Kondisi Harga dan Pasokan Semen di Aceh
Anggota Komite II DPD RI, Azhari Cage, menyoroti masalah harga dan kelangkaan semen yang terjadi di Aceh. Ia meminta PT Solusi Bangun Andalas (SBA) untuk segera mengevaluasi dan memanggil distributor yang diduga memainkan harga semen hingga mencapai Rp120 ribu lebih per sak. Menurutnya, kondisi ini bisa berdampak buruk bagi masyarakat yang sedang memulihkan pascabencana.
“Kita minta untuk dipanggil para distributor mengingat kondisi hari ini, di mana semen tak hanya langka tapi harganya cukup melambung, ada yang sampai Rp120 ribu lebih per sak. Dipanggil untuk dikumpulkan secara resmi, nanti kan bisa tahu siapa distributor yang nakal,” ujarnya saat melakukan kunjungan kerja ke Pabrik SBA, di Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu (8/8/2026).
Azhari menyatakan bahwa persoalan harga dan kelangkaan semen jangan sampai membuat pabrik menjadi sasaran masyarakat. Menurutnya, pihak pabrik perlu memperjelas persoalan di tingkat distributor agar masyarakat mengetahui sumber masalah sebenarnya.
“Kita di sini sudah tahu sama-sama bahwa pabrik tidak bermain terkait harga dan penyaluran. Karena terbukti produksi selama ini masih berjalan normal, bahkan saat ini produksinya sudah ditingkatkan dari biasanya,” tambahnya.
Untuk itu, Azhari menegaskan bahwa apabila ditemukan distributor yang terbukti melakukan pelanggaran, penyaluran semen kepada distributor tersebut dapat dihentikan. Hal ini dilakukan demi menjaga keseimbangan pasokan dan harga semen di tengah kebutuhan pemulihan Aceh.
“Kalau mereka terbukti nakal tinggal kita putuskan penyaluran ke mereka. Karena ini mengingat kondisi Aceh yang masih butuh pemulihan pascabencana, sehingga butuh banyak semen untuk pembangunan,” katanya.
Selain itu, Azhari juga meminta langkah tersebut dilakukan secara terbuka dan dipublikasikan kepada masyarakat, sehingga PT SBA tidak tertuduh mempermainkan harga.
“Jadi kami tekankan tolong betul-betul dipanggil dan dipublikasikan, sehingga masyarakat tahu pabrik semen tidak bermain di tengah kondisi hari ini,” tegasnya.
Peran Produsen dalam Penyaluran Produk
Azhari menilai bahwa SBA sebagai produsen seharusnya memiliki kewenangan untuk menentukan penyaluran produknya kepada distributor sesuai aturan. Menurutnya, jika ada distributor yang tidak menyalurkan sesuai aturan, maka bisa saja penyaluran ke mereka dihentikan.
“Ini kan posisinya kita ada hak sebagai produser semen, kalau ada yang tidak menyalurkan sebagai aturan kan bisa saja tidak kita lepas, karena akan berdampak buruk kepada perusahaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Azhari menegaskan bahwa kedatangannya ke pabrik semen bertujuan meluruskan persoalan tersebut agar pabrik semen tidak menjadi sasaran tudingan masyarakat. Ia menyebut isu terkait semen di Aceh bahkan telah menjadi perhatian secara nasional.
“Jadi saya datang hari ini untuk meluruskan persoalan, jangan sampai pabrik semen menjadi sasaran masyarakat. Isu juga sampai ke nasional, bukan cuma di Aceh,” ujarnya.
Upaya Produksi Maksimal
Sementara itu, GM PT SBA, R Adi Sentosa, mengatakan bahwa pihaknya terus mengupayakan produksi semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan semen di Aceh. Bahkan saat ini pabrik mereka telah beroperasi penuh selama 24 jam. Namun, ia belum dapat memastikan kapan kondisi pasokan akan kembali normal.
“Agak sulit dijawab (kapan pasokan semen di pasar Aceh kembali normal), tapi kita upayakan produksi semaksimal mungkin. Berapa lamanya itu sesuai kondisi. Apalagi saat ini kita hari Minggu pun tetap beroperasi,” ujarnya.
Terkait harga, Adi menjelaskan bahwa kewenangan SBA hanya sampai pada tahap pelepasan harga kepada distributor. Pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk mengontrol harga di tingkat distributor. PT SBA bisa memanggil distributor hanya untuk berkoordinasi, tapi tidak bisa dalam hal mengatur lebih jauh.
Adi juga menjelaskan posisi SBA berbeda dengan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang merupakan perusahaan negara. “Kami beda dengan PIM, kami memang perusahaan negara, tapi kami diperintahkan untuk bersaing secara sehat dan bebas. Kalau PIM mereka bisa untuk mengontrol di tingkat distribusi. Sedangkan kami tidak bisa karena ada aturannya,” katanya.
0 Komentar