Perantau di Jogja: Kisah Ruhaeni Intan, Novelis Kusala Sastra


Bagi sebagian orang, menjadi perantau berarti menerima kutukan selamanya atas hidup yang tak akan pernah berpijak. Ada perasaan mengambang, asing, dan liyan yang terus menghantui di setiap langkah. Bagi seorang novelis, kondisi ini justru bisa menjadi tantangan besar. Sebab, dalam banyak karya sastra—seperti Ronggeng Dukuh Paruk atau Bumi Manusia—latar tempat memiliki peran penting dalam cerita. Tanpa rasa terhubung pada suatu tempat, bagaimana mungkin menggubah karya dengan kekuatan serupa?

Ruhaeni Intan, seorang novelis kelahiran Pati, Jawa Tengah, merasakan hal itu. Ia sudah merantau sejak usia 18 tahun saat melanjutkan kuliah ke Semarang. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk bekerja, dan kini tinggal di Yogyakarta. Perjalanan ini memang membawanya pada banyak ide dan perspektif baru untuk karyanya. Namun, ia juga merasa seperti mengambang.

Perantauan bukan hanya tentang pindah tempat, tapi juga tentang perasaan tidak punya akar. Di Jogja, ia merasa tidak sepenuhnya menjadi orang Jogja. Sementara itu, ia juga tidak lagi merasa dekat dengan daerah asalnya, Pati. Kombinasi ini memengaruhi cara ia membangun dunia dalam karya-karyanya.

“Sebagai perantau, kita nggak benar-benar berpijak. Jauh dari kampung halaman, dan di tempat baru juga masih dianggap sebagai orang luar,” kata Intan.

Ia mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah bagaimana menulis sebuah tempat yang nyata dan indah. Seperti Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari, yang mampu menjelaskan latar tempat dalam novel mereka. Untuk novela terbarunya, Seakan Bisa Dipisahkan, ia menyiasati keterbatasan itu dengan menempatkan tokoh-tokohnya di ruang yang terbatas, seperti rumah. Konflik dan dinamika antarkarakter dipusatkan di dalam rumah, sehingga ia tidak perlu menyebut lokasi geografis tertentu.

Angkat Potret Keluarga Disfungsional di Indonesia

Seakan Bisa Dipisahkan bercerita tentang Sofia, seorang anak perempuan sulung yang memiliki hubungan rumit dengan ibunya. Ibu Sofia selalu mengalah atas sikap ayahnya yang perlahan merusak kenyamanan di rumah. Kebencian mulai tumbuh dalam dirinya, dan puncaknya, ia memilih meninggalkan rumah.

Potret semacam ini mungkin bukan hal pertama yang muncul ketika kita mencari kata "keluarga" di internet atau menonton tayangan televisi. Secara default, kata "keluarga" biasanya disandingkan dengan "harmonis". Namun, dalam kenyataannya, kisah seperti keluarga Sofia justru lebih sering ditemukan.

Intan menduga bahwa keluarga disfungsional di Indonesia justru lebih banyak daripada keluarga harmonis. Dugaan ini bermula dari kegemarannya menonton film-film Jepang, terutama karya Hirokazu Kore-eda yang mengangkat tema keluarga tidak harmonis.

Keyakinan itu semakin menguat saat Intan bekerja di media parenting di Jakarta. Di lingkungan kerja yang dekat dengan tema keluarga, ia mendapati dinamika keluarga yang sangat beragam. “Waktu itu kerja di Asian Parent, sering nulis tentang keluarga. Terus percampuran di antara itu semua bikin aku sadar kalau di Indonesia juga banyak keluarga disfungsionalnya,” katanya.

Pengalaman dan pengamatan itu menjadi stimulus untuk menulis Seakan Bisa Dipisahkan, yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada 2025.

Kusala Sastra Khatulistiwa yang Membuka Jalan

Sebagai penulis yang masih merintis, Intan sering mengirimkan karyanya ke media atau mendaftarkan naskahnya di sayembara. Dua motivasi utamanya: pengakuan dan hadiah. Ia membutuhkan keduanya untuk bertahan hidup, apalagi dengan mimpi menjadi penulis penuh waktu.

Lewat Seakan Bisa Dipisahkan, target itu akhirnya tercapai. Pada 20 Juni 2026, Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) mengumumkan 10 judul novel yang masuk daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Ini adalah salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di Indonesia. Dan novela Intan ada dalam daftar tersebut, berjajar dengan sejumlah penulis senior.

“Sama sekali nggak mengira, apalagi kalau kita lihat daftar longlist-nya namanya keren-keren. Ada beberapa nama senior kayak Nukila Amal, terus Ratih Kumala. Buset, novelku masuk nih?” ungkapnya.

Penghargaan ini menjadi penghargaan nasional pertama yang pernah diterima Intan. Ia mengakui bahwa dampaknya sangat besar. “Di luar pro-kontranya, penghargaan itu semacam bentuk pengakuan. Pengakuan di sini maksudnya bukan untuk urusan narsistik, tapi untuk membuat orang yakin bahwa, ‘aku akan beli buku dia,’ gitu.”

Selain Kusala Sastra Khatulistiwa, pada bulan yang sama, Intan juga menerima kabar gembira lain: Seakan Bisa Dipisahkan meraih Juara 2 Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” #5.

Kini, dari Jogja, Intan terus melanjutkan hidup dengan menulis karya-karya fiksi yang lahir dari pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari dan relasi antarmanusia, sambil ditemani kucing-kucingnya.

“Aku membayangkan karya-karyaku berikutnya itu, kayaknya tetap nggak akan bisa jauh-jauh dari dan tentang perempuan. Tapi aku lagi pengen mengeksplorasi hal lain supaya tetap bisa bikin diriku excited,” pungkasnya.

0 Komentar