
Kembali ke Tanah Kelahiran, Bukan Sekadar Nostalgia
Di Nemberala, ombak datang dari samudra yang jauh. Ia kembali ke pantai bukan sekadar sebagai air yang menyentuh pasir, melainkan sebagai tenaga yang menggerakkan papan selancar, perahu, penginapan, dan kehidupan di sekitarnya. Demikian pula seharusnya makna pulang bagi diaspora Rote. Kepulangan tidak cukup berhenti pada perjumpaan. Ia harus membawa daya yang menggerakkan tanah asal.
Pantai Nemberala telah dikenal karena panorama dan gelombang kelas dunianya yang diburu para peselancar. Gerakan Mai Fali E dan Rote Ndao Mengajar yang digagas Bupati Paulus Henuk menangkap sesuatu yang sering luput dari pembangunan daerah. Kekayaan Rote tidak seluruhnya tinggal di dalam batas wilayahnya. Sebagian hidup dalam pengetahuan, pengalaman, keberhasilan, dan jejaring putra-putrinya yang tersebar di berbagai kota dan negara.
Karena itu, mengajak diaspora kembali ke ruang kelas merupakan pilihan yang patut didukung. Ia mengubah pulang dari nostalgia menjadi pengabdian, dari ikatan darah menjadi ikatan tanggung jawab. Namun, setiap gerakan menyimpan dua kemungkinan. Ia dapat menjadi nyala yang menerangi sesaat, atau menjadi api yang terus menghangatkan perubahan. Di sinilah Mai Fali E perlu dilengkapi.
Pulang yang Harus Tinggal
Ekonomi Rote Ndao tumbuh 7,96 persen pada 2025. Angka itu menghadirkan optimisme. Namun, pada tahun yang sama, penduduk miskin masih mencapai 24,37 persen. Pertumbuhan telah berlari, sementara sebagian kesejahteraan masih berjalan tertatih. Pemerintah daerah pun mengakui bahwa kemiskinan tetap menjadi tantangan pembangunan.
Paradoks ini bukan alasan untuk mengecilkan capaian, melainkan alasan untuk memperdalamnya. Pertumbuhan ekonomi dapat meninggi tanpa otomatis meninggikan kehidupan warga. Angka dapat berkembang di atas kertas, sementara kemampuan manusia untuk memilih pekerjaan, menciptakan usaha, dan memperbaiki nasib tumbuh jauh lebih lambat.
Amartya Sen menyebut pembangunan sebagai perluasan kemampuan manusia. Dalam pandangan ini, inspirasi memang penting, tetapi inspirasi hanyalah pintu. Anak-anak Rote tidak hanya membutuhkan cerita tentang seseorang yang berhasil menjadi dokter, pilot, akademisi, pengusaha, atau birokrat. Mereka membutuhkan tangga yang memungkinkan cita-cita itu dinaiki melalui mutu pembelajaran, literasi digital, penguasaan bahasa, pendidikan vokasi, beasiswa, magang, dan pendampingan berkelanjutan.
Jika diaspora datang sehari, berbicara satu jam, berfoto, lalu pulang, yang tertinggal mungkin hanya kekaguman. Kekaguman dapat menyalakan mimpi, tetapi tidak selalu menyediakan jalan. Mai Fali E harus memastikan bahwa yang pulang bukan hanya manusia, melainkan juga kurikulum, mentor, teknologi, jejaring, pasar, dan kesempatan.
Menyambungkan Manusia dengan Tanah
Rote tidak kekurangan keindahan. Nemberala dan Bo’a memiliki gelombang yang telah dikenal dunia. Mulut Seribu menyimpan gugusan pulau kecil, perikanan, dan budidaya rumput laut. Batu Termanu, Pantai Oeseli, Pulau Ndana, Tiang Bendera, serta kekayaan budaya dan tenun Rote menghadirkan modal yang tidak dimiliki banyak daerah. Dokumen pembangunan daerah bahkan menempatkan Nemberala dan sekitarnya sebagai kawasan strategis pendukung pariwisata nasional.
