Kebaya Adhikari Tampilkan Koleksi Terbaru di Indonesia Fashion Week 2026
Kebaya Adhikari, salah satu merek fesyen ternama di Indonesia, memperkenalkan koleksi terbarunya dalam rangkaian Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC). Koleksi ini hadir dengan tema "Resonara" yang menggabungkan tiga warisan budaya dan alam Indonesia: kebaya sebagai identitas bangsa, gajah Sumatera sebagai simbol kelestarian alam, serta Bundengan, alat musik tradisional khas Wonosobo.
Inspirasi utama dari koleksi ini berasal dari Rawana, seorang anak gajah yang lahir di Lembah Hijau, Lampung. Kisahnya menjadi simbol harapan di tengah ancaman kerusakan hutan yang semakin mengancam habitat alami gajah Sumatera. Dengan menggabungkan detail bordir, siluet, dan permainan tekstur, Kebaya Adhikari ingin menyampaikan pesan bahwa menjaga alam adalah cara untuk menjaga masa depan kehidupan.
Mengangkat Warisan Budaya Lokal
Selain mengangkat isu lingkungan, koleksi ini juga memberi ruang bagi Bundengan, alat musik tradisional dari Wonosobo. Meskipun lahir dari kreativitas masyarakat pedesaan, Bundengan kini mulai jarang dikenal oleh generasi muda. Melalui desain kebaya, Kebaya Adhikari mencoba menghidupkan kembali elemen-elemen dari Bundengan seperti anyaman, pola, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Bagi Kukuh Hariyawan, desainer Kebaya Adhikari, ketiga elemen tersebut memiliki benang merah yang sama. Kebaya sebagai simbol budaya yang berkembang, gajah sebagai pengingat pentingnya menjaga alam, dan Bundengan sebagai representasi kearifan lokal yang tidak boleh hilang ditelan zaman. Ia berkeyakinan bahwa fesyen bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga bisa menjadi media penyampaian pesan, pembangunan kesadaran, dan penghubung antara budaya, alam, dan kreativitas.
Alasan Memilih Gajah dalam Koleksi
Kukuh Hariyawan menjelaskan bahwa koleksi ini lahir dari gagasan bahwa Indonesia memiliki banyak warisan yang harus dijaga. Ia memadukan tiga elemen yang saling melengkapi: kebaya sebagai identitas bangsa, gajah sebagai simbol kelestarian alam, dan Bundengan sebagai warisan seni khas Wonosobo.
Ia menilai bahwa gajah tidak hanya merupakan satwa megah, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Ketika mengetahui kisah Rawana, bayi gajah yang lahir di Kebun Binatang Lembah Hijau, ia merasa ada harapan yang lahir di tengah tantangan besar yang dihadapi habitat gajah saat ini.
Dari situ, muncul keinginan untuk membawa isu konservasi ke panggung fesyen agar pesan pelestarian bisa menjangkau lebih banyak orang. Ia menyebutkan bahwa Rawana adalah simbol harapan. Di tengah berbagai ancaman terhadap habitat gajah, kelahirannya mengingatkan siapa pun bahwa kehidupan selalu memberi kesempatan baru.
Pesan yang Disampaikan
Kukuh Hariyawan berharap, melalui karya ini, kebaya bisa menjadi simbol kelembutan, kekuatan, dan harapan agar manusia semakin peduli terhadap alam. Ia percaya bahwa warisan budaya harus terus dihidupkan agar tetap relevan bagi setiap generasi.
"Kami mempertemukan tiga warisan Indonesia dalam satu karya, yaitu kebaya sebagai identitas bangsa, Bundengan sebagai kekayaan budaya Wonosobo, dan gajah sebagai simbol pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam," ujar Kukuh Hariyawan.
Melalui karya ini, ia ingin menunjukkan bahwa fesyen tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga dapat menjadi medium untuk merawat budaya, menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan, dan membawa cerita Indonesia kepada dunia.
0 Komentar