Melihat Tantangan Pertumbuhan Industri di Rust Belt Tiongkok

Melihat Tantangan Pertumbuhan Industri di Rust Belt Tiongkok

Wilayah Tiongkok Timur Laut: Sejarah, Peran Ekonomi, dan Tantangan yang Menghadang

Tiongkok Timur Laut atau dalam bahasa Mandarin disebut Dongbei adalah wilayah geografis dan administratif penting di Tiongkok. Secara resmi, wilayah ini meliputi tiga provinsi utama: Liaoning, Jilin, dan Heilongjiang. Pusat utama wilayah ini adalah Dataran Tiongkok Timur Laut, yang menjadi dataran terluas di negeri itu dengan luas mencapai lebih dari 350.000 kilometer persegi.

Secara geografis, wilayah ini memiliki batas alam yang jelas: di utara dan timur berbatasan dengan wilayah Timur Jauh Rusia melalui Sungai Amur, Argun, dan Ussuri; di selatan berbatasan dengan Korea Utara melalui Sungai Yalu dan Tumen; serta di barat dipisahkan dari wilayah Tiongok Utara oleh Pegunungan Khingan Raya dan Pegunungan Yan. Di sisi barat daya, wilayah ini menghadap ke Teluk Bohai dan Laut Kuning, serta berjarak sekitar 100 kilometer dari Semenanjung Jiaodong melalui Selat Bohai — di mana saat ini sedang direncanakan pembangunan terowongan bawah laut untuk menghubungkan kedua wilayah tersebut.

Data Dasar Wilayah

Berdasarkan catatan terkini, Tiongkok Timur Laut memiliki luas total sekitar 791.826 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 98.514.948 jiwa dan kepadatan penduduk sekitar 124 jiwa per kilometer persegi. Kota terbesar di wilayah ini adalah Shenyang. Dari sisi ekonomi, pada tahun 2024 wilayah ini mencatatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 6,35 triliun yuan Tiongkok atau setara 983,72 miliar dolar AS, dengan pendapatan per kapita mencapai 66.493 yuan Tiongkok atau sekitar 10.309 dolar AS.

Selain tiga provinsi utama, empat hingga lima prefektur di bagian timur Daerah Otonomi Mongolia Dalam yaitu Chifeng, Tongliao, Hinggan, Hulunbuir, dan Xilin Gol, sering kali juga dimasukkan dalam cakupan wilayah ini, terutama dalam konteks sejarah dan kebijakan pembangunan. Secara historis, kawasan ini dikenal sebagai Manchuria Dalam, berbeda dengan wilayah Manchuria Luar yang telah dikuasai oleh Kekaisaran Rusia sejak pertengahan abad ke-19.

Peran Ekonomi dan Sejarah Pembangunan

Tiongkok Timur Laut memiliki peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan utama Tiongkok. Berkat kesuburan tanah hitamnya, wilayah ini mampu menyumbang lebih dari 20 persen dari total produksi pangan pokok nasional pada tahun 2020. Selain sebagai penghasil pangan, wilayah ini juga menjadi pelopor industrialisasi di Tiongkok.

Pada masa awal berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, kawasan ini menjadi pusat industri berat dan menjadi tulang punggung ekonomi terencana, sehingga dijuluki sebagai “putra sulung Republik”. Namun sejak dimulainya reformasi ekonomi pada tahun 1980-an yang lebih mengutamakan wilayah pesisir timur dan selatan, sektor industri di Timur Laut mengalami penurunan signifikan.

Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang melambat, pemutusan hubungan kerja besar-besaran di perusahaan milik negara yang dikenal dengan istilah Xiagang, serta arus keluar penduduk terampil ke wilayah lain. Kondisi ini kemudian membuat wilayah ini sering dijuluki sebagai “Sabuk Karat Tiongkok”.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah pusat meluncurkan Rencana Revitalisasi Wilayah Timur Laut pada tahun 2003. Melalui kebijakan ini, pemerintah menetapkan kerangka kerja baru yang memasukkan lima prefektur di bagian timur Mongolia Dalam ke dalam cakupan program pembangunan, dengan tujuan memulihkan kembali peran dan daya saing ekonomi wilayah ini di tengah dinamika pembangunan nasional.

Tantangan Struktural di Wilayah Timur Laut

Namun ada persoalan internal yang luput dari sorotan di kawasan timur laut Tiongkok. Akademisi Pema Gyalpo menilai kondisi di timur laut Tiongkok menunjukkan tantangan struktural bagi wilayah yang dahulu sempat menjadi pusat industri Negeri Tirai Bambu. Ia menyatakan bahwa perubahan ekonomi, penuaan penduduk, dan berkurangnya kesempatan kerja saling memperkuat satu sama lain.

