
Kehidupuan Seorang Pedagang Durian di Tana Tidung
Di tengah keramaian Ruang Terbuka Hijau (RTH) Joesoef Abdullah, Jalan Perintis, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, terdapat deretan mobil pikap yang membawa durian. Pemandangan ini kini menjadi bagian dari rutinitas warga setempat saat musim panen tiba. Warga berdatangan untuk memilih durian yang dijajakan oleh para pedagang. Banyak pembeli yang mencicipi buah sebelum memutuskan untuk membelinya.
Salah satu pedagang yang menarik perhatian adalah Marni. Ia menjual durian dan buah elai di kawasan tersebut selama sekitar satu bulan terakhir. Namun, durian yang ia jual tidak berasal dari Tana Tidung, melainkan dari Kabupaten Malinau yang sedang memasuki musim panen.
Marni mengatakan bahwa ia telah berjualan di RTH ini selama kurang lebih satu bulan. Ia membawa durian langsung dari Malinau karena di sana banyak buah durian yang matang. Menurutnya, keunggulan durian yang ia jual adalah buah tersebut matang secara alami di pohon. Petani menunggu hingga durian jatuh sebelum menjualnya.
Perjalanan Panjang untuk Mendapatkan Stok Durian
Untuk mendapatkan stok durian, Marni tidak cukup hanya mendatangi satu lokasi. Jumlah buah yang diperoleh dari masing-masing petani tidak selalu banyak, sehingga ia harus berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya. Rutinitas itu dilakukan dalam satu rangkaian perjalanan. Pada malam hari, Marni berangkat menuju Malinau. Keesokan paginya, ia berkeliling kebun untuk membeli durian, kemudian kembali ke Tana Tidung pada siang atau sore hari untuk berjualan.
Cara tersebut dilakukan agar durian yang dijual tetap segar. Marni mengupayakan buah tidak tersimpan hingga keesokan harinya. Jika sampai malam masih ada durian yang belum terjual, ia memilih menurunkan harga bahkan menjualnya di bawah modal.
Garansi untuk Kepuasan Pembeli
Upaya menjaga kualitas buah menjadi salah satu cara Marni mempertahankan kepercayaan pembeli. Ia memberikan garansi kepada pelanggan apabila durian yang dibeli ternyata mentah atau busuk hingga tidak dapat dikonsumsi. Menurutnya, pembeli di Tana Tidung cukup ramai, terutama ketika musim durian sedang berlangsung.
“Alhamdulillah pembeli di KTT ini ada saja, lumayan ramai. Apalagi saya kasih garansi, jadi kalau ada yang mentah atau busuk yang sampai tidak bisa dimakan sama sekali bisa ditukar buahnya,” ujarnya.
Bagi Marni, kepuasan pelanggan menjadi hal yang penting meskipun pemberian garansi membuatnya harus mengganti sebagian buah yang kualitasnya tidak sesuai. “Saya kasih garansi karena prinsip saya masa orang sudah beli mahal-mahal tapi tidak bisa dimakan kan kasihan. Saya juga sebagai penjual tidak mungkin tidak ada untungnya sama sekali,” katanya.
Harga dan Selera Pembeli
Harga durian yang dijual Marni cukup beragam. Pembeli bisa mendapatkan buah mulai dari Rp5 ribu hingga Rp70 ribu per buah, tergantung ukuran. “Harganya itu mulai dari Rp5 ribu, Rp10 ribu, Rp15 ribu, Rp20 ribu sampai Rp70 ribu per biji tergantung ukurannya,” katanya.
Namun, ada hal menarik dari selera pembeli di Tana Tidung. Marni menyebut durian berukuran kecil justru lebih banyak diminati dibandingkan buah berukuran besar. Menurutnya, ukuran bukan menjadi jaminan rasa. Durian kecil yang dijualnya tetap memiliki daging buah dengan rasa manis.
“Di sini rata-rata malah lebih suka yang kecil-kecil. Bahkan ada yang sudah borong durian kecil sekarung, tidak lama datang lagi dia memborong yang kecil lagi,” ujarnya.
Buah Elai Ikut Dijajakan
Selain durian, Marni juga menawarkan buah elai yang merupakan buah khas Kalimantan. Secara tampilan, elai sekilas menyerupai durian. Namun, buah tersebut memiliki kulit berwarna kuning cerah, daging berwarna oranye, serta aroma yang lebih lembut dibandingkan durian.
Meski memiliki konsumen tersendiri, permintaan elai masih belum menyamai durian. “Saya juga ada jual buah elai, tapi tetap peminatnya lebih banyak durian. Elai juga lumayan banyak peminatnya, tapi tidak sebanyak durian,” katanya.
Untuk pembeli yang masih mempertimbangkan pilihan, Marni memberikan kesempatan mencicipi buah sebelum dibawa pulang. Jika rasa durian dianggap kurang manis, pembeli dapat meminta penggantian buah.
0 Komentar