Korban Tambah Jadi 5, Istana Angkat Bicara Soal Kelanjutan Latsarmil Calon Manajer Kopdes

Korban Tambah Jadi 5, Istana Angkat Bicara Soal Kelanjutan Latsarmil Calon Manajer Kopdes

Kematian 5 Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Menggemparkan Publik

Program Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih kini menjadi sorotan utama setelah jumlah peserta yang meninggal dunia terus bertambah. Hingga saat ini, angka kematian telah mencapai lima orang dalam waktu singkat. Insiden tersebut memicu gelombang desakan dari masyarakat dan anggota dewan agar program tersebut segera dihentikan.

Menanggapi isu ini, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memberikan pernyataan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam. Ia menyatakan bahwa Istana akan segera merilis keputusan resmi mengenai kelanjutan atau pembekuan program Latsarmil Kopdes Merah Putih dalam waktu dekat.

Komunitas publik dan anggota dewan kini sedang menantikan langkah konkret dari pemerintah pusat untuk mencegah korban jiwa tambahan di lokasi pelatihan. Penyebab kematian para peserta cukup beragam, mulai dari gangguan pernapasan akut, serangan panas ekstrem (heat stroke), infeksi paru menahun, hingga henti jantung mendadak. Seluruh insiden fatal tersebut terjadi di lima pusat pendidikan militer yang berbeda di wilayah Indonesia.

Kronologi Kematian 5 Calon Manajer Kopdes Merah Putih

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Menerusia (BPSDM) Kemenhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan, menjelaskan kronologi kematian 5 peserta secara rinci:

  1. Nola Dya Sari (Dodik Bela Negara Kalimantan)
    Nola Dya Sari adalah peserta dari Satuan Pendidikan (Satdik) Dodik Bela Negara Kalimantan yang meninggal pada Jumat (26/6/2026). Ia masih mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas tanpa menunjukkan keluhan kesehatan sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Pada pukul 18.45 WIB, Nola mulai mengeluh sesak napas dan badan terasa panas. Tim kesehatan langsung memberikan penanganan awal sebelum merujuknya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Singkawang. Setelah kondisinya distabilisasi, Nola dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang. Namun, kondisi Nola memburuk hingga mengalami henti jantung. Meskipun berbagai upaya medis dilakukan, Nola dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB.

  1. Anisa Muyassaroh (Rindam VI/Mulawarman)
    Anisa Muyassaroh mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Ia mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan meninggal dunia akibat heat stroke serta henti jantung. Hasil EKG menunjukkan flat asystole, dan dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia pada pukul 19.00 WITA.

  2. Yonanda Muhammad Taufiq (Puslatpur Kodiklatad Baturaja)
    Yonanda Muhammad Taufiq mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja. Ia mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 pukul 17.17 WIB, sebelum dirujuk ke rumah sakit. Meski telah dilakukan tindakan medis intensif, ia dinyatakan meninggal dunia dengan diagnosis cardiac arrest atau henti jantung pada pukul 18.33 WIB.

  3. Novia Rahmadhani Sihotang (Pusbahasa Kodiklatau Jakarta)
    Novia Rahmadhani Sihotang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Ia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan tuberkulosis paru aktif. Meski mendapat perawatan intensif di ICU, Novia meninggal dunia pada pukul 15.13 WIB.

  4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan (Yon Parako 465)
    Rifki mengikuti pendidikan di Satdik Yon Parako 465. Ia mengeluh sesak napas pada 25 Juni 2026 pukul 14.30 WIB dan mendapat penanganan awal. Meski kondisinya membaik, ia kembali mengalami penurunan kesehatan dan dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Rifki dinyatakan meninggal dunia pada pukul 00.28 WIB setelah mendapatkan penanganan maksimal dari tim dokter.

0 Komentar