
Ini adalah kisah tentang Diaz, seorang pendaki asal Jakarta yang meninggal dunia di Gunung Semeru. Cerita ini diceritakan oleh Djoko, rekan sependakianya kepada Majalah HAI.
Penulis: Djoko, tayang di Majalah HAI edisi Maret 1983 dengan judul "Kabar Duka dari Puncak Semeru"
Perjalanan Pendakian yang Mengubah Segalanya
Pagi itu, udara di Puncak Mahameru (3676 m) terasa cerah dan tenang. Puncak Gunung Semeru, yang menjadi puncak tertinggi di Pulau Jawa, berdiri megah menghadap langit. Tidak ada kabut yang mengganggu ketenangan pagi itu. Matahari menyinari pucuk pinus, sementara angin berhembus perlahan menggoyangkan daunnya. Binatang-binatang hutan juga tampak bersiap menyambut hari baru.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Di daerah kerucut Mahameru, seorang pendaki sedang menghadapi saat-saat terakhir dalam hidupnya. Ia tidak tersesat, tidak terjebak gas beracun, atau jatuh ke jurang. Sebuah batu besar yang melebihi kepalanya menimpa tepat di pelipis kanannya. Darah mengalir deras dari mulut, hidung, dan telinganya. Luka di kepalanya membuatnya tidak sadarkan diri.
Beberapa pendaki lain mencoba membantu, namun tampaknya sudah terlalu terlambat.
Peristiwa ini dimulai dari keinginan untuk mendaki Mahameru, sebuah tujuan yang telah lama mereka impikan. Setelah berhasil mencapai puncak Gunung Slamet (3474 m), mereka merasa yakin bahwa mereka bisa mewujudkan impian tersebut. Doa restu dari orang tua dan teman-teman menjadi bekal tambahan untuk perjalanan mereka.
Pada pertengahan 1982, mereka meninggalkan Jakarta dengan kereta api ke Stasiun Balapan, Solo, Jawa Tengah. Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan ke Blitar dan Malang. Setelah beberapa hari di perjalanan, akhirnya mereka tiba di Malang.
Colt mengantarkan mereka ke Gubuk Klakah melalui Tumpang. Mereka bermalam di rumah Pak Tugas, seorang petunjuk jalan yang akan memandu mereka.
Pukul 5.00, mereka meninggalkan Gubuk Klakah menuju Desa Ranupane, desa terakhir di kaki Gunung Semeru. Pukul 7.30, mereka tiba di Pondok Pecinta Alam Ranupane. Setelah sarapan dan beristirahat, pukul 11.05 WIB, mereka melanjutkan perjalanan ke Arcapada.
Melalui kebun penduduk, semak belukar, dan hutan liar, mereka sampai di Bukit Ayek Ayek pada pukul 14.00. Di sini, mereka beristirahat di dekat Monumen Young Pioneer, tempat dua pendaki dari Malang meninggal pada pendakian musim hujan.
Mereka bertemu dengan tiga pendaki dari Lumajang yang telah tiba di Mahameru kemarin sore. Setelah cukup lama beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan.
Pukul 16.00, mereka sampai di Danau Ranu Kumbolo. Di sini, mereka mengisi jerigen dan velves dengan air karena Ranu Kumbolo merupakan sumber air terakhir.
Pukul 19.15, setelah beristirahat dan makan, mereka meninggalkan Ranu Kumbolo. Dengan lentera dan senter, mereka berjalan di bawah langit gelap, berharap tiba di Arcapada sebelum malam berakhir.
Pukul 00.20, mereka tiba di Gubug Seng (di Kalimati). Di sini, beberapa rombongan pendaki telah tiba, termasuk rombongan Sispena dari SMA I Jember. Akhirnya, pada pukul 02.00, mereka tiba di Arcapada.
Mereka mendirikan tenda dan membuat api unggun. Meskipun udara dingin (4ºC), mereka akhirnya tertidur.
Pukul 05.30, mereka bersiap-siap untuk berangkat ke puncak. Ketika akan berdoa bersama, ternyata salah seorang dari mereka, Diaz, sudah tidak ada.
Mereka pikir dia masih tidur di tenda. Ternyata, dia tidak ada. Mungkin dia sudah berjalan lebih dulu bersama rombongan yang berangkat lebih awal, yaitu Sispena.
Setelah selesai berdoa, mereka melanjutkan pendakian. Petunjuk jalan hanya mengantarkan sampai di sini.
Di daerah berbatu yang merupakan batas hutan, mereka bertemu Diaz. Rupanya dia telah berjalan lebih dahulu. Mereka mengomelinya karena tindakannya yang terburu-buru. Setelah foto bersama, pendakian dilanjutkan, sementara Diaz tetap berada di depan.
