Potret Burung Raja Indonesia di Gunung Ungaran

Potret Burung Raja Indonesia di Gunung Ungaran

Elang Jawa Masih Ditemukan di Kawasan Gunung Ungaran

Kawasan Gunung Ungaran masih menjadi rumah bagi satwa langka yang dikenal sebagai Elang Jawa. Satwa dengan nama ilmiah Nisaetus bartelsi ini beberapa kali ditemukan jejaknya di kawasan tersebut, menunjukkan bahwa area ini masih menjadi habitat yang cocok untuk keberlangsungan hidup spesies langka ini.

Profesor Bidang Keanekaragaman Hayati, Ekologi Burung, dan Konservasi Alam UNNES, Margareta Rahayuningsih, mengatakan bahwa beberapa kali telah menemukan jejak Elang Jawa di kawasan Gunung Ungaran. Bahkan, aktivitas satwa ini pernah terekam melalui kamera trap.

"Setiap tahun kami menjumpai Elang Jawa, dan tahun berikutnya muncul Elang Jawa muda, artinya mereka bersarang di situ. Namun, kami belum pernah menghitung populasi secara pasti, sehingga kami mendorong kajian lebih lanjut," ujarnya.

Bentang alam Gunung Ungaran yang masih asri dan memiliki pohon tinggi atau pohon emergen menjadi tempat yang ideal bagi Elang Jawa untuk berkembang biak. Meski demikian, Eta mengatakan bahwa ia belum melihat Elang Jawa di kawasan tersebut hingga Juli 2026, kemungkinan karena sedang masa breeding season atau musim kawin.

Hasil Penelitian Unnes: 26 Temuan Elang Jawa

Hasil catatan dari Tim Peneliti Unnes menunjukkan bahwa Elang Jawa ditemukan sebanyak 26 kali sejak tahun 2010 hingga Mei 2026. Lokasi penemuan terjadi di area hutan utama seperti Gajahmungkur, Medini, Gunungsari, Curug Lawe Secepit, Gentong, Watu Ondo, dan Bon Cino.

Satwa pemangsa puncak ini terakhir terlihat pada Mei 2026 di area Bon Keruk yang masuk hutan sekunder Gunung Ungaran. Catatan pertama Elang Jawa di Gunung Ungaran tercatat pada tahun 1994 di Gonoharjo Limbangan (sisi utara Gunung Ungaran).

Usulan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK)

Menyadari pentingnya kawasan ini sebagai habitat Elang Jawa, Eta melalui Universitas Negeri Semarang (Unnes) telah mengusulkan kawasan Ungaran menjadi Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) seluas 68,42 hektare (Ha). Harapan dari usulan ini adalah sebagai pusat penelitian biodiversitas di Gunung Ungaran.

Namun, Eta juga mengingatkan adanya ancaman terhadap kawasan ini, seperti alih fungsi lahan akibat adanya Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) dan perburuan hewan langka. "Ungaran masih bagus bagi Elang Jawa, tetapi juga perlu hati-hati dengan berbagai ancaman di antaranya perburuan dan KHDPK yang menjadikan hutan menjadi fungsi lain," tambahnya.

Kolaborasi dalam Penghitungan Populasi Elang Jawa

Untuk melakukan penghitungan populasi Elang Jawa di Gunung Ungaran, Eta telah melakukan koordinasi dengan beberapa organisasi seperti PILI-Green Network, Raptor Indonesia (RAIN), Burung Indonesia, dan BLDF.

Keberadaan Elang Jawa di Jawa Tengah

Secara lebih luas, keberadaan Elang Jawa di Jawa Tengah tercatat sebanyak 89 ekor yang tersebar di area Gunung Slamet hingga Dieng sebanyak 23 ekor. Lalu, sebanyak 36 ekor ditemukan di 10 area Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Perhutani. Sisanya sebanyak 14 ekor ditemukan di area Gunung Muria, 12 ekor di Gunung Merapi, dan empat ekor di Merbabu.

Meskipun ada jejak Elang Jawa di Ungaran, kawasan ini belum melakukan penghitungan populasi. Sementara itu, populasi Elang Jawa di pulau Jawa dan Bali mencapai 511 pasang atau sekitar 1.000 individu di alam liar. Populasi ini tersebar di 74 kantong habitat utama di Pulau Jawa dan Bali.

Direktur Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI), Iwan Setiawan, mengungkap bahwa merujuk pada catatan lama, Elang Jawa disebutkan hanya ada di bagian pulau Jawa sisi barat dan timur. Namun, setelah dilakukan intensitas survei, ternyata Jawa Tengah ditemukan banyak sebaran Elang Jawa.

"Kami menemukan banyak populasi Elang Jawa terutama di lanskap Slamet dan Dieng," tuturnya. Atas temuan tersebut, pihaknya berencana mendorong kawasan itu masuk sebagai Taman Nasional.

0 Komentar