Kampung Pintusari Membangun Replika Kapal Selam 15 Meter untuk Karnaval 17 Agustus
Warga Kampung Pintusari, Ciapus, Banjaran, Kabupaten Bandung sedang membangun replika kapal selam sepanjang 15 meter untuk memeriahkan karnaval 17 Agustus. Proyek ini menggunakan bahan-bahan sederhana seperti kerangka bambu dan lapisan kertas semen bekas. Ide pembuatan replika kapal selam ini digagas oleh Deden bersama tim Creative Division dengan biaya swadaya dan donasi.
Replika kapal selam Pasopati ini dibuat sebagai bentuk perayaan sejarah Indonesia yang pernah memiliki kapal selam. Tujuan dari proyek ini adalah untuk mengenang sejarah dan ikut meramaikan karnaval dengan karya yang unik dan kreatif. Deden menjelaskan bahwa mereka ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, seperti kereta api, kapal, dan helikopter.
Pembangunan Kapal Selam dengan Bahan Sederhana
Pembangunan kapal selam dimulai pada 1 Juni dan terus berjalan hingga saat ini. Kerangka kapal dibuat dari bambu, kemudian ditutup dengan kertas bekas kantong semen. Bahan tersebut dipilih karena teksturnya menjadi keras setelah kering dan mampu menahan cuaca luar ruangan.
Deden dan tim membagi pekerjaan menjadi beberapa tahap. Setiap bagian dikerjakan secara bertahap, kemudian disatukan menjadi struktur kapal yang lebih besar. Hal ini dilakukan agar proses pengerjaan tidak terlalu rumit dan bisa diselesaikan dengan cepat.
Perhitungan Ukuran dan Keterbatasan Lingkungan
Ukuran kapal selam disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Tinggi kapal dibatasi agar tidak mengenai kabel yang melintas di atas lokasi pengerjaan. Panjang kapal sekitar 15 meter, lebar 3,5 meter, dan tinggi hampir empat meter.
Proses penutupan permukaan kapal dilakukan dengan kertas bekas kantong semen. Deden mengatakan bahwa bahan ini dipilih setelah mencoba beberapa material lain, seperti karung, tetapi tidak cocok untuk tahap pengecatan. Kertas semen yang digunakan didapatkan dari pengepul dan akan dikembalikan setelah selesai.
Tantangan dalam Pengerjaan
Hujan menjadi tantangan dalam pengerjaan. Meski kertas semen mampu menghadapi cuaca luar ruangan, tetap saja bisa mengalami kerusakan jika terkena hujan. Pengalaman buruk ketika membuat replika kereta api tahun sebelumnya juga menjadi pelajaran penting.
Pengerjaan dilakukan dengan cara sederhana. Deden dan tim kreatif di kampungnya tetap menjalani aktivitas sehari-hari, sehingga waktu membuat kapal lebih banyak dilakukan pada malam hari. Warga sekitar juga ikut membantu meski tidak seluruh proses dikerjakan bersama-sama.
Donasi dan Biaya Pengerjaan
Biaya pengerjaan hingga tahap pembungkusan mencapai Rp8 juta. Dana tersebut berasal dari donasi sejumlah orang. Sebelumnya, kelompok Creative Division mengandalkan uang patungan anggota untuk memulai pengerjaan. Seiring pengerjaan berjalan, sejumlah orang yang melihat aktivitas mereka juga ikut memberikan bantuan.
Pengemudi Kapal Selam
Di dalam kapal selam ini nantinya akan dikemudikan oleh Deden. Uniknya, sebagai pengemudi, Deden tidak akan bisa melihat bagaimana perjalanan yang dilewatinya karena seluruh area tertutup. Nanti akan ada orang yang naik di atas kapal selam dan memberi tahu arah jalan menggunakan handy talkie. Deden mengemudikan sesuai arahan dan insting saja.
Tujuan dan Harapan
Bagi Deden, kapal selam tersebut bukan dibuat untuk mengejar hadiah atau menjadi juara karnaval. Karya berukuran besar itu lahir karena mereka memang memiliki kegemaran membuat sesuatu dan ingin ikut meramaikan perayaan kemerdekaan. Tradisi tersebut bahkan sudah berlangsung sejak generasi sebelumnya. Deden mengatakan, warga Pintusari telah lama aktif mengikuti karnaval di Kecamatan Banjaran.
Harapan Deden adalah tidak ada yang khusus. Ia hanya ingin menikmati kemerdekaan dan ikut meramaikannya dengan kemampuan yang dimiliki. Daripada terlalu banyak berharap atau memikirkan hal-hal yang belum tentu, lebih baik ia jalani apa yang ada. Ia nikmati dan kerjakan bersama-sama sesuai kemampuan.
0 Komentar