Indonesia Turun dari Peringkat 21 ke 48 dalam Dua Tahun


Daya saing global Indonesia kembali menunjukkan penurunan. Dalam laporan IMD World Competitiveness Ranking 2026, Indonesia turun ke peringkat 48 dari 70 negara yang dinilai, dengan penurunan sebanyak 21 posisi dibandingkan tahun 2024 yang berada di peringkat 27.

Laporan ini dirilis oleh IMD World Competitiveness Center, sebuah lembaga independen asal Swiss, pada bulan Juni 2026. Penilaian dilakukan terhadap 70 negara menggunakan 341 indikator yang dibagi dalam empat faktor utama, yaitu Economic Performance (Kinerja Ekonomi), Government Efficiency (Efisiensi Pemerintahan), Business Efficiency (Efisiensi Bisnis), dan Infrastructure (Infrastruktur).

Di tingkat dunia, Singapura tetap memimpin daftar dengan posisi teratas, disusul Hong Kong, Swiss, Taiwan, dan Uni Emirat Arab. Di kawasan Asia-Pasifik, Indonesia berada di posisi ke-14 dari 15 negara yang masuk dalam penilaian. Sementara itu, dalam kelompok negara dengan populasi di atas 20 juta jiwa, Indonesia berada di peringkat ke-21.

Menurut laporan IMD, penurunan daya saing Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Pertama, melemahnya efisiensi bisnis, yang membuat Indonesia berada di peringkat 53 dunia dalam peta daya saing. Hal ini mencerminkan tantangan pada produktivitas, praktik manajemen, serta iklim usaha. Kedua, infrastruktur yang masih menjadi pekerjaan rumah. Indonesia berada di peringkat 65 untuk infrastruktur teknologi, sementara infrastruktur ilmiah dan lingkungan juga menghadapi tantangan.

Selain itu, efisiensi pemerintahan juga menjadi isu penting. Indonesia berada di peringkat 50 dalam faktor Government Efficiency, yang mencerminkan tekanan terhadap efektivitas kebijakan, kerangka institusi, serta kualitas tata kelola. Meskipun demikian, Indonesia masih memiliki kekuatan di bidang Economic Performance, dengan posisi di peringkat 24 dunia.

Indikator yang Masih Tertinggal

Dalam rincian subfaktor daya saing, beberapa indikator Indonesia masih berada di kelompok bawah dari 70 negara yang dinilai. Beberapa di antaranya adalah:
Produktivitas dan efisiensi: peringkat 53
Keuangan: peringkat 51
Praktik manajemen: peringkat 55
Sikap dan nilai kerja: peringkat 53
Pendidikan: peringkat 63
Infrastruktur teknologi: peringkat 47
* Infrastruktur ilmiah: peringkat 48

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia tidak hanya berasal dari faktor ekonomi makro, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia, kemampuan inovasi, serta kesiapan infrastruktur pendukung.

Namun, meski mengalami penurunan peringkat, Indonesia masih memiliki sejumlah indikator yang relatif kuat. Beberapa di antaranya adalah:
Harga (Prices): peringkat 10 dunia
Perpajakan (Tax Policy): peringkat 12
Pasar tenaga kerja (Labor Market): peringkat 21
Ekonomi domestik (Domestic Economy): peringkat 24

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki keunggulan dari sisi ukuran pasar dan stabilitas sejumlah indikator ekonomi.

Tantangan Utama yang Dihadapi

IMD mencatat sejumlah tantangan utama yang dihadapi Indonesia pada tahun 2026, antara lain:
Ancaman konfrontasi ekonomi global terhadap keamanan energi nasional
Pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan
Penyesuaian alokasi anggaran pemerintah
Keterbatasan infrastruktur dan kompetensi sumber daya manusia
* Terbatasnya sumber pembiayaan

Direktur IMD World Competitiveness Center, Arturo Bris, menyebut bahwa daya saing ekonomi saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh biaya produksi, ukuran pasar, atau inovasi. Menurutnya, faktor yang semakin menentukan adalah kredibilitas institusi.

“Daya saing ekonomi pada 2026 tidak lagi terutama merupakan kontes biaya, skala ekonomi, atau bahkan inovasi. Daya saing kini menjadi kontes mengenai kredibilitas institusi,” ujarnya dalam laporan IMD World Competitiveness Yearbook 2026.

Ia menilai negara yang kompetitif bukan hanya negara dengan banyak regulasi, tetapi negara yang mampu memberikan kepastian hukum, menjaga transparansi, membatasi korupsi, serta memastikan keputusan publik dapat dipercaya oleh pelaku ekonomi.

0 Komentar