jamur tiram, melainkan menggali rahasia di balik keberhasilan Desa Banyuanyar mengembangkan desa wisata edukasi berbasis pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Antusiasme peserta terlihat sejak memasuki kumbung. Mereka menyimak setiap tahapan budidaya, mulai dari pembuatan baglog sebagai media tanam jamur, proses perawatan, hingga strategi pemasaran hasil panen.

Awal Mula Budidaya Jamur Tiram

Penanggung jawab kumbung Om Jati, Hartono, menjelaskan bahwa budidaya jamur tiram di Dukuh Banyuanyar berawal dari gagasan Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, untuk membangun desa wisata pada 2018. Semula jamur tiram belum menjadi pilihan utama. Warga Dukuh Banyuanyar sempat diarahkan mengembangkan usaha pengolahan susu menjadi yogurt. Sayangnya, program tersebut hanya bertahan sekitar satu bulan karena terkendala keterbatasan sumber daya manusia dan ketatnya persaingan pasar.

"Mayoritas masyarakat kami bekerja sebagai petani, peternak, dan sebagian menjadi pekerja pabrik. Waktunya banyak dihabiskan di luar rumah, sedangkan mengolah yogurt harus ada orang yang standby di situ," kata Hartono. Berangkat dari kendala tersebut, warga kemudian membahasnya dalam pertemuan tingkat RT. Hasil musyawarah memutuskan untuk mengalihkan usaha dari produksi yogurt ke budidaya jamur tiram.

Anggota kelompok beranggapan budidaya jamur tiram lebih cocok dengan kondisi masyarakat setempat karena perawatannya relatif mudah dan tidak memerlukan perhatian secara terus-menerus. Padahal kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Ternyata 15 orang yang tergabung dalam Kelompok Rukun Tani 01 tidak ada satu pun yang memiliki pengalaman menanam jamur.

Tidak menyerah, Hartono dan rekan-rekannya belajar budidaya jamur tiram di desa lain, tepatnya di Desa Ngargosari, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. "Kita belajar perawatannya, terus nanti pas panennya seperti apa, pemasarannya bagaimana. Setelah mantap langsung kita bentuk kepengurusan Om Jati,” kenangnya.

Limbah Menjadi Berkah

Sebanyak 1.000 baglog dibeli Kelompok Rukun Tani 01 sebagai uji coba pertama. Dua minggu berjalan, ternyata hasil panen jamur tiram memuaskan. Hartono melanjutkan, tidak ada kendala modal pada awal perintisan karena Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Banyuanyar memberikan stimulus untuk mendorong budidaya jamur berkembang.

Jauh sebelum deretan kumbung jamur berdiri, Dukuh Banyuanyar telah lebih dulu dikenal sebagai sentra penggergajian kayu sengon. Aktivitas tersebut menghasilkan limbah serbuk kayu dalam jumlah besar yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan bagi warga. Melihat kondisi itu, anggota Om Jati justru menangkap peluang. Serbuk kayu yang sebelumnya dianggap limbah mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan baglog, media tanam jamur tiram. Inovasi tersebut tak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga menekan biaya produksi. Dulu, Om Jati harus membeli baglog seharga Rp2.500 per buah.

“Kita akhirnya mulai merintis untuk produksi baglog. Dan alhamdulillah, setelah dihitung-hitung kalau beli baglog sama produk sendiri harganya lebih hemat kalau kita produksi sendiri,” urai Hartono.

Perlahan namun pasti, usaha yang dirintis Om Jati terus berkembang. Kini, kapasitas kumbung Om Jati mencapai 8.000 baglog dengan hasil panen sekitar 270–290 kilogram jamur tiram per bulan. "Kami menerapkan sistem sambung, sehingga panen bisa dilakukan setiap hari. Omzetnya berkisar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan," ujar Hartono.

Menariknya, Om Jati Tak Lagi Kesulitan Memasarkan Hasil Panen

Menariknya, Om Jati tak lagi kesulitan memasarkan hasil panen. Mereka telah memiliki pelanggan tetap yang rutin membeli jamur tiram, baik untuk dijual kembali maupun diolah menjadi berbagai produk pangan. Tantangan yang kini dihadapi bukan lagi mencari pembeli, melainkan memenuhi tingginya permintaan pasar. Bisnis yang dulu dirintis dari nol justru kini kewalahan mengejar kebutuhan pelanggan.

