
Kehidupan Pagi yang Menyenangkan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus
Pagi yang cerah di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus terasa hidup oleh hentakan musik serta tawa puluhan orang. Sinar matahari menyelinap di antara dedaunan pohon tumbuh yang mengelilingi alun-alun, jatuh dalam garis-garis cahaya yang membelah barisan peserta senam yang berbaris rapi di sisi utara alun-alun.
Mereka kompak mengenakan kaus biru muda berpadu dengan kelompok lain berseragam kuning yang ada di belakangnya. Ini bukan sekadar olahraga pagi biasa, melainkan kegiatan olahraga senam bersama yang melibatkan banyak komunitas senam sekaligus. Tangan-tangan terangkat serempak. Kaki melangkah mengikuti irama. Sementara ekspresi wajah para peserta dari yang serius berkonsentrasi hingga yang tersenyum lebar menceritakan semangat kebersamaan yang menular.
Di tengah barisan seorang perempuan berambut kemerahan dengan kacamata tampil mencolok. Ada juga perempuan dengan rambut hitam dikucir belakang dengan gerakan tegas seolah menjadi penanda bagi yang lain. Di sekelilingnya terdapat perempuan yang juga turut serta larut dalam gerakan yang sama. Perpaduan antara kebugaran, kebersamaan, dan keceriaan yang sederhana namun terasa hangat.
Saat itu tengah berlangsung senam bersama dalam rangka HUT ke-80 Bhayangkara yang melibatkan berbagai komunitas senam pada Minggu (28/6/2026) pagi. Salah satu komunitas yang terlibat yaitu Komunitas Senam Bakra. Nama komunitas ini merupakan akronim dari sanggar senam ini berada, yaitu terletak di sekitar kawasan Terminal Wisata Bakalan Krapyak. Bakra sendiri merupakan akronim dari Bakalan Krapyak.
“Senam di alun-alun ini sudah beberapa kali. Kalau ada undangan untuk senam ke sini, kami ikut,” kata Keti, seorang pendamping instruktur komunitas Senam Bakra.
Kala itu senam yang ditampilkan dalam olahraga bersama di Alun-alun Simpang Tujuh yaitu senam kreasi yang menyadur gerakan tarian dari berbagai daerah di Nusantara. Keti yang sejak awal sudah turut serta dalam senam bersama kali ini tampak begitu menjiwai setiap gerakan yang diperagakan instruktur senam yang berdiri paling depan.
Keti datang tidak sendiri. Dia bersama dengan belasan kawannya dari Senam Bakra. Mereka membawa penanda komunitas berupa seragam kaus berwarna biru muda bertuliskan ‘Senam Bakra, Sari Tambah Maju’.
Komunitas ini sudah berdiri sejak delapan tahun silam. Kini memiliki anggota lebih dari 50 orang yang mayoritas merupakan perempuan di atas 40 tahun. Hadirnya komunitas senam ini menjadi wadah bagi para perempuan untuk tetap bugar di tengah himpitan usia yang terus menua.
Senam Bakra memiliki agenda rutin. Setiap pekan dua kali mereka menggelar senam bersama di sanggar, yaitu setiap Rabu dan Minggu sejak pukul 16.00 sampai pukul 18.00. Selama dua jam itu ada berbagai senam yang diperagakan. Mulai dari zumba, aerobik, sampai senam kreasi.
“Ini menjadi wadah bagi kami para ibu untuk tetap bugar. Kami juga biasanya mendatangkan instruktur,” kata Keti, ibu dua anak yang kini menginjak usia 46 tahun.
Komunitas ini tidak sekadar menjadi wadah peningkat kebugaran bagi kaum hawa yang sudah berusia, melainkan juga menjadi wadah untuk silaturahmi. Dengan adanya pertemuan rutin sembari berolahraga, anggota Senam Bakra lebih bisa memaknai hidup. Mereka bisa saling bertukar pikiran setiap bertemu. Di satu sisi olahraga yang mereka jalankan berupa senam yang rutin diselenggarakan juga menjadi penopang atas kesehatan mereka.
Pertemuan mereka tidak melulu di sanggar. Tetapi saat ada undangan untuk mengikuti senam, kontan mereka terima dengan tangan terbuka. Seperti yang saat ini mereka lakukan di Alun-alun karena diundang untuk ikut senam bersama. Hanya saja yang berangkat anggota yang sedang tidak ada halangan.
0 Komentar