Omamori Penolak Penyalahgunaan Hak yang Unik di Jepang

Omamori Penolak Penyalahgunaan Hak yang Unik di Jepang

Omamori Unik di Kota Kurobe, Toyama yang Menyimpan Makna Sejarah Hukum Jepang

Di kota Kurobe, Prefektur Toyama, Jepang, terdapat sebuah kuil yang menawarkan omamori atau jimat unik yang berbeda dari kebanyakan. Jimat ini diberi nama 「権利ノ濫用除お守り」yang secara harfiah dapat dimaknai sebagai “omamori penolak penyalahgunaan hak”. Berbeda dengan omamori pada umumnya yang berkaitan dengan kesehatan, keselamatan, atau keberuntungan, omamori ini memiliki makna yang lebih dalam dan relevan dengan isu sosial saat ini.

Jimat tersebut ditujukan untuk melindungi seseorang dari berbagai bentuk penyalahgunaan hak, seperti power harassment, sexual harassment, perundungan, intimidasi, dan gangguan lainnya. Omamori ini dirancang sebagai doa agar pemiliknya dijauhkan dari orang atau situasi yang menggunakan kekuasaannya untuk merugikan orang lain.

Asal Usul Omamori yang Terinspirasi dari Kasus Hukum

Yang membuat omamori ini semakin menarik adalah asal-usulnya. Jimat tersebut terinspirasi dari kasus hukum yang sangat dikenal dalam sejarah hukum perdata Jepang, yaitu Kasus Pipa Kayu Unazuki Onsen (宇奈月温泉木管事件). Peristiwa ini berawal dari sengketa pipa air panas yang menghubungkan kawasan Unazuki Onsen dengan Kurobane Onsen.

Pada masa awal perkembangan kawasan pemandian air panas, air panas dialirkan melalui pipa sepanjang 7,5 kilometer. Namun, beberapa jalur pipa melewati tanah yang hak penggunaannya tidak sempurna. Pemilik tanah kemudian menuntut agar pipa tersebut dipindahkan dan penggunaan lahannya dihentikan.

Perkara ini akhirnya sampai ke pengadilan. Pada 5 Oktober 1935, pengadilan tertinggi Jepang pada masa itu, Daishin'in, menilai bahwa penggunaan hak oleh pemilik tanah dalam situasi tersebut merupakan 権利濫用 (kenri ran'yō) atau penyalahgunaan hak. Prinsip ini kemudian menjadi dasar dalam pendidikan hukum Jepang dan tercermin dalam Pasal 1 ayat 3 KUH Perdata Jepang.

Dari Sejarah Hukum Menjadi Omamori

Pada tahun 2023, ketika Unazuki Onsen memperingati 100 tahun pembukaan kawasan pemandian tersebut, muncul gagasan untuk mengubah kisah hukum tersebut menjadi sesuatu yang bisa dibawa pulang oleh wisatawan. Maka lahirlah 「権利ノ濫用除お守り」.

Pihak pengelola menjelaskan bahwa omamori ini bukan hanya sekadar istilah hukum abstrak. Maknanya diperluas menjadi doa agar pemiliknya dijauhkan dari lingkungan atau hubungan yang merugikan, sekaligus memperoleh orang-orang, lingkungan, dan hubungan yang baik.

Dengan demikian, sebuah perkara hukum yang terjadi hampir satu abad lalu mendapatkan kehidupan baru dalam bentuk tradisi keagamaan dan suvenir wisata.

Waktu Pemberian yang Terbatas dan Populeritas Tinggi

Keunikan omamori ini tidak berhenti pada namanya. Menurut informasi resmi dari Prefektur Toyama, omamori ini diberikan di Unazuki Jinja pada hari Minggu pertama setiap bulan, mulai pukul 10.00 hingga 12.00. Waktu pemberian yang sangat terbatas membuat orang yang ingin mendapatkannya harus datang tepat pada kesempatan tersebut.

Popularitasnya bahkan menarik perhatian dari luar daerah. Laporan terbaru menyebutkan bahwa banyak orang datang untuk mendapatkannya, dan pada kesempatan tertentu para pengacara turut mengantre untuk memperoleh omamori yang memiliki hubungan langsung dengan sejarah hukum tersebut.

Bagi sebagian orang, omamori ini menjadi simbol perlindungan dari hubungan yang tidak sehat. Bagi kalangan hukum, ia memiliki makna tambahan: sebuah pengingat bahwa konsep “penyalahgunaan hak” yang dipelajari di ruang kuliah ternyata memiliki sejarah nyata yang berawal dari tempat wisata ini.

Unazuki Jinja, Kuil di Balik Omamori

Unazuki Jinja berada tidak jauh dari Stasiun Unazuki dan berada di kawasan wisata Unazuki Onsen. Kuil tersebut didirikan pada 1927, seiring perkembangan kawasan pemandian air panas, dengan dukungan masyarakat setempat, perusahaan, dan pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan kawasan tersebut.

Kini, kuil tersebut bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga bagian dari cerita sejarah dan budaya Unazuki. Melalui 「権利ノ濫用除お守り」, sejarah hukum Jepang, kehidupan masyarakat, dan pariwisata bertemu dalam sebuah benda kecil yang dapat dibawa pulang.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Toyama, omamori ini menawarkan pengalaman yang berbeda: membawa pulang bukan sekadar jimat, tetapi juga sepotong sejarah hukum Jepang.


0 Komentar