Heboh Tambang Emas di Bangka Tengah, Fakta dari Pak Kades Melabun

Heboh Tambang Emas di Bangka Tengah, Fakta dari Pak Kades Melabun

Temuan Emas di Kebun Sawit, Fenomena yang Menghebohkan Masyarakat

Sebuah temuan kandungan emas di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Mas Sari Jaya memicu perhatian besar dari masyarakat sekitar. Lokasi tersebut berada di sekitar wilayah Desa Melabun dan Desa Sarang Mandi, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah. Temuan ini terjadi di tengah lesunya hasil tambang timah yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama warga.

Kepala Desa Melabun, Yusup, mengungkapkan bahwa aktivitas penambangan emas ini dilakukan oleh sekitar empat kelompok penambang. Meski awalnya hanya mencari komoditas timah seperti biasa, para penambang mulai melirik potensi kandungan mineral lain setelah hasil tambang timah menurun.

Lokasi Penambangan yang Tidak Terduga

Lokasi penambangan yang kini ramai diperbincangkan oleh masyarakat luas justru berada di luar prediksi semula. Biasanya, orang menduga adanya kandungan emas di dekat aliran sungai, tetapi lokasi yang saat ini ditemukan justru berada di daerah bukit. Titik lokasi tersebut terletak sekitar lima kilometer dari wilayah pemukiman Desa Melabun.

Meskipun akses jalan utama menuju lokasi lebih banyak melewati Desa Melabun dengan memasuki area PT Mas Sari Jaya, secara administrasi kawasan tersebut sebenarnya masuk ke dalam wilayah Desa Sarang Mandi. Luas lahan perkebunan kelapa sawit milik PT Mas Sari Jaya sendiri sangat lapang hingga mencakup wilayah tiga desa di sekitarnya.

Proses Penggalian dan Pengolahan Emas

Yusup menjelaskan bahwa aktivitas pencarian emas pada awalnya sama sekali tidak dilakukan secara sengaja atau dikhususkan. Para pekerja tambang pada mulanya hanya mencari komoditas timah seperti yang selama ini biasa dilakukan oleh mayoritas masyarakat di Bangka Belitung. Namun, seiring dengan semakin menurunnya hasil perolehan timah, para penambang mulai melirik potensi kandungan mineral lain yang tidak sengaja ditemukan di lokasi tersebut.

Kandungan emas yang diperoleh tidak serta-merta langsung terlihat jelas saat proses penggalian tambang berlangsung. Seluruh material tanah dan batuan hasil tambang harus melewati beberapa tahapan pengolahan khusus terlebih dahulu sebelum akhirnya kadar emasnya dapat terlihat.

Hasil yang Berubah-ubah

Meski sempat memicu euforia yang besar di kalangan warga, Yusup menyebutkan bahwa hasil yang didapatkan oleh para penambang tidak selalu berlimpah dan cenderung berubah-ubah. Ada yang dapat sekitar satu gram dalam sehari, sedangkan kabar tentang oknum penambang yang berhasil memperoleh hasil jauh lebih besar juga sempat beredar.

Pada saat aktivitas berburu logam mulia tersebut sedang ramai-ramainya, harga jual emas yang diperoleh para penambang berada di kisaran angka Rp1,8 juta per gram. Harga itu ikut perkembangan harga emas juga.

Empat Kelompok Penambang

Yusup menjelaskan bahwa jumlah penambang yang beroperasi di dalam area perkebunan PT Mas Sari Jaya sebenarnya tidak terlalu banyak. Ia memperkirakan hanya ada sekitar empat kelompok atau peron saja yang terpantau aktif melakukan aktivitas pekerjaan di sana. Meskipun jumlah kelompoknya terbatas, satu peron atau kelompok kerja ternyata bisa menampung jumlah pekerja yang cukup banyak.

Para penambang tersebut bekerja dengan menggunakan mesin sederhana serta menerapkan sistem penyemprotan material tanah dengan bantuan karpet penampung. Kedalaman lubang galian yang dibuat oleh para penambang emas ini juga tergolong tidak terlalu dalam, sekitar satu sampai dua meter saja.

Dampak terhadap Lahan Perkebunan

Walau demikian, aktivitas penggalian tersebut dipastikan tetap membawa dampak buruk terhadap kondisi fisik lahan perkebunan kelapa sawit. Yusup menguraikan bahwa jalannya aktivitas penambangan emas ini sangat bergantung pada ketersediaan pasokan air di lokasi. Oleh karena keterbatasan air tersebut, para penambang tidak dapat melakukan pekerjaan mereka sepanjang hari penuh.

Faktor ketersediaan air memegang peranan paling utama dalam mendukung kelancaran proses penyemprotan material tanah hasil tambang. Mereka menunggu air cukup dulu untuk menyemprot. Jadi tidak bisa kerja terus dari pagi sampai malam.

Penertiban oleh Aparat

Karena lokasi penambangan berada di dalam kawasan milik korporasi, aktivitas tersebut juga seringkali dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh warga. Seiring dengan semakin ramainya eskalasi aktivitas di lokasi, pihak manajemen perusahaan akhirnya mengambil tindakan penertiban bersama aparat keamanan.

Setahu Yusup, ada yang diamankan. Tetapi kebanyakan masyarakat biasa yang mencoba mencari tambahan penghasilan. Penambangnya campur, ada dari Melabun, Sarang Mandi, Sungai Selan sampai Keretak.

Ekonomi Masyarakat Tetap Bergantung pada Perkebunan

Meskipun sempat viral dan menyedot perhatian besar dari masyarakat, Yusup menegaskan bahwa fenomena tambang emas ini sama sekali tidak mengubah mata pencaharian utama warga Desa Melabun. Mayoritas masyarakat tetap hidup dari kebun sawit. Sebanyak 90 persen ekonomi masyarakat Desa Melabun tetap bergantung penuh pada sektor perkebunan sawit.

Sampai sekarang yang menjadi andalan masyarakat tetap kebun sawit. Tambang emas ini hanya fenomena yang sempat ramai beberapa waktu terakhir.

0 Komentar