
Dinamika Bursa Ketum PBNU Jelang Muktamar Ke-35
Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menarik perhatian publik menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 yang akan digelar di Jombang. Sejumlah tokoh penting dari berbagai latar belakang mulai muncul sebagai kandidat kuat, termasuk petahana Gus Yahya dan Gus Kikin. Proses pemilihan ini diharapkan menjadi momen penting dalam membangun kepemimpinan yang stabil dan mampu membawa organisasi menghadapi tantangan abad kedua.
Nama-nama Tokoh yang Muncul
Beberapa nama kunci yang terlibat dalam bursa Ketum PBNU antara lain:
- KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya): Ketua Umum PBNU saat ini.
- KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin): Ketua PWNU Jawa Timur dan pengasuh Ponpes Tebuireng.
- Prof. KH Nasaruddin Umar: Mantan Menteri Agama RI.
- KH Zulfa Mustofa: Wakil Ketua Umum PBNU.
- KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin): Ketua PWNU Jawa Tengah.
- KH Abdussalam Shohib (Gus Salam): Pengasuh Ponpes Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang.
Nama-nama ini telah diungkapkan oleh Gus Kikin, yang juga membenarkan bahwa dirinya masuk dalam daftar kandidat. Ia menyatakan bahwa proses penjaringan masih dalam tahap awal dan keputusan akhir tetap ada di tangan para muktamirin.
Muktamar Ke-35: Titik Awal Kepemimpinan Baru
Muktamar Ke-35 NU akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Acara ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya kepemimpinan yang mampu membawa organisasi menghadapi tantangan global di abad kedua.
Ketua PWNU Lampung, Puji Raharjo, menyampaikan harapan bahwa muktamar tidak hanya tentang pemilihan pemimpin baru, tetapi juga menjadi dasar penyusunan arah organisasi ke depan. Menurutnya, para pendiri NU telah meletakkan fondasi yang kokoh selama satu abad pertama. Oleh karena itu, kepemimpinan hasil muktamar harus memiliki kekuatan yang sama untuk menjawab tantangan zaman.
Mekanisme Pemilihan dan Partisipasi Delegasi
Proses pemilihan Rais Aam PBNU dilakukan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), di mana setiap pengurus cabang maupun wilayah mengusulkan nama calon anggota AHWA. Dari kiai-kiai terpilih itulah yang kemudian merumuskan dan menetapkan siapa yang menjadi Rais Aam pada periode berikutnya.
Sementara itu, pemilihan Ketua Umum PBNU dilakukan dengan mempertimbangkan aspirasi warga NU. Untuk partisipasi dari Lampung, diperkirakan sekitar 100 delegasi resmi akan hadir. Setiap cabang mengirim lima orang, sehingga totalnya sekitar 75 orang, ditambah pengurus wilayah sekitar enam orang.
Rombongan dari Lampung diperkirakan mulai berangkat H-1 hingga H-2 pelaksanaan muktamar. Beberapa peserta memilih jalur udara, sementara yang lain menempuh perjalanan darat. Bagi warga NU, muktamar bukan hanya acara pemilihan, tetapi juga ajang berkumpul dan reuni.
Harapan untuk Kepemimpinan yang Teduh
Puji Raharjo berharap dinamika yang sempat terjadi di internal NU dalam satu tahun terakhir tidak kembali terulang. Ia ingin kepemimpinan baru mampu menciptakan suasana yang lebih sejuk bagi seluruh warga nahdliyin. "Ke depan tentu kita ingin bagaimana kepemimpinan itu teduh, mengayomi, melindungi, dan memberikan insight positif ke jam'iyah," katanya.
Dengan adanya enam nama tokoh penting yang muncul, dinamika bursa Ketum PBNU semakin menarik. Proses pemilihan yang transparan dan demokratis diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan yang kuat dan mampu membawa NU menuju masa depan yang lebih cerah.
0 Komentar