Satu jam dalam pendakian, mereka melewati daerah berpasir dan berbatu, dan Diaz semakin jauh dari mereka. Ia berbaur dengan rombongan pendaki lain di atas.
Aku salut akan kekuatannya, ambisinya yang besar seperti memberinya kekuatan. Aku yakin dia akan menjadi orang pertama dari kami yang mencapai Puncak Mahameru.
Sementara Diaz berada paling atas, di bawahnya Hadi, Budi, Toto, aku, dan Ruby (satu-satunya cewek yang ikut dalam pendakian ini). Ruby juga sangat antusias untuk mencapai puncak, walaupun kulihat keadaannya kurang meyakinkan. Dia beberapa kali melangkah kemudian berhenti dan istirahat.
Kami memaklumi dan dengan sabar menunggunya. Sekali-kali kami menggodanya, roti kami lambai-lambaikan kepadanya agar dia berjalan kembali. Jika dia bangkit dan berusaha mengambil roti itu, kami pun berjalan menjauhinya. Jika sudah begini maka cemberutlah mukanya dan meledaklah tawa kami.
Entah karena apa tiba-tiba aku ingin mendaki lebih cepat. Aku bangkit dan berjalan, Toto, Budi berhasil kulampaui. Hadi pun demikian.
Bendera yang sejak pendakian kubawa, aku kibarkan untuk memberi semangat kepada teman-temanku di bawah. Ketika aku melewati batu besar, kulihat seorang berkaos biru dan berjaket hijau tertidur di atasnya. Mungkin dia terlalu lelah.
Tampaknya mirip seperti Diaz. Tapi aku ragu, sebab sejak awal pendakian dia tidak memakai kaos biru. Keraguanku bertambah karena kupikir dia telah sampai di puncak. Akupun tak menegur dan membiarkannya tertidur.
Aku meneruskan pendakian, karena daerah yang kulalui semakin berpasir. Aku memotong jalan, melewati aliran air yang agak berbatu.
Kupikir melalui jalan ini pendakian akan lebih cepat. Jarak aku dengan rekan-rekan semakin jauh. Di sebuah batu besar aku beristirahat, mungkin karena lelah hingga aku sempat tertidur. Tiba-tiba aku terbangun mendengar teriakan dari atas.
Kulihat ke atas, beberapa batu berguling saling berpacu. Debu tebal mengekor di belakangnya, sempat terpana aku dibuatnya.
Segera aku sadar, kukibarkan bendera untuk memberitahukan teman-temanku di bawah sambil berteriak: "Batu runtuh! Batu runtuh!"
Mendengar teriakanku, mereka bersiap-siap untuk menghindar. Tetapi pendaki yang tadi tertidur tetap saja tertidur. Batu-batu yang jatuh semakin dekat, sekarang batu itu telah melewatiku kira-kira delapan meter di sampingku.
Batu-batu yang jatuh semakin deras meluncur. Kulihat Toto jaraknya paling dekat dengan pendaki yang tertidur itu, kuharap dia membangunkan pendaki itu dan memperingatkan akan adanya bahaya.
Kutengok ke atas ternyata keadaannya sudah aman, tak ada lagi batu yang jatuh. Hatiku lega. Kutengok ke bawah, apakah keadaannya sudah aman. Kulihat Toto memeluk pendaki yang tertidur itu, ada apa dengannya?
Aku heran. Belum rasa heranku hilang, terdengar teriakan Toto.
"Djoko turun!"
Bertambah lagi heranku, sehingga aku bergerak menghampirinya. Setelah dekat, kulihat Toto menangis, dan berseru:
"Djoko, lihat Diaz! Kepalanya berdarah!"
Seperti disambar petir aku mendengarnya, ternyata pendaki yang tertidur itu adalah Diaz yang aku kira telah sampai di puncak. Sekarang dia tergeletak tak berdaya di pangkuan Toto.
Salah satu batu yang jatuh telah menimpa tepat dipelipis kanannya. Darah mengalir dari luka di kepala, hidung dan mulut, serta telinganya, membasahi jaketnya.
Toto yang memeluknya tak luput terkena darah. Kucoba bendera yang kubawa kemudian kulilitkan pada kepala Diaz. Berdua kami berusaha menyadarkannya, tak juga dia sadar.
Rupanya hantaman batu itu sangat keras. Kami semakin panik karena setiap desah napasnya disertai bunyi ngorok (rupanya pendarahan dari hidung dan mulut menghambat pernapasannya). Sementara Budi, Ruby, dan Hadi yang berhasil menghindarkan diri berlari ke arah kami.
