
LPPD Kepri Siapkan Langkah Hukum Terkait Tertahannya Tim Pesparawi
Lembaga Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejawi (LPPD) Kepri mengambil langkah hukum terkait kejadian yang menimpa tim Paduan Suara Wanita (PSW) Pesparawi Kepri. Kejadian ini terjadi saat rombongan peserta lomba Pesparawi Nasional XIV 2026 di Manokwari, Papua Barat, tertahan di Bandara Soekarno-Hatta.
Rombongan yang berasal dari Tanjungpinang tersebut gagal melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan karena kode booking tiket pesawat yang diberikan oleh pihak panitia ternyata tidak valid. Rombongan yang panik mencoba menghubungi panitia dan pihak terkait lainnya, tetapi tidak mendapatkan kejelasan. Akibatnya, tim PSW Kepri gagal bertanding mewakili provinsi di ajang bergengsi tersebut.
Ketua LPPD Kepri Jumaga Nadeak menegaskan bahwa pihaknya telah membayar semua biaya tiket pergi-pulang peserta Pesparawi Kepri ke Manokwari. Ia menyebut bahwa tiket sudah dibayarkan secara lunas pada Kamis (7/5/2026). Namun, pihak travel memberikan kode booking yang tidak bisa digunakan.
Jumaga juga menjelaskan bahwa ia telah berkomunikasi langsung dengan Gubernur Kepri Ansar Ahmad untuk menerangkan situasi yang terjadi. Selain itu, ia juga sudah berkoordinasi dengan kepolisian terkait kasus ini. Polisi sedang menyelidiki dan akan menggelar konferensi pers di Batam besok.
Penjelasan dari Panitia Keberangkatan
Terpisah, Humas Panitia Keberangkatan Pesparawi Kepri, Mider Humisar Sinaga, menjelaskan bahwa kegagalan keberangkatan bukan disebabkan oleh Pemerintah Provinsi Kepri, melainkan karena dugaan kelalaian pihak biro perjalanan yang ditunjuk untuk mengurus seluruh tiket penerbangan.
Mider menyatakan bahwa seluruh biaya tiket peserta dan ofisial telah dibayarkan kepada Rizki Evanti Bersahaja Tour and Travel sejak Mei 2026. Namun, saat keberangkatan, peserta hanya menerima kode booking dan tiket yang tidak dapat digunakan untuk melanjutkan penerbangan menuju Manokwari.
"Seluruh pengurusan tiket dari Batam sampai Manokwari, termasuk perjalanan pulang, menjadi tanggung jawab pihak travel. Kami sudah mentransfer seluruh biaya tiket kepada mereka sejak bulan Mei," ujar Mider.
Menurutnya, panitia telah beberapa kali meminta agar tiket segera diterbitkan. Namun, pihak travel selalu meyakinkan bahwa seluruh penerbangan dalam kondisi aman. "Setiap kami tanyakan, jawabannya selalu aman dan tiket sudah tersedia. Karena itu kami percaya," katanya.
Ia menyebut bahwa panitia telah mentransfer dana pembelian tiket melalui Bank BRI pada 7 Mei 2026 dengan nilai sekitar Rp1,016 miliar untuk seluruh kontingen dan ofisial. Namun, persoalan mulai terungkap ketika rombongan ofisial yang berangkat lebih dahulu pada 18 Juni 2026 tiba di Jakarta.
Kronologi Tim Tertahan di Bandara Soetta
Ketua LPPD Kota Tanjungpinang, Ria Ukur Rindu Tondang, buka suara terkait kejadian yang menimpa Tim PSW Pesparawi asal Tanjungpinang. Ia mengatakan bahwa rombongan awalnya berangkat dari Batam ke Jakarta pada Kamis (25/6/2026).
"Kami dibagi menjadi dua kloter. Pertama berangkat pukul 14.30 WIB dan kloter kedua terbang pukul 19.00 WIB," kata Ria, Minggu. Rombongan tiba dan kumpul bersama di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 21.00 WIB.
"Saat itu kami mulai diover sana sini. Pertama ke Lion Air, terminal 1B, lalu ke terminal 2 hingga terminal 3. Terakhir kami coba check in di Garuda, ternyata kode tiketnya bodong," ujarnya.
Kode tiket itu sebelumnya memang sudah di-booking, hanya saja tidak dilakukan pembayaran. "Kami mulai panik. Dari 27 peserta yang berangkat, masing-masing mulai berkomunikasi dengan sejumlah pihak termasuk panitia," katanya.
Menurutnya, yang paling bertanggungjawab di sini adalah panitia. Karena mereka yang mengurus seluruh perlengkapan, mulai dari Tanjungpinang ke Manokwari. Nyatanya, menurut Ria, panitia sama sekali tidak memperhatikan peserta.
"Kami sudah berkomunikasi dan kejar ke panitia agar bisa memberikan tiket yang benar, sehingga bisa tampil di Manokwari pada tanggal 26 Juni 2026 lalu," ujarnya. Lagi-lagi usaha mereka kembali gagal. Karena panitia tak juga merespons itu.
Ironisnya lagi, panitia juga tidak memperhatikan kondisi peserta saat berada di Jakarta. "Telepon ke kami tanya kabar saja tidak ada, panitia justru membiarkan kami hidup terlantar di Jakarta," ujarnya ketus.
Ia menyebut, tidak ada satu pun panitia yang mendampingi mereka. Panitia disebut telah berangkat duluan ke Manokwari. Pihaknya menyangsikan, jika memang tiket pesawat itu bodong, seharusnya panitia juga tidak bisa berangkat.
Kerugian yang Dialami Peserta
Dari kegagalan ini, Ria menyebut seluruh peserta mengalami banyak kerugian, mulai dari persiapan hingga keberangkatan. "Kerugian material yang kami keluarkan secara pribadi," katanya.
Ia menyebut, untuk perlengkapan seperti baju, kesehatan dan lainnya, mereka menggunakan uang hasil usaha sendiri. "Kami juga mengalami kerugian psikologi, mental yang rusak akibat perlakuan ini," lanjutnya.
Untuk mengobati rasa sakit dan kecewa itu, mereka menyalurkannya lewat nyanyian di Bandara Internasional Soekarno Hatta sebelum pulang ke Tanjungpinang, pada Jumat (26/6/2026).
Di sisi lain, Ria menyampaikan rasa syukur kepada Pemerintah Provinsi Kepri yang sudah memberikan dana hibah sebesar Rp1,4 miliar untuk keberangkatan tim Pesparawi ini. "Kami juga sudah berkomunikasi dengan Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura," katanya.
Mereka mendesak Ketua LPPD Kepri Jumaga Nadeak untuk menyelesaikan persoalan ini dengan panitia lainnya. "Karena sebagian uang dari dana tersebut juga diperuntukkan untuk memfasilitasi keberangkatan rombongan ke Manokwari," katanya.
0 Komentar