Elpiji 3 kg Langka, Warga Cempaka Banjarbaru Kembali Masak dengan Kayu

Elpiji 3 kg Langka, Warga Cempaka Banjarbaru Kembali Masak dengan Kayu

Warga Banjarbaru dan HSU Menghadapi Kelangkaan Gas 3 Kg dengan Alternatif Kayu Bakar

Di tengah kesulitan mendapatkan gas 3 kg, masyarakat di beberapa wilayah seperti Banjarbaru dan Hulu Sungai Utara (HSU) mulai beralih ke penggunaan bahan bakar alternatif. Salah satunya adalah kayu bakar, yang digunakan oleh warga untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.

Pengalaman Suliani dalam Menggunakan Tungku Kayu Bakar

Suliani, warga Desa Sungai Rancah, Kelurahan Palam, Cempaka, Banjarbaru, telah lama mengantisipasi kelangkaan gas 3 kg dengan membuat tungku dari batako dan batu gunung. Ia menjelaskan bahwa proses memasak menggunakan kayu bakar mirip dengan permainan masak-masakan saat masa kecil.

“Saya menyusun kayu bakar berupa potongan dahan dan ranting, menyalakan api, menunggu kayu terbakar, dan menjaga api tetap menyala,” ujarnya.

Suliani sudah menyiapkan tungku ini sejak bulan Ramadan atau tiga bulan lalu. Setiap kali stok gas kosong di pangkalan, ia langsung menggunakan tungku tersebut. Ia juga mengaku bahwa harga gas 3 kg sering melonjak hingga Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per tabung di warung.

“Saya mengumpulkan patahan dahan dan ranting dari kebun tetangga, lalu dijemur hingga kering. Syukurnya sekarang musim panas, kalau musim penghujan akan sulit mengeringkan kayunya,” katanya sambil tertawa.

Proses memasak menggunakan kayu bakar ini sempat ia videokan dan dibagikan di story WhatsApp, yang akhirnya menarik perhatian tetangga dan keluarga. Akibatnya, ada yang memberinya gas 3 kg.

Kelangkaan Gas 3 Kg di Hulu Sungai Utara

Kelangkaan gas 3 kg tidak hanya terjadi di Banjarbaru, tetapi juga di Hulu Sungai Utara (HSU). Yuni, warga Kelurahan Sungaimalang, mengatakan bahwa ia pernah melihat pedagang menjual elpiji 3 kilogram dengan harga Rp 38 ribu.

“Kemarin saya melihat pedagang menjual elpiji 3 kg dengan harga Rp 38 ribu, lalu saya memesan satu dan mengambil tabung kosong di rumah untuk ditukar dengan yang baru,” ujarnya.

Yuni mengaku tetap membeli meskipun harganya lebih mahal karena bisa mencukupi kebutuhan selama tiga minggu di rumah.

Penyebab Kelangkaan Gas 3 Kg

Beberapa waktu lalu, Ketua Komisi II DPRD HSU H Mukhsin Haita menyatakan bahwa kelangkaan dan tingginya harga elpiji subsidi telah menimbulkan keresahan di masyarakat.

Menurut Hj Muliana Yuniar, Ketua Hiswana Migas Kalsel, langkanya gas subsidi dimungkinkan karena peralihan penggunaan jenis gas di masyarakat dari nonsubsidi 5,5 kg ke 3 kg. Hal ini disebabkan oleh harga yang lebih murah, yaitu Rp 18.500 per tabung.

Selain itu, ada beberapa hari libur nasional yang memengaruhi penyaluran gas. Pertamina tidak melakukan penyaluran pada tanggal merah, sehingga stok di pangkalan berkurang.

“Ada sekitar 130 agen di Kalsel, satu agen menyalurkan antara 2-3 truk per hari. Kami meminta kebijakan agar tanggal merah tetap ada penyaluran dan satu agen boleh menyalurkan 1 truk,” jelasnya.

Saran untuk Masyarakat

Mengenai harga yang melambung di pasaran, Muliana menyarankan masyarakat membeli gas 3 kg di pangkalan resmi saja. Menurutnya, barang tersedia, apalagi pada bulan Juli tidak ada tanggal merah, sehingga penyaluran sesuai alokasi.

Ia juga menyatakan bahwa dugaan kelangkaan karena permainan agen atau pangkalan sulit dilakukan, karena semua penyaluran terpantau melalui sistem pelaporan online.

Jika masyarakat menemukan adanya oknum yang melanggar aturan, ia mempersilakan melaporkannya ke Pertamina melalui nomor 135.

Pihak Pertamina juga berencana mengadakan operasi pasar di daerah-daerah yang terdeteksi harga gas 3 kg mahal dan kosong. Masyarakat masih menunggu langkah-langkah lebih lanjut dari Pertamina.



0 Komentar