Mereka pun kemudian menangis. Dan kami pun hanyut dalam tangis yang mengharukan. Budi kemudian meraba luka di kepala Diaz, Budi merasakan kepala Diaz terasa lembek (tapi dia tak memberitahukan pada kami).
Budi kemudian berdoa setiap Diaz melakukan gerakkan. Rupanya Budi mengetahui bahwa Diaz sudah tak ada harapan untuk hidup.
Budi sebagai pemimpin berusaha menenangkan kami, lalu dia menyuruhku turun ke Arcapada untuk memberitahukan kejadian ini kepada Pak Tugas. Kemudian aku berlari turun, beberapa kali aku jatuh bangun. Tiga pendaki di bawah yang melihatku seperti kesetanan berusaha mencegah dan menenangkanku.
Lalu mereka menanyakanku apa yang terjadi. Dengan suara yang tersendat-sendat aku ceritakan kejadian tadi.
Dua orang dari mereka kemudian berlari ke atas, sedangkan yang seorang lagi menemaniku turun. Sementara aku turun, Diaz oleh teman-temanku dibawa ke tempat yang lebih aman.
Karena medan yang sulit, Diaz dibawa dengan cara diletakkan di atas badan Toto dan Budi, lalu Ruby dan Hadi menyeret kaki mereka berdua. Hal ini mengakibatkan celana mereka robek tak keruan, pantat mereka memerah dan terasa perih.
Sampai daerah batas hutan dan daerah berbatu, Diaz diletakkan di tanah. Kembali teman-temanku kebingungan. Apa yang harus mereka perbuat?
Kemudian pendaki-pendaki lain datang membantu. Rekan-rekan dari Sispena yang sebagian anggotanya telah sampai ke puncak turut pula membantu.
Terasa benar kehadiran mereka bagi kami saat itu. Teguh, seorang Sispena membalut kepala Diaz dengan syal untuk mencegah goncangnya pada kepala.
Obat-obatan yang kami bawa saat itu memang tidak berarti sama sekali untuk luka yang separah itu. Teguh, yang ternyata ketua Sispena yang lebih banyak mengetahui hal seperti ini berusaha berbuat semaksimal mungkin untuk menolong Diaz.
Darinya kami ketahui bahwa kranium (tengkorak) Diaz pecah. Sehingga dia menderita gegar otak yang parah.
Sampai di Arcapada langsung aku beritahukan kejadian buruk ini kepada Pak Tugas. Lalu dia pergi ke tempat kejadian. Dan tak berapa lama kemudian dia turun.
Bapak Sujai, seorang pembina Sispena lalu menuliskan surat permohonan bantuan kepada Tim SAR. Aku dengan dibantu beberapa orang pendaki kemudian membongkar tenda dan mengemasi barang-barang untuk dibawa ke atas. Pendaki-pendaki Sispena yang lain diperintahkan untuk turun.
Sore hari aku menuju ke tempat teman-temanku yang menunggui Diaz, dengan membawa perbekalan yang kami perlukan. Menjelang magrib aku tiba di sana.
Kutanyakan apakah mereka sudah makan? Lalu kuberikan beberapa bungkus roti, Kulihat mereka makan dengan lahapnya, rupanya sejak kejadian (peristiwanya terjadi pk 09.00) sampai aku datang mereka tak menyentuh makanan, pantas mereka kelaparan.
Diaz saat itu masih saja tak sadarkan diri, napasnya pun tetap mengeluarkan suara ngorok. Dan sekarang kelihatan lebih parah, badannya mengalami kejang-kejang.
Untuk mencegah lidahnya putus pada waktu mengalami kejang-kejang maka di antara kedua rahangnya diselipkan senduk yang terlebih dahulu dibungkus syal.
Maria, seorang pendaki dari Sispena yang sejak awal menolong kami dengan tabahnya merawat Diaz, membersihkan darah yang mengalir tanpa rasa ngeri dan takut. La berada di sisi kanan Diaz, sedangkan aku berada di sisi kirinya.
"Lho, napase wis entek,” seru Maria dalam bahasa Jawa, yang maksudnya napasnya sudah habis.
Aku yang mengerti perkataan itu kaget. Kudekatkan telingaku ke dada Diaz. Rekan Sispena yang lain memeriksa pergelangan tangannya, benar Diaz telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, tepat pukul 19.10.
Setelah 10 jam dalam keadaan koma, aku yang lebih awal mengetahui hal itu tak dapat menahan tangis. Teman-temanku ikut menangis setelah mengetahui hal itu.
