
Momentum Refleksi Peran Keluarga dalam Sejarah dan Pembangunan
Hari Keluarga Nasional ke-33 tahun 2026 yang dipusatkan di Yogyakarta menjadi momen penting untuk merenungkan peran strategis keluarga dalam sejarah perjuangan bangsa serta keberlanjutan pembangunan. Acara ini tidak hanya menjadi ajang memperingati momen penting, tetapi juga menjadi ruang dialog bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas relevansi nilai-nilai perjuangan dalam penguatan ketahanan keluarga di era modern.
Diskusi interaktif bertajuk "Refleksi Yogya Kembali: Relevansi Nilai Perjuangan dalam Penguatan Ketahanan Keluarga di Era Modern" digelar di Yogyakarta pada Senin (29/6/2026). Acara ini menjadi wadah untuk membedah urgensi penguatan unit keluarga sebagai pilar negara. Dalam diskusi tersebut, para peserta menyampaikan pandangan tentang bagaimana keluarga dapat menjadi fondasi utama dalam membangun bangsa yang lebih tangguh dan berkualitas.
Sejarah Jogja Kembali dan Maknanya bagi Keluarga
Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Baha Uddin, M.Hum., menjelaskan bahwa momentum 29 Juni 1949, atau dikenal sebagai peristiwa Jogja Kembali, merupakan momen emosional saat para pejuang kembali ke pelukan keluarga setelah Yogyakarta dikosongkan dari tentara pendudukan Belanda. Menurutnya, peristiwa ini menjadi simbol perjuangan bangsa yang melibatkan keluarga sebagai komponen penting.
"Untuk melawan propaganda Belanda yang menyebut RI sudah hancur, Sri Sultan HB IX merancang Serangan Umum 1 Maret 1949 bersama TNI. Meski hanya 6 jam menduduki kota, itu membuktikan ke dunia internasional bahwa RI masih eksis. PBB memaksa Belanda berunding, yang melahirkan Perjanjian Roem-Royen. Implementasinya, pada 29 Juni 1949, TNI dan laskar pejuang masuk kembali ke Yogyakarta. Inilah momen bersejarah para pejuang kembali bertemu dengan keluarganya yang ditinggalkan selama bergerilya. Momen inilah yang menjadi inspirasi Hari Keluarga Nasional," ujar Baha Uddin.
Pentingnya Pemahaman Sejarah bagi Generasi Muda
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk memahami sejarah dan silsilah keluarga sebagai bekal menyongsong masa depan. Ia menegaskan bahwa penguasaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan metaverse harus berjalan beriringan dengan pemahaman akar sejarah bangsa.
"Kita lahir dari silsilah keluarga: mbah, mbuyut, canggah, wareng, udeg-udeg, gantung siwur. Kalau tidak diuri-uri (dilestarikan), kita bisa lupa sejarah. Untuk generasi muda (Gen Z), silakan belajar IT, coding, AI, Metaverse, tapi jangan lupakan sejarah. Sejarah memberikan perspektif ke depan," tegas Wihaji.
Tantangan dalam Pembangunan Ketahanan Keluarga di Era Modern
Dalam tataran praktis, pembangunan ketahanan keluarga di era modern menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P., M.M., menekankan pentingnya keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan anak.
"Keluarga adalah unit terkecil. Jika kita berhasil membangun keluarga yang tangguh, itu akan sangat menyokong pembangunan nasional. Pengasuhan anak tidak boleh hanya diserahkan kepada ibu. Kehadiran ayah sangat penting untuk mencegah kekerasan, memberikan kasih sayang yang seimbang (fisik dan psikis), agar anak tumbuh menjadi generasi berkualitas dan kelak membentuk keluarga yang tangguh pula," kata Erlina.
Pergeseran Fokus Program Keluarga Berencana
Perwakilan Juang Kencana BKKBN DIY, H. Suripto, S.H., M.Si., menyoroti pergeseran fokus program keluarga berencana. Ia mengajak para ayah untuk lebih peka dalam mendampingi tumbuh kembang anak, terutama di tengah arus digitalisasi yang kerap menggerus kualitas interaksi antaranggota keluarga di dalam rumah.
"Dulu sasaran program KB mayoritas adalah ibu-ibu karena keterbatasan alat kontrasepsi pria. Di Jogja, Total Fertility Rate (TFR) sukses di angka 1,8. Sekarang, peran ayah sangat ditekankan. Di era gawai (gadget) di mana interaksi berkurang, ayah harus hadir mendampingi pendidikan dan kesehatan putra-putrinya," ungkap Suripto.
Peran Keluarga dalam Pewarisan Budaya
Di Yogyakarta, keluarga memegang peran sentral dalam mentransformasikan nilai-nilai budaya dan keistimewaan. Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, S.H., M.H., menyebutkan bahwa tradisi yang melekat dalam siklus kehidupan keluarga menjadi media utama pewarisan nilai-nilai leluhur.
"Warisan leluhur di DIY berupa nilai-nilai budaya bangsa yang harus dijaga. Media utamanya adalah keluarga. Sejak pranikah ada prosesi siraman dan midodareni. Setelah berkeluarga dan nggarbini (hamil), ada upacara mitoni yang penuh doa bagi generasi penerus. Saat lahir ada brokohan, lalu tedhak siten hingga peringatan weton dengan jenang abang putih. Semua tradisi sarat makna ini ditransformasikan melalui keluarga, agar generasi mendatang tetap memiliki value luhur dan keistimewaan kita terjaga," tutur Ariyanti.
Penutup Diskusi: Peran Keluarga dalam Eksistensi Negara
Dalam penutup diskusi, Baha Uddin kembali mengingatkan tentang peristiwa krusial yang terjadi sehari setelah 29 Juni, yakni penegasan eksistensi Republik Indonesia melalui Proklamasi Kedua pada 30 Juni 1949.
"Keluarga memegang peran penting dalam menyokong perjuangan kemerdekaan. Negara yang kuat dan sejahtera fondasinya adalah keluarga yang sejahtera. Saat itu, Presiden Soekarno memberi wewenang kepada Sri Sultan HB IX sebagai Kepala Pemerintahan Transisi untuk memproklamasikan kembali eksistensi RI. Tanpa Jogja Kembali (29 Juni) dan Proklamasi Kedua (30 Juni), nasib RI mungkin berbeda. Ini menunjukkan bahwa Yogyakarta tidak hanya merawat Indonesia, tetapi terus memberikan inspirasi mencerahkan bagi bangsa," pungkas Baha.
0 Komentar