Kondisi Harga Telur yang Menyulitkan Peternak di Jawa Timur
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, secara langsung menemui ratusan peternak telur yang sedang melakukan aksi demo di depan Gedung DPRD Jatim. Aksi ini dilakukan oleh para peternak karena harga telur di tingkat produsen terus anjlok dan tidak mampu menutupi biaya produksi yang semakin meningkat.
Pemprov Jatim mengidentifikasi tiga faktor utama yang menyebabkan jatuhnya harga telur. Pertama, kelebihan pasokan (over supply) yang disebabkan oleh produksi yang terlalu banyak. Kedua, penyerapan telur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belum optimal. Ketiga, penerapan harga acuan pemerintah yang dinilai tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan.
Peternak mengaku bahwa harga telur di tingkat produsen hanya sekitar Rp16.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp24.000 per kilogram. Hal ini membuat banyak peternak mengalami kerugian besar. Bahkan, beberapa di antara mereka terpaksa menggadaikan aset seperti sertifikat dan BPKB untuk mempertahankan usaha mereka.
Penyebab Utama Anjloknya Harga Telur
Menurut Emil Dardak, pemerintah provinsi telah melakukan identifikasi terhadap penyebab utama anjloknya harga telur. Pertama, adanya kelebihan pasokan akibat produksi yang berlebihan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah pusat telah memberikan komitmen untuk membatasi distribusi day old chick (DOC) ayam petelur agar produksi tidak berlebihan.
Kedua, penyerapan telur dalam program MBG masih kurang optimal. Dalam rapat bersama Dinas Peternakan, Badan Gizi Nasional (BGN), dan Badan Pangan, telah disepakati bahwa penyerapan telur harus dilakukan tiga kali dalam sepekan dengan harga minimal Rp24.000 per kilogram. Namun, tingkat kepatuhan dari setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih bervariasi.
Ketiga, adanya surat dari Menteri Pertanian selaku Kepala Badan Pangan Nasional kepada gubernur dan Satgas Pangan mengenai penerapan harga telur di tingkat produsen sebesar Rp26.500 per kilogram dan Rp30.000 per kilogram di tingkat konsumen. Para peternak ingin audiensi langsung dengan pihak terkait agar masalah ini dapat segera diselesaikan.
Aksi Protes dan Pembagian Telur Gratis
Sebelumnya, ratusan peternak telur dari berbagai daerah di Jawa Timur menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Jatim. Selain menyampaikan aspirasi, mereka juga membagikan telur rebus secara gratis kepada anggota DPRD, pegawai sekretariat dewan, hingga aparat kepolisian yang bertugas mengamankan jalannya aksi. Pembagian telur tersebut menjadi kampanye untuk mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi telur sekaligus menunjukkan bahwa stok telur di tingkat peternak masih melimpah.
Beberapa anggota DPRD Jawa Timur, seperti Wiwin Sumrambah dan Roaitu Nafif Laha, turut menemui para demonstran sebelum dilanjutkan dengan audiensi bersama perwakilan pemerintah.
Harga Telur Jauh di Bawah HAP, Peternak Mengaku Tertekan
Para peternak mengaku tengah menghadapi tekanan berat karena harga telur di tingkat peternak terus berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP). HAP telur di tingkat produsen saat ini berada di kisaran Rp24.000 per kilogram. Namun, harga jual yang diterima peternak hanya sekitar Rp16.000 per kilogram, sementara harga pakan justru terus meningkat.
Bahkan, sebagian peternak mengaku terpaksa menggadaikan aset demi mempertahankan usaha mereka. "Sertifikat dan BPKB kami sudah digadai karena harga anjlok," teriak salah seorang perwakilan massa saat aksi berlangsung.
Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar harga telur kembali membaik dan biaya produksi dapat ditekan. “Kami sangat senang jika harga telur naik dan harga pakan turun,” ungkap Nur Muhammad Ali, perwakilan massa saat diwawancarai awak media di lokasi.

Aksi di Blitar: Harga Telur Murah untuk Membantu Peternak
Di Blitar, aksi menjual telur murah dilakukan para peternak rakyat di depan Kantor Bupati Blitar, Senin (29/6/2026). Mereka menjual telur murah dengan harga Rp20.000 per kilogram. Aksi ini menjadi upaya para peternak rakyat untuk menaikkan harga di tengah harga telur terus anjlok di tingkat peternak.
Para peternak dengan menggunakan mobil pikap dan penumpang berjualan telur di pinggir jalan depan Kantor Bupati Blitar. Para pegawai negeri sipil (PNS) yang baru mengikuti apel di Alun-alun Kanigoro langsung menyerbu membeli telur para peternak.
Seorang PNS, Mutiara mengatakan, harga telur yang dijual oleh peternak memang lebih murah dibandingkan harga di pasaran. Harga telur di pasaran masih kisaran Rp24.000 sampai Rp25.000 per kilogram. Sedangkan harga telur yang dijual peternak di depan Kantor Bupati Blitar Rp 20.000 per kilogram.
"Kemarin ada info, setelah apel, ada peternak jual telur murah di depan Kantor Bupati Blitar," kata Mutiara. "Akhirnya saya belanja sekalian. Ini tadi beli 2 kilogram," imbuhnya.
PNS lainnya, Lina mengatakan, belanja telur ini sekaligus untuk membantu para peternak rakyat di tengah harga telur terus turun. "Ini juga untuk membantu para peternak rakyat agar harga telur bisa naik. Harga telur di peternak terus turun," ujarnya.
Perbedaan Harga di Kandang dan Pasaran
Harga telur di kandang sempat jatuh di kisaran Rp15.000 sampai Rp16.000 per kilogram. Tapi, harga telur di pasaran masih tinggi bisa mencapai Rp24.000 sampai Rp25.000 per kilogram.
Perwakilan peternak, Suyanto mengatakan, dengan kegiatan ini, peternak ingin langsung mendekatkan diri ke masyarakat. "Harga telur di kandang dan di pasar jaraknya masih jauh. Maka itu, kami inisiatif dengan teman-teman memberikan harga yang pantas kepada masyarakat, yaitu Rp20.000 per kilogram," katanya.
Dikatakannya, dengan kondisi seperti sekarang ini, para peternak rakyat belajar memproduksi sekaligus menjual telur langsung ke masyarakat. Dengan cara itu, para peternak berharap jarak harga telur di kandang dengan di pasar tidak terlalu jauh.
"Ini tadi ada 10 armada, masing-masing membawa sekitar 2 kuintal sampai 3 kuintal telur," ujarnya.
Ia menjelaskan, harga telur turun karena terjadi over populasi yang menyebabkan produksi telur melimpah. Sedang, serapan telur di masyarakat tetap. Akibatnya, harga telur di peternak turun.
"Harapan kami ada pembatasan budidaya. Budidaya kami berlebih, produksi kami sudah di angka 20 persen dari biasanya," katanya.
"Sedang program MBG hanya menyerap sekitar 3 persen dari produksi telur di Blitar," lanjutnya.
Menurutnya, populasi ayam petelur di Kabupaten Blitar mencapai 39 juta ekor dengan kapasitas produksi sekitar 1.500 ton per hari.
0 Komentar