Dalam analisanya, Gyalpo menjadikan Dalian sebagai contoh paling nyata dari perubahan yang terjadi di kawasan timur laut. Kota yang dahulu dikenal sebagai salah satu pusat industri berat kini, menurutnya, menghadapi penurunan aktivitas, berkurangnya lapangan kerja, serta meningkatnya tekanan terhadap rumah tangga. Pabrik-pabrik yang sebelumnya menjadi simbol pertumbuhan disebut mulai kehilangan aktivitas, sementara banyak keluarga menghadapi beban utang, pendapatan yang stagnan, dan ketidakpastian ekonomi.

Menurut Gyalpo, perubahan tersebut bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan sosial yang memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari. Ia menggambarkan jalan-jalan di banyak kota di kawasan itu kini lebih banyak dihuni penduduk paruh baya dan lanjut usia, sementara generasi muda memilih pindah ke wilayah selatan Tiongkok yang menawarkan peluang kerja lebih besar.

Tiongkok Timur Laut kerap dijuluki sebagai "rust belt" atau sabuk karat, istilah yang juga digunakan untuk menggambarkan kawasan industri lama di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Menurut Gyalpo, wilayah tersebut dulunya merupakan jantung industrialisasi China sekaligus salah satu daerah yang paling bergantung pada perusahaan milik negara.

Gyalpo juga menyoroti reformasi perusahaan milik negara pada akhir 1990-an yang menurutnya memicu pemutusan hubungan kerja dalam skala besar. Banyak pekerja kehilangan mata pencarian dan memilih meninggalkan kampung halaman menuju wilayah selatan Tiongkok untuk mencari pekerjaan. Proses tersebut menciptakan lingkaran yang sulit diputus.

Ketika lapangan kerja berkurang, semakin banyak penduduk muda bermigrasi. Berkurangnya populasi produktif kemudian menekan aktivitas ekonomi lokal, yang pada akhirnya kembali mengurangi peluang kerja. Dalam analisanya, Gyalpo menyebut istilah "keluar dari posisi" pernah digunakan sebagai pengganti kata pengangguran untuk memberi kesan bahwa para pekerja masih memiliki peluang kembali bekerja. Namun ia berpendapat bahwa bagi banyak keluarga, harapan tersebut tidak pernah benar-benar terwujud.

Rendahnya tingkat pendapatan membuat banyak lulusan perguruan tinggi maupun tenaga profesional enggan kembali ke kampung halaman. Ia mencontohkan bahwa upah di sejumlah kota di kawasan timur laut masih jauh di bawah kota-kota besar seperti Shanghai. Akibatnya, pembicaraan masyarakat yang sebelumnya berpusat pada kepemilikan rumah kini bergeser menjadi bagaimana memperoleh pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pada saat yang sama, krisis demografi terus memburuk. Gyalpo mencatat tingkat kelahiran di Provinsi Heilongjiang pada 2024 hanya sekitar 3,35 kelahiran per 1.000 penduduk. Dalam satu dekade terakhir, tiga provinsi di China Timur Laut juga disebut kehilangan lebih dari 11 juta penduduk tetap. Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan semakin banyak desa ditinggalkan penduduk, dana pensiun menghadapi tekanan, dan jumlah angkatan kerja terus menyusut.

Dalam analisanya, Gyalpo menyebut rumah yang dahulu dipandang sebagai aset kini justru menjadi beban karena harga terus turun sementara permintaan melemah. Ia juga mengutip sejumlah kisah warga yang kehilangan pekerjaan selama bertahun-tahun, menghadapi pemotongan gaji, atau mengalami tekanan psikologis akibat ketidakpastian ekonomi. Meski kisah-kisah tersebut bersifat anekdotal, menurut Gyalpo, semuanya menunjukkan tekanan sosial yang semakin terasa di kawasan tersebut.

Gyalpo berpendapat bahwa apa yang terjadi di Tiongkok Timur Laut tidak dapat dipandang sebagai persoalan regional semata. Menurutnya, kawasan itu menjadi contoh bagaimana kombinasi industri, penurunan populasi, tingginya ketergantungan pada perusahaan milik negara, serta pertumbuhan ekonomi yang melemah. Meski demikian, pandangan tersebut merupakan analisis Pema Gyalpo terhadap perkembangan di Tiongkok Timur Laut. Pemerintah China sendiri dalam beberapa tahun terakhir terus meluncurkan berbagai program revitalisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut dan mempersempit kesenjangan dengan wilayah pesisir yang berkembang lebih pesat.

0 Komentar