Selamat berpisah Diaz, rupanya Tuhan memanggilmu di puncak tertinggi pulau Jawa ini. Diaz adalah korban keempat dari Jakarta yang tewas di gunung semeru setelah Soe hok gie dan Idhan Lubis (keduanya adalah Mahasiswa Ul) dan Indrianto (Mahasiswa universitas Trisakti).
Malam semakin larut, angin kencang bertiup menggoncangkan pohon pinus, hingga menimbulkan suara menggemuruh. Alas tenda kami gunakan untuk menahan serangan angin, api unggun yang kami buat tak membantu memanasi tubuh kami, hingga tetap saja kami menggigil menahan dingin.
Malam itu kami benar-benar tak dapat tidur.
Sehari setelah musibah itu, pertolongan yang diharapkan belum juga datang. Persediaan makanan semakin menipis, kondisi kami pun semakin menurun.
Pagi hari rekan Sispena pamitan kepada kami karena harus turun ke Ranupane, Hadi turut bersama mereka. Mereka meninggalkan beberapa liter air dan makanan. Terima kasih, kawan, sungguh besar rasa solidaritasmu.
Sekarang aku, Budi, Toto dan Ruby menunggui Diaz sampai datang pertolongan. Tak lama mereka turun datang rombongan pendaki dari Jepara, Malang, dan dari Surabaya.
Kepada mereka kami meminta agar mereka mau turun bersama kami dengan membawa jenazah. Pertolongan yang diharapkan tidak juga datang, kami memutuskan untuk turun.
Pukul 10.00. kami dikejutkan oleh asap yang mengepul dari kawah yang berbalik ke arah kami. Rupanya benar apa yang dikatakan oleh orang yang pernah mendaki Gunung Semeru, bahwa di atas jam 10.00, angin akan berbalik arah dengan membawa asap beracun.
Kami segera bersiap-siap untuk turun. Batang-batang pinus yang diikat-ikat lalu di atasnya diberi alas tenda, kami gunakan sebagai tandu untuk membawa jenazah.
Tapi kami mengalami kesulitan ketika menandu karena medan yang dilalui benar-benar tak memungkinkan. Pohon-pohon yang tumbuh berdekatan merintangi usaha penurunan.
Dan lagi kami yang sekarang berjumlah lebih dari sepuluh orang benar-benar sudah tak mampu menggotongnya, karena fisik kami yang sudah sangat lemah. Akhirnya pada tempat yang agak lapang kami beristirahat.
Desa Ranupane masih ½ hari perjalanan. Karena keadaan kami yang semakin parah, kami memutuskan untuk meninggalkan jenazah Diaz, tindakan ini kami lakukan agar kami lebih cepat sampai di Ranupane untuk lebih meyakinkan regu penolong (Tim SAR), bahwa kami benar-benar mengalami musibah.
Di antara kami ada yang tak setuju dan dia ingin tetap di sini menunggui jenazah. Budi lalu memberi pengertian bahwa kita pun akan mengalami nasib yang sama bila kita terus bertahan dengan keadaan yang seperti ini. Dia pun sadar. Kami mengelilingi jenazah untuk berdoa bersama sebelum kami berangkat.
Dengan langkah yang amat berat kami turun meninggalkan jenazah. Kami meninggalkanmu bukan melepas tanggung jawab, keadaan yang memaksa kami berbuat demikian, namun kami akan mencari pertolongan.
Pukul 13.00. sebelum daerah Ranu Kumbolo, kami berjumpa dengan Pak Tugas dan empat orang penduduk. Mereka mengatakan, bahwa merekalah yang akan membawa Diaz ke Ranupane, karena Tim SAR yang diminta pertolongan menjadi berbelit-belit urusannya.
Hal ini terjadi karena tidak adanya laporan bahwa kami sedang mendaki. Memang kami tidak membawa surat izin yang ternyata menjadi soal penting pada saat-saat seperti ini.
Pak Tugas memberitahukan bahwa mereka meminta imbalan Rp100 ribu. Kami terkejut mendengarnya, dari mana kami mendapat uang sebanyak itu, sedangkan untuk pergi saja masing-masing kami hanya membawa uang Rp15 ribu.
Atas saran seorang rekan, akhirnya kami menyetujui hal itu. Katanya soal biaya nanti dapat dirundingkan dengan Kamituwo. Yang penting jenazah selamat sampai di Ranupane.
Selesai urusan, keempat penduduk dan Pak Tugas berangkat menuju ke tempat Diaz berada. Sedangkan kami menuju Ranupane.