"Sekarang fokus kami memperbanyak produksi. Permintaan terus datang, tetapi kami belum bisa memenuhi semuanya," tegas Hartono.

Ikut Terkenal Berkat Desa BRILiaN

Perjuangan Om Jati bersama 17 UMKM lainnya di Desa Banyuanyar mengembangkan potensi desa pada akhirnya berbuah manis. Desa Banyuanyar masuk daftar 15 desa terbaik se-Indonesia dengan meraih juara Desa BRILiaN di 2024. Gelar ini membuat desa semakin sering dikunjungi berbagai instansi dari berbagai daerah. Setiap bulan, desa itu rutin dikunjungi rombongan tamu sampai lima kali. Dari aktivitas wisata tersebut, budidaya jamur tiram Om Jati semakin terkenal.

“Alhamdulillah mulai dikenal banyak orang. Dulu mungkin jamur diremehkan. Padahal budidaya jamur itu enggak segampang yang dibayangkan,” tandas Hartono. Dihubungi terpisah, Ketua Om Jati, Wahyu berharap, produksi jamur tidak hanya hasil mentah. Namun, juga bisa dibuat menjadi produk turunan seperti keripik jamur.

Ia turut mengakui, produksi yang masih terbatas, membuat hasil panen habis untuk memenuhi permintaan pasar. “Rencana pengembangan produk pasti ada. Nanti setelah kita berhasil memenuhi permintaan, akan kita kembangkan ke olahan keripik jamur berbagai rasa,” jelasnya. Dalam kesempatan itu, Wahyu berharap dengan disandangnya gelar Desa BRILiaN, bisa menjadi motivasi UMKM-UMKM Desa Banyuanyar semakin berkembang dan mandiri.

4 Pilar Desa BRILiaN

Sementara itu, Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin menambahkan, UMKM menjadi ujung tombak saat mendirikan Desa Wisata Edukasi pada Kamis (27/10/2022). "Kami bangun dulu kampung-kampung UMKM sejak 2018. Diawali kampung kopi, kampung jahe, dan kampung susu yang potensinya sudah ada sejak zaman Belanda," katanya. Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kabupaten Boyolali ini melanjutkan, dari tiga komoditas itulah fondasi Desa Banyuanyar mengembangkan wisata berbasis agro-eco-edu tourism. Kini, sudah ada total 18 kampung UMKM unggulan yang tersebar di 9 dukuh.

"Pondasi utama adalah kampung-kampung UMKM. Ketika UMKM itu jalan, maka wisata jalan,” katanya mantap. Semangat memberdayakan UMKM sejalan dengan tujuan program Desa BRILiaN. Hal ini disampaikan Social Entrepreneurship & Incubation Division Head PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Evi Sulistiawati. Sasaran pemberdayaan Program Desa BRILiaN tidak hanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), tetapi juga pelaku UMKM di desa.

"Mereka adalah penggiat produk unggulan, kita menyebutnya Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan)," kata Evi dalam keterangannya. Sementara terkait pemberdayaan Desa BRILiaN, mencakup empat pilar. Pertama, ada BUMDes dan Koperasi Desa jadi motor penggerak ekonomi desa. Kedua, digitalisasi yang merupakan implementasi produk dan aktivitas digital di desa. Ketiga, sustainability atau keberlanjutan dalam membangun desa. Dan keempat, kreatif dalam menciptakan inovasi desa.

"Program Desa BRILiaN hadir untuk mendukung Asta Cita pemerintahan yang menekankan pembangunan dari desa mencapai pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan," kata Evi. Sejak diluncurkan pada 2020, sudah ada 5.245 Desa BRILiaN yang berkomitmen maju dengan program-programnya. Pada tahun 2026 ini, BRI menargetkan akan lahir lagi 1.000 peserta Desa BRILiaN di penjuru Indonesia.

"Semoga pelaksanaan program Desa BRILiaN mampu memberikan kontribusi nyata dan positif bagi kebangkitan ekonomi masyarakat desa," tutupnya.

0 Komentar