Musim Durian Anambas, Rasa Manis Dominasi, Pahit Masih Langka

Musim Durian di Anambas Mulai Berlangsung

Buah durian mulai membanjiri kawasan Pasar Tarempa, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), pada Minggu (28/6/2026). Kehadiran durian dalam jumlah banyak menandai dimulainya musim panen yang telah dinantikan masyarakat setempat. Sejak pagi, deretan durian terlihat memenuhi sisi jalan di kawasan pasar.

Aroma khas buah berduri itu langsung tercium dari kejauhan dan menarik perhatian warga yang melintas maupun sengaja datang untuk berburu durian lokal. Para pedagang menggelar dagangannya di atas hamparan terpal maupun langsung di atas aspal jalan. Sebagian durian diikat menjadi satu paket berisi tiga hingga empat buah agar lebih mudah dijual. Sementara sebagian lainnya diletakkan terpisah sehingga pembeli dapat memilih sendiri berdasarkan ukuran dan bentuknya.

Aktivitas tawar-menawar pun terlihat cukup ramai. Para pembeli memeriksa durian satu per satu dengan cara menggoyang, mencium aroma, hingga mengetuk kulit buah untuk memastikan tingkat kematangannya.

Salah seorang pedagang durian, Amrizal, mengatakan seluruh durian yang dijual merupakan hasil panen petani lokal dari kawasan Tarempa Barat Daya hingga Tiangau. Menurutnya, tidak ada durian yang didatangkan dari luar Kabupaten Kepulauan Anambas. Seluruh buah berasal dari kebun milik warga yang memang mulai memasuki masa panen.

"Ini dari kebun yang dekat sini, tidak ada dari luar Anambas. Kan kita ada pohon durian, ya tentu jual punya kita," ujar Amrizal.

Ia menjelaskan, pasokan durian mulai meningkat sejak sekitar satu pekan terakhir. Dalam beberapa hari terakhir, hasil panen dari berbagai kebun terus berdatangan sehingga jumlah durian di Pasar Tarempa semakin banyak. Kondisi tersebut menjadi pertanda musim durian di Anambas telah benar-benar dimulai. Jika cuaca tetap mendukung, panen diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Amrizal mengatakan, sebelum memasuki masa panen, para petani terlebih dahulu melewati proses panjang mulai dari munculnya bunga hingga buah tumbuh dan membesar. Selama itu, mereka rutin menjaga pohon agar buah tidak rontok dan terhindar dari hama sehingga hasil panen tetap maksimal.

"Alhamdulillah, bunga durian awalnya mekar dan berubah jadi buah. Tentu kita jaga baik-baik jangan sampai gagal panen," katanya.

Untuk harga, Amrizal menyebutkan durian dijual sesuai kualitas rasa. Semakin pahit rasa daging buahnya, maka harganya juga akan semakin tinggi karena jenis tersebut lebih banyak dicari para pecinta durian.

"Kita per ikat saja itu durian biasa ya. Kalau per ikat Rp50 ribu, ada tiga biji durian. Kalau rasanya pahit mahal lagi, bisa Rp100 ribu per biji tergantung kualitas rasa," jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pembeli, Dayat, mengaku sengaja datang memilih durian dengan kualitas terbaik. Durian tersebut akan dikirimkannya ke Tanjungpinang sebagai buah tangan untuk kedua orang tuanya.

"Walau tak bisa kirim banyak, ya setidaknya orang tua saya dapat merasakan durian Anambas," ujar Dayat.

Menurut Dayat, durian Anambas umumnya memiliki cita rasa manis dengan tekstur daging yang cukup lembut. Namun, ia menilai karakter tanah di wilayah Anambas yang didominasi bebatuan membuat pohon durian tidak menghasilkan buah dengan rasa pahit yang menjadi favorit sebagian penikmat durian.

Karena itu, durian Anambas dinilai masih kalah bersaing dibandingkan durian dari daerah lain seperti Bintan maupun Lingga yang lebih dikenal memiliki rasa pahit dan aroma lebih kuat.

"Rasanya kebanyakan manis, tidak pahit. Kalau orang suka durian tentu cari yang pahit-pahit. Itulah kelemahan durian Anambas. Kurang bersaing dari daerah lain seperti Bintan dan Lingga," katanya.

Meski demikian, melimpahnya hasil panen durian lokal tetap membawa berkah bagi petani dan pedagang di Anambas. Ramainya pembeli di Pasar Tarempa diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat selama musim durian berlangsung. Sekaligus menjadi kesempatan memperkenalkan buah khas daerah kepada para pengunjung dari luar Anambas.

0 Komentar