
Kehidupan Keluarga Sundari di Rumah Kayu yang Tidak Layak Huni
Di balik dinding kayu yang mulai lapuk dan atap penuh lubang, sebuah keluarga tinggal dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di rumah kayu yang tidak layak huni dengan kondisi atap dan dinding berlubang. Hal ini membuat mereka terus-menerus menghadapi cuaca buruk, terutama saat hujan.
Proposal bantuan bedah rumah telah diajukan sejak April 2026, tetapi hingga kini belum mendapatkan kepastian dari pemerintah. Keluarga tersebut memiliki harapan sederhana, yaitu memiliki rumah yang layak untuk ditinggali. Namun, harapan itu masih jauh dari terwujud.
Sundari (20), warga Desa Rantau Panjang Ilir, menjadi sosok utama dalam memperjuangkan bantuan tersebut. Dengan suara bergetar menahan haru, ia menceritakan bahwa proposal bedah rumah sudah diajukan melalui pemerintah desa sejak April 2026. Namun hingga akhir Juni, belum ada kepastian mengenai bantuan yang mereka nantikan.
"Rumah kami materialnya dari kayu. Dinding dan atapnya bolong-bolong. Kalau hujan ya kehujanan," kata Sundari, Minggu (28/6/2026).
Rumah yang ditempati keluarganya masih berbahan kayu dengan kondisi memprihatinkan. Dinding dan atap dipenuhi lubang sehingga air hujan kerap masuk ke dalam rumah saat cuaca buruk. Tak hanya itu, lantai dapur yang juga terbuat dari kayu mulai rapuh. Beberapa bagian bahkan nyaris jebol karena dimakan usia. Atap seng di sejumlah titik pun sudah berlubang dan membutuhkan perbaikan segera.
Tinggal Bersama Tujuh Anggota Keluarga
Di rumah sederhana tersebut, Sundari tinggal bersama kedua orang tuanya dan empat adiknya. Total ada tujuh anggota keluarga yang setiap hari menempati bangunan yang sudah tidak layak huni. "Kami ada lima bersaudara. Adik saya masih kecil-kecil. Kami tinggal dengan ibu dan ayah," kata Sundari.
Meski hidup dalam keterbatasan, Sundari berharap pemerintah dapat segera merealisasikan bantuan bedah rumah agar keluarganya bisa tinggal di tempat yang lebih aman dan layak.
Mengandalkan Sungai untuk Fasilitas Dasar
Kondisi memprihatinkan yang dialami keluarga Sundari tidak hanya terlihat dari rumah yang nyaris roboh. Untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, mereka bahkan belum memiliki fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang layak sehingga harus memanfaatkan aliran anak sungai di dekat rumah. Bangunan sederhana berukuran sekitar 8 x 5 meter itu hanya difungsikan sebagai tempat beristirahat dan memasak.
Di dalam rumah yang serba terbatas tersebut, tujuh anggota keluarga berusaha menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
Penghasilan Orang Tua yang Terbatas
Kondisi ekonomi keluarga pun jauh dari kata cukup. Kedua orang tua Sundari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp20 ribu per hari. Pendapatan itu harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh anggota keluarga.
Menurut Sundari, keterbatasan ekonomi membuat keluarganya mustahil mampu memperbaiki rumah secara mandiri. Karena itu, mereka memilih mengajukan bantuan bedah rumah kepada pemerintah sejak April 2026 dengan harapan bisa memperoleh tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
"Maka dari itu kami mengajukan bedah rumah sejak April lalu. Ibu dan bapak kerja tani, cuma dapat Rp20 ribu untuk kami berlima," ungkap Sundari.
Mahasiswi Semester III Universitas Terbuka Palembang tersebut mengaku masih menaruh harapan agar pemerintah daerah segera menindaklanjuti proposal yang telah diajukan.
Respons Pihak Terkait
Sementara itu, Kepala Desa Rantau Panjang Ilir, Evandri, tidak merespons saat dihubungi melalui telepon. Begitu juga dengan Sekretaris Desa Rantau Panjang Ilir. Camat Rantau Panjang, Mazlan, pun tidak memberikan respons saat diminta konfirmasi terkait hal ini.
0 Komentar