Namun, panorama tidak dengan sendirinya menjadi kesejahteraan. Pantai dapat ramai sementara warga hanya menjadi penonton. Wisatawan dapat datang, tetapi makanan dipasok dari luar, penginapan tidak terhubung dengan petani lokal, pemandu tidak tersertifikasi, kerajinan tidak menemukan pasar, dan keuntungan meninggalkan pulau lebih cepat daripada wisatawannya.
Di sinilah Mai Fali E dapat menjadi jembatan antara pembangunan manusia dan sektor unggulan. Diaspora pariwisata tidak cukup memperkenalkan profesi, tetapi dapat melatih pengelola homestay, pemandu, pekerja kuliner, fotografer, dan pemasar digital. Ahli pertanian dapat mendampingi pengembangan pangan lahan kering, hortikultura, lontar, dan peternakan agar memenuhi kebutuhan hotel serta restoran.
Profesional kelautan dapat memperkuat rantai nilai garam, ikan, dan rumput laut. Perancang, seniman, dan pelaku bisnis dapat membawa tenun Rote dari sekadar cendera mata menjadi produk bernilai tinggi. Albert Hirschman menjelaskan bahwa pembangunan daerah bergerak melalui kaitan ke belakang dan ke depan. Pariwisata baru menjadi pengungkit apabila ia menarik pertanian, perikanan, peternakan, transportasi, budaya, dan industri kreatif ke dalam satu rantai nilai lokal.
Tanpa keterhubungan itu, Nemberala dapat terkenal di dunia, tetapi kemasyhuran pantainya tidak sepenuhnya mengalir ke meja makan warga. Arah tersebut sesungguhnya telah tampak dalam RPJMD Rote Ndao 2025–2029 yang menempatkan peningkatan kualitas SDM, penguatan pertanian, perikanan, peternakan, pariwisata, industri kreatif, serta pengurangan kemiskinan sebagai isu strategis. Tantangannya bukan lagi memilih sektor mana yang penting, melainkan menyambungkan semuanya dalam satu arsitektur pembangunan.
Dari Panggung Menuju Ekosistem
Bupati Paulus telah membuka pintu yang tepat. Tahap berikutnya ialah membangun rumah kebijakannya. Pemerintah perlu menyusun pangkalan data diaspora berdasarkan keahlian, bukan kedekatan. Mereka kemudian ditempatkan dalam misi tahunan yang terhubung dengan sekolah, desa, komunitas, destinasi wisata, dan pelaku usaha. Setiap kepulangan harus meninggalkan hasil yang dapat diperiksa. Bukan hanya jumlah tokoh yang mengajar, tetapi guru yang meningkat kompetensinya, siswa yang memperoleh mentor, pemuda yang mengikuti magang, usaha yang naik kelas, produk yang masuk pasar, dan keluarga miskin yang memperoleh sumber pendapatan baru.
Pendekatan ini sejalan dengan tata kelola polisentris Elinor Ostrom. Pemerintah bukan satu-satunya pusat kecerdasan dan tindakan. Sekolah, desa, kampus, dunia usaha, komunitas, diaspora, dan warga dapat bekerja dari banyak pusat, tetapi tetap diarahkan oleh tujuan, data, pembagian peran, dan akuntabilitas yang sama. Kolaborasi bukan keramaian aktor. Kolaborasi adalah keterhubungan hasil.
Apabila berhasil, Rote Ndao dapat menjadi contoh bagi NTT bahwa daerah kepulauan tidak harus memilih antara pendidikan dan ekonomi, antara pariwisata dan pertanian, atau antara pertumbuhan dan pemerataan. Semua dapat dipertemukan melalui manusia yang memiliki kemampuan mengolah potensi menjadi nilai tambah. Mai Fali E mempunyai kekuatan moral yang besar. Kini ia perlu diberi mesin institusional agar tidak berhenti sebagai kalender kegiatan. Rote membutuhkan diaspora yang datang membawa cerita, tetapi lebih daripada itu, Rote membutuhkan pengetahuan yang menetap, keterampilan yang berakar, dan jejaring yang terus bekerja.
Sebab pulang yang paling berarti bukanlah ketika kaki kembali menginjak tanah kelahiran. Pulang yang paling berarti adalah ketika keberhasilan seseorang berubah menjadi kemampuan bersama, lalu tumbuh menjadi kesejahteraan bagi seluruh Rote.
0 Komentar