Minyakita Berbau Solar Menyebar ke 4 Kabupaten Jawa Tengah, Warga: "Tenggorokan Nyegrak"

Penemuan Minyak Goreng Minyakita Berbau Minyak Tanah di Jawa Tengah

Temuan minyak goreng merek Minyakita yang berbau minyak tanah atau solar semakin meluas. Kasus tersebut terjadi di empat kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Wonogiri, Klaten, Karanganyar, dan Sragen. Di Sragen, salah satu warga Desa Gading, Kecamatan Tanon, mengalami keluhan serupa setelah menggunakan bantuan minyak goreng dari pemerintah.

Warga Desa Gading mulai merasa khawatir ketika mendengar cerita dari tetangga tentang aroma menyengat dan perubahan rasa makanan saat digunakan memasak. Hal ini membuat mereka berbondong-bondong datang ke kantor desa untuk melaporkan dan menukarkan Minyakita yang diterima. Proses penukaran dilakukan dengan membawa kemasan Minyakita berukuran satu liter dan ditukar dengan produk baru yang disiapkan oleh petugas Bulog di Kecamatan Tanon.

Penukaran minyak goreng berlangsung di lorong Kantor Desa Gading. Warga yang datang lebih dulu didata oleh perangkat desa sebelum menerima minyak pengganti. Kasi Kesra Desa Gading, Yuli Cahyono, menjelaskan bahwa proses ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat mengenai minyak goreng bantuan yang diduga berbau minyak tanah dan solar. Ia juga menyebut bahwa sekitar 633 warga Desa Gading menerima bantuan minyak goreng tersebut, dan hingga siang hari, sedikitnya 83 penerima manfaat telah datang untuk menukar minyak goreng.

Seorang warga Dukuh Karang, Desa Gading, Iswarni (46) mengaku mencoba menggunakan minyak goreng bantuan yang diterima ibunya, Sanikem (82), setelah mendengar cerita dari tetangga. Hasilnya, rasanya tidak biasa. Ia menggunakan minyak tersebut untuk menggoreng nasi goreng dan tahu bakso, namun hasil masakannya memiliki rasa yang berbeda dari biasanya. “Rasanya seperti kering dan tenggorokan nyegrak,” katanya.

Pemerintah desa bersama Bulog kini terus melayani penukaran minyak goreng bagi warga penerima bantuan yang mengalami keluhan serupa. Langkah ini dilakukan agar masyarakat tetap memperoleh minyak goreng yang layak dikonsumsi sekaligus merespons cepat keresahan yang muncul di tengah warga.

Temuan di Wonogiri

Sebelumnya, warga Kelurahan Gesing, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri mengeluhkan kualitas Minyakita yang diterima dalam paket Program Bantuan Pangan. Mereka menyebut minyak goreng tersebut mengeluarkan aroma menyerupai minyak tanah atau solar saat digunakan untuk memasak.

Lurah Gesing, Jamari, membenarkan adanya laporan dari warga penerima bantuan. Menurut dia, sekitar enam orang menyampaikan keluhan melalui WhatsApp, tiga hari yang lalu. Ia menjelaskan bahwa bantuan Minyakita telah didistribusikan kepada 1.203 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada 8 Juni 2026. Setelah dibuka dan dipakai memasak, hasil masakannya rasanya agak aneh, seperti ada rasa minyak tanah atau solar.

Selain aroma yang tidak biasa, warga juga mengeluhkan warna minyak yang terlihat lebih pekat dibandingkan Minyakita yang beredar di pasaran. Jamari menyebut bahwa seluruh produk yang dikeluhkan telah ditarik dan diganti oleh pihak penyedia. Seluruh 1.203 KPM di kelurahan ini diganti semua.

Polisi Periksa Lurah Tegalgede

Terpisah, Lurah Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Bowo Budi Setyo menceritakan proses pemeriksaannya di Satreskrim Polres Karanganyar terkait temuan minyak goreng berbau minyak tanah dan solar di wilayahnya. Bowo menyebut bahwa penyidik hanya mengajukan tiga pertanyaan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Ia memenuhi panggilan penyidik pada Jumat (26/6/2026) sekira pukul 09.30. Pemeriksaan berlangsung singkat dan berfokus pada kronologi temuan minyak goreng yang dikeluhkan warga di Tegagede. Menurut Bowo, seluruh pertanyaan yang diajukan penyidik berkaitan langsung dengan kasus minyak goreng berbau minyak tanah dan solar. “Hanya tiga pertanyaan, seputar minyak goreng berbau minyak tanah dan solar itu,” ungkap Bowo.

Selain dirinya, penyidik juga meminta keterangan dari koordinator lingkungan (Korling) dan salah satu ketua RT di Kelurahan Tegalgede. Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai, Bowo menyebut penanganan di tingkat pemeriksaan saksi telah rampung. Ia juga memastikan persoalan minyak goreng yang sempat dikeluhkan warga telah ditindaklanjuti. Seluruh minyak goreng yang berbau minyak tanah dan solar telah ditarik dan diganti dengan produk baru.

Sekira 859 paket minyak goreng pengganti telah didistribusikan kembali kepada warga penerima manfaat. “Tadi bilang sudah diselesaikan kemarin lewat pengembalian, sudah distribusikan dan diterima dengan baik, tidak ada masalah,” ujar dia.

Produsen Tanggung Biaya Medis Warga

PT Kusuma Mukti Remaja (PT KMR) sebagai produsen Minyakita juga telah merespons temuan minyak goreng merek Minyakita yang bermasalah dalam program bantuan pangan di Kabupaten Klaten. Perusahaan tersebut langsung menarik produk yang diduga bermasalah, menggantinya dengan produk baru, serta menjamin penanganan kesehatan warga yang terdampak.

Direktur PT KMR, Joko Mukti Wijaya menegaskan bahwa pihaknya langsung bergerak setelah menerima laporan dari masyarakat. “Kami langsung bergerak, begitu mendapat laporan dari warga. Minyakita sudah ditarik dan diganti dengan produk yang baru,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

PT KMR bersama Bulog, pemerintah daerah, dinas terkait, aparat, serta pemerintah desa turun langsung melakukan pengecekan di lapangan. Joko menegaskan bahwa perusahaan tidak mengambil risiko terhadap keamanan konsumen. Perusahaan juga masih menunggu hasil investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab munculnya permasalahan pada produk Minyakita tersebut.

“Karena itu, seluruh produk yang terindikasi bermasalah langsung ditarik dari peredaran,” tegasnya. PT KMR juga menyatakan siap menanggung layanan kesehatan bagi warga yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan yang diolah menggunakan minyak tersebut.

“Setiap laporan masyarakat akan ditindaklanjuti dan mendapatkan perhatian serius. Perusahaan akan menanggung layanan medis, atas keluhan kesehatan masyarakat tersebut,” kata Joko. Ia juga mengimbau masyarakat penerima bantuan pangan agar tidak ragu melaporkan jika menemukan produk yang tidak sesuai standar kualitas. Dia menegaskan bahwa setiap laporan akan langsung ditindaklanjuti untuk memastikan bantuan pangan yang diterima masyarakat tetap aman untuk dikonsumsi.

0 Komentar