Setelah melewati padang rumput, Bukit Ayek Ayek dan hutan liar, pukul 24.00 kami tiba di pondok Ranupane, setelah sempat kami tersesat selama dua jam. Satu jam kemudian penjaga pondok memberitahukan bahwa jenazah telah tiba di rumah Kamituwo.
Kami diminta untuk datang ke sana, karena jenazah akan diberangkatkan malam itu juga ke Malang. Di rumah kamituwo ternyata telah ada beberapa orang polisi, kemudian mereka mengintrogasi kami.
Setelah selesai, kami semua diminta untuk ikut mengantarkan jenazah ke Malang dengan berjalan kaki. Karena kondisi kami yang sudah lemah maka hanya Budi yang kondisinya agak lumayan yang ikut mengantar. Aku, Toto dan Ruby kembali ke pondok.
Esoknya, pukul 08.00 dengan membawa ransel kami bertiga turun ke Malang. Rekan pendaki dari Jepara dan Tumpang ikut bersama kami dan membantu membawakan bawaan kami.
Dengan jalan kaki kami menuju Malang melewati bukit-bukit. Pukul 16.00 kami tiba di Desa Gubuk Klakah.
Dengan kendaraan colt kami melanjutkan perjalanan. Menjelang Maghrib tiba di Tumpang, di sini kami bertemu kembali dengan Budi dan Hadi.
Ceritanya mereka kini ditampung di rumah Pak Guntur (kepala kepolisian 1022-20 Tumpang, Malang). Hadi rupanya kehilangan dompet dan Budi pun kehabisan uang. Kemudian kami pun ikut di tampung bersama mereka sambil menunggu kedatangan orangtua Diaz yang telah di interlokal pihak kepolisian.
Jenazah Diaz di simpan di RS. Syaiful Anwar, Malang. Malam itu Pak Guntur mengundang wartawan Suara Indonesia untuk mewawancarai kami.
Kami semua dipanggil oleh kepolisian untuk dimintai keterangan lebih lanjut dan hari itu surat kabar Suara Indonesia telah memuat berita musibah di Mahameru itu.
Pagi hari Pak Judin, saudaranya Diaz dari Malang yang telah diberitahu datang untuk menyelesaikan pembayaran pengangkutan jenazah. Setelah terjadi perundingan akhirnya disepakati Rp40 ribu sebagai pembayaran atas pertolongan mereka.
Tak lama kemudian datang orangtua Diaz. Kulihat kesedihan yang mendalam di balik kerut-kerut wajahnya yang tampak tua. Kesedihan seorang Ayah yang kehilangan anaknya. Kami ceritakan semua yang terjadi, dia pun lalu menangis mendengarnya.
Namun terlihat ketabahan terpancar dari matanya. Kemudian dia menasehati, kejadian ini adalah takdir Tuhan.
Kita tak dapat mencegahnya atau menundanya dan kita pun akan mengalaminya. Entah di rumah, di jalan atau di gunung, yang penting adalah persiapan kita untuk menghadapinya yaitu Iman dan Takwa. Siang itu kami semua berangkat ke Malang menuju ke rumah Pak Judin.
Pukul 02.00 malam, jenazah diberangkatkan ke Jakarta dengan kendaraan Luv. Diantar oleh orangtua Diaz dan Pak Judin. Pukul 07.00 kami menyusul dengan kereta api. Kami berharap dapat hadir dalam pemakamannya.
Esoknya pukul 05.00 jenazah Diaz tiba di Jakarta. Kami masih berada dalam kereta api menuju Jakarta. Baru pukul 12.00 kami tiba di stasiun gambir.
Dari gambir kami langsung menuju ke rumah Diaz untuk ikut hadir dalam pemakamannya. Tapi terlambat, dia telah dikebumikan pada pukul 11.00 satu jam sebelum kami tiba di Jakarta.
Beberapa hari setiba di Jakarta kami mengunjungi makamnya dengan diantar adik almarhum. Di makam itu aku jadi teringat akan kelakuannya yang sedikit aneh pada hari-hari terakhirnya.
Dia begitu giat salat Tahajud, sampai ibunya merasa heran. Dalam perjalanan pun dia selalu paling awal salatnya, dan sewaktu di Arcapada ketika salat Subuh, teman yang salat bersamanya sudah selesai tapi dia masih terus saja salat, entah berapa rakaat yang dia lakukan.
Selesai berziarah kami meninggalkan pemakaman itu. Sekuntum bunga edelweis kami letakkan di atas pusaranya sebagai ungkapan perasaan duka dari Gunung Semeru.
0 Komentar