Perjalanan Seorang Pemimpin yang Membangun Masa Depan
Rudizon Budiman Doko Paty, atau lebih dikenal sebagai Rudi Doko Paty, adalah sosok yang tidak hanya membangun kampus, tetapi juga membangun masa depan orang-orang di dalamnya. Jika sebuah lembaga pendidikan diukur dari gedungnya, maka STIKES Nusantara Kupang adalah gedung yang kokoh. Tapi jika ia diukur dari manusia-manusia yang tumbuh di dalamnya, maka namanya adalah Rudizon Budiman Doko Paty.
Kabar duka itu datang pada Rabu (5/8) malam dan menyisakan lubang yang besar bagi Keluarga Besar Nusantara Project. Pimpinan, orang tua, sahabat, dan saudara mereka telah berpulang. Bukan sekedar kehilangan seorang ketua, melainkan kehilangan sosok yang selama 16 tahun merangkul mereka dengan hati.
Di tenda duka yang dihadiri oleh Keluarga Besar Dokopaty, Ratu Edo, Sudrajat, Mama Endang Prahasti, Mama Tabita, kerabat Almarhum Rudizon Budiman Doko Paty, rekan-rekan seperjuangan Kampus Nusantara, mahasiswa hingga alumni, satu kalimat berulang kali terdengar lirih: beliau memimpin dengan hati.
Perjalanan Awal yang Penuh Ketekunan
Perjalanan itu tidak dimulai dari kemegahan. Para senior masih ingat betul tahun 2008. Di sebuah ruko sederhana di Jalan El Tari Kupang, kelas paralel Surabaya dibuka. Panas, keterbatasan, dan ketidakpastian menjadi menu harian.

Di masa sulit itulah Rudizon Budiman Doko Paty bersama Almarhum Bapak Marzuki merintis kampus itu. Tidak banyak yang percaya sebuah sekolah tinggi kesehatan bisa lahir dari sebuah kelas paralel. Tapi Rudizon Budiman Doko Paty percaya pada orang-orangnya.
Kerja keras itu berbuah. Pada tahun 2009-2010, Surat Keputusan pendirian STIKES Nusantara Kupang resmi terbit. Sebuah mimpi yang dibangun dari nol di tanah Flobamora itu akhