
Peningkatan Signifikan dalam Impor Provinsi Maluku
Nilai impor Provinsi Maluku selama periode Januari hingga April 2026 mencapai angka US$ 217,24 juta. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 86,00 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, yang hanya mencapai US$ 116,80 juta. Kenaikan ini terjadi akibat berbagai faktor yang memengaruhi struktur impor provinsi tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku, Maritje Pattiwaellapia, menjelaskan bahwa lonjakan impor tersebut didorong oleh sektor nonmigas yang mengalami kenaikan signifikan sebesar 5.522,02 persen. Meskipun demikian, sektor migas tetap menjadi penyumbang utama dalam total impor, dengan kenaikan sebesar 54,41 persen dan kontribusi sebesar 82,54 persen terhadap total impor pada periode Januari-April 2026.
Peningkatan impor juga terlihat secara tahunan. Pada April 2026, nilai impor Maluku mencapai US$ 67,47 juta, naik 123,07 persen dibandingkan April 2025. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya impor migas sebesar 120,55 persen serta munculnya impor nonmigas pada bulan tersebut.
Sumber Impor Terbesar
Dalam hal sumber impor, sebagian besar impor pada April 2026 berasal dari negara-negara Asia. Singapura menjadi penyumbang terbesar dengan nilai sebesar US$ 39,06 juta, diikuti oleh Malaysia sebesar US$ 27,65 juta, dan Tiongkok sebesar US$ 0,76 juta. Secara kumulatif, impor dari negara-negara Asia masih mendominasi struktur impor Maluku.
Secara tahunan, impor Maluku meningkat sebesar 123,07 persen, salah satunya disebabkan oleh bertambahnya nilai impor ke Maluku dari negara-negara pemasok utama. Impor dari Tiongkok sepenuhnya berasal dari sektor nonmigas, sedangkan impor dari negara-negara ASEAN didominasi oleh sektor migas.
Kontribusi Negara-Negara Pemasok
Secara kumulatif Januari–April 2026, total impor Maluku meningkat dari US$ 116,80 juta menjadi US$ 217,24 juta atau naik sebesar 86,00 persen. Dari total impor tersebut, Singapura memberi andil sebesar 52,05 persen, Malaysia 30,49 persen, Finlandia 16,78 persen, dan Tiongkok sebesar 0,68 persen.
Peningkatan kumulatif terbesar terjadi pada impor yang berasal dari Malaysia sebesar 230,60 persen atau senilai US$ 66,24 juta, serta Tiongkok sebesar 118,74 persen atau senilai US$ 1,48 juta.
Distribusi Impor Berdasarkan Pelabuhan
Dari keseluruhan total impor Maluku periode Januari–April 2026 sebesar US$ 217,24 juta, 99,32 persen bongkar barang melalui Pelabuhan Yos Sudarso (Ambon), sedangkan 0,68 persen melalui Pelabuhan Wahai (Maluku Tengah).
Berdasarkan pelabuhan bongkar, hampir seluruh impor masih terpusat di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon dengan nilai kumulatif US$ 215,77 juta. Kinerja pelabuhan ini menunjukkan peningkatan 85,81 persen dibandingkan Januari–April 2025, menegaskan perannya sebagai pintu utama masuknya barang impor ke Maluku.
Sementara itu, bongkar barang melalui Pelabuhan Wahai sebesar US$ 1,48 juta atau naik 118,74 persen pada Januari-April 2026.
Volume Impor dan Struktur
Pada April 2026, nilai impor Maluku tercatat sebesar US$ 67,47 juta yang masuk melalui Pelabuhan Yos Sudarso sebesar US$ 66,71 juta dan Pelabuhan Wahai sebesar US$ 0,76 juta. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas impor masih didominasi oleh Pelabuhan Yos Sudarso.
Pada periode Januari–April 2026, volume impor Maluku tercatat sebesar 196,32 ribu ton, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun 2025 atau naik sebesar 15,78 persen. Struktur volume impor masih sangat didominasi oleh sektor migas dengan kontribusi sebesar 99,23 persen dan sisanya kontribusi dari sektor nonmigas sebesar 0,77 persen.
Pada April 2026, total volume impor tercatat 57,20 ribu ton, lebih tinggi dibandingkan April 2025 dengan volume sebesar 45,47 ribu ton sehingga secara tahunan tumbuh 25,80 persen.
Secara umum, perkembangan volume impor Maluku pada awal tahun 2026 menunjukkan kondisi yang cenderung stabil, dengan dominasi sektor migas yang masih sangat kuat dalam struktur impor provinsi.
0 Komentar