Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud sebagai Daya Tarik Wisata Budaya
Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud kini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang unggulan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat lereng Gunung Kelud kepada Tuhan, tetapi juga menjadi simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dengan perkembangan pariwisata yang semakin pesat, ritual ini kini juga masuk dalam Kalender Event Tahunan Kabupaten Kediri, sehingga memperluas cakupan promosi dan menarik lebih banyak wisatawan.
Pemerintah Kabupaten Kediri terus berupaya memadukan potensi wisata alam dengan pelestarian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Ritual Larung Sesaji bukan hanya sekadar prosesi adat, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya, sejarah, dan kearifan lokal kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sesuai dengan dinamika zaman.
Peran Pemerintah dalam Pengembangan Wisata Budaya
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, menjelaskan bahwa pengembangan sektor pariwisata tidak hanya bertumpu pada keindahan alam Gunung Kelud, tetapi juga pada kekayaan tradisi yang dimiliki masyarakat setempat. Menurutnya, pelestarian budaya menjadi strategi penting untuk menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap lestari.
"Tradisi ini bukan hanya harus dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi kekuatan pariwisata Kabupaten Kediri. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman," jelas Mustika. Ia menambahkan bahwa saat ini Ritual Larung Sesaji telah masuk dalam Kalender Event Tahunan Kabupaten Kediri. Dengan status tersebut, pemerintah daerah dapat melakukan promosi secara lebih luas sehingga wisata budaya di Gunung Kelud semakin dikenal masyarakat dari berbagai daerah.
Wujud Syukur Masyarakat Lereng Gunung Kelud
Ritual Larung Sesaji merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah, sekaligus doa bersama agar masyarakat di lereng Gunung Kelud senantiasa diberi keselamatan, kesejahteraan, dan dijauhkan dari berbagai bencana. Tradisi yang rutin digelar setiap bulan Suro atau Muharam tersebut juga menjadi simbol kuat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang terus dijaga oleh masyarakat hingga saat ini.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan berbagai kesenian tradisional seperti tari daerah, Reog, dan atraksi Bujang Ganong yang menghibur ribuan pengunjung sejak pagi. Beragam pertunjukan itu turut memperkaya pengalaman wisatawan yang datang ke kawasan Gunung Kelud. Prosesi kemudian memasuki tahap sakral ketika sosok yang memerankan Ratu Kediri Dewi Kilisuci membawa bokor berisi bunga sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah Kerajaan Kediri. Bokor tersebut diserahkan kepada Camat Ngancar dan diteruskan kepada Penjabat Kepala Desa Sugihwaras sebagai lambang keterkaitan sejarah antara Kediri dan Gunung Kelud.
Wisata Ramai, Ekonomi Warga Ikut Bergerak
Sementara itu, Kepala Desa Sugihwaras, Mariana Dwi Noventi, menjelaskan Ritual Larung Sesaji merupakan puncak rangkaian kegiatan budaya yang telah berlangsung sejak 18 Juni 2026. Selama hampir dua pekan, masyarakat bergotong royong menyiapkan berbagai kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan warga. Pada prosesi puncak tahun ini, masyarakat secara swadaya menyiapkan 18 tumpeng nasi dan 15 gunungan hasil bumi. Seluruh hasil bumi tersebut kemudian diperebutkan pengunjung sebagai simbol keberkahan dan rezeki.
Menurut Mariana, seluruh rangkaian berlangsung tertib tanpa menimbulkan kericuhan, sekaligus memperlihatkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap salah satu agenda wisata budaya unggulan Kabupaten Kediri. "Kalau wisata Gunung Kelud kembali ramai, otomatis ekonomi warga meningkat lewat berjualan. Masyarakat di sini sangat bergantung pada sektor wisata dan hasil pertanian, terutama buah nanas yang jadi komoditas unggulan," ungkapnya.
0 Komentar