Kafe Cerita, Kedai Kopi yang Dikelola Pekerja Tuli di Banjarmasin

Kafe Cerita, Kedai Kopi yang Dikelola Pekerja Tuli di Banjarmasin

Kafe Adonan Cerita: Ruang Kerja Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

Di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat Banjarmasin, sebuah kafe yang berada di halaman Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalimantan Selatan menawarkan sesuatu yang unik. Kafe Adonan Cerita tidak hanya menyajikan berbagai menu lezat, tetapi juga menjadi tempat kerja yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

Papan berisi abjad Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) terletak di atas meja pelayanan kafe. Papan ini memuat gambar gerakan tangan untuk abjad A hingga Z. Di bagian bawahnya, terdapat tulisan yang mengarahkan pelanggan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat ketika melakukan pemesanan. Jika belum memahami bahasa isyarat, pelanggan juga dapat menuliskan pesan pada kertas yang telah disediakan.

Di balik meja kasir, Amin melayani pelanggan sebagai barista. Sementara Mita terlihat sibuk mengemas sejumlah kue. Kedua teman tuli tersebut merupakan pekerja di Kafe Adonan Cerita yang berada di Jalan Ahmad Yani Km 6, Banjarmasin.

Kafe tersebut menyediakan sejumlah menu, mulai dari bakery dan pastry, minuman dan kopi, rice bowl, pasta, seafood, hingga makanan beku. Menu-menu ini dibuat dengan kualitas yang baik dan disajikan dengan penuh perhatian oleh para pekerja.

Mita, yang kini berusia 23 tahun, sudah mengenal aktivitas memasak sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar. Ia belajar memasak bersama ibunya di rumah. Ketika duduk di bangku SMP, ia mulai mengikuti lomba pembuatan kue tingkat provinsi. Minat tersebut terus dilanjutkannya hingga SMA dengan mengambil bidang tata boga.

Sementara Amin mulai menyukai kegiatan memasak ketika duduk di bangku SMP. Pria berusia 21 tahun itu kemudian mengambil jurusan tata boga. Bolu, cookies, hingga cupcake pernah dibuatnya selama belajar. Pada 2024, Amin juga pernah meraih juara dua dalam perlombaan.

Inisiatif dari Pemilik Kafe

Pemilik Kafe Adonan Cerita, Sherly Marlina, mengatakan gagasan membuka kerja bagi penyandang disabilitas berawal dari pertemuannya dengan teman-teman difabel. Sherly merupakan pengajar di salah satu panti sosial. Selain sebagai siswanya, para difabel tersebut juga tergabung dalam komunitas.

Dalam sejumlah pertemuan, Sherly mendengar cerita mengenai pengalaman penyandang disabilitas ketika mencari pekerjaan. Dari pembicaraan tersebut, muncul gagasan untuk memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas.

“Kita punya satu impian. Kalau nanti ada mitra yang mau membantu, maka kita akan memberikan kesempatan kerja buat teman-teman disabilitas yang memang memiliki kemampuan dan kompetensi,” kata Sherly.

Gagasan itu kemudian disampaikan kepada Disnakertrans Kalsel. Menurut Sherly, Disnakertrans memberikan fasilitas untuk mendukung rencana tersebut. Saat ini terdapat empat pekerja disabilitas yang bekerja di Kafe Adonan Cerita. Sherly mengatakan para pekerja tersebut menunjukkan komitmen selama menjalankan pekerjaannya.

Pelatihan dan Pengembangan Kemampuan

Sebelum bekerja, para teman tuli yang mengikuti pelatihan tidak langsung diarahkan pada satu bidang. Sherly mengatakan, mereka terlebih dahulu dikenalkan dengan beberapa keterampilan, seperti pengolahan minuman, bakery dan aneka kue. Setelah itu, mereka diarahkan sesuai minat dan kemampuan masing-masing.

Pelatihan dilakukan dengan pendekatan personal dan lebih banyak praktik langsung. Materi audiovisual juga digunakan untuk memberikan contoh visual. “Untuk teori kita sangat sedikit. Mereka lebih banyak melihat contoh, kita memberikan mereka tekniknya secara nyata dan mereka akan mengikutinya,” kata Sherly.

Sherly menilai ruang kerja bagi penyandang disabilitas masih terbatas. Ia berharap lebih banyak instansi maupun pihak lain membuka kesempatan serupa. Sebab, menurutnya, masih ada keluhan mengenai diskriminasi dalam penempatan kerja dan pembayaran honor.

Program Pembelajaran Bahasa Isyarat

Selain bekerja di kafe, para difabel juga diberi ruang mengembangkan kemampuan lain. Amin, misalnya, memiliki ketertarikan pada seni seperti melukis dan desain sasirangan. Kafe Adonan Cerita juga memiliki program pembelajaran bahasa isyarat untuk masyarakat. Sherly mengatakan kegiatan tersebut dibuka untuk umum, termasuk pelajar.

Materi yang diperkenalkan adalah Bisindo. Menurut Sherly, pembelajaran bahasa isyarat dilakukan agar masyarakat dapat berkomunikasi dengan penyandang disabilitas. Kafe tersebut juga direncanakan menjadi tempat belajar bersama bagi penyandang disabilitas. Sherly mengatakan program tersebut nantinya akan diberikan secara gratis.

Harapan dan Tantangan

Sementara itu, Mita berharap semakin banyak teman tuli mendapatkan kesempatan untuk bekerja. “Harapannya ingin teman-teman tuli harus bisa sukses untuk masa depan. Semua disabilitas bisa mendapatkan kesempatan bekerja,” katanya dengan bahasa isyarat.

Kafe Adonan Cerita menjadi contoh bahwa inklusi dan kesetaraan dapat diwujudkan melalui inisiatif yang tepat. Dengan adanya program pelatihan, kesempatan kerja, dan pembelajaran bahasa isyarat, kafe ini tidak hanya memberikan layanan makanan, tetapi juga memberikan harapan dan kesempatan bagi penyandang disabilitas.

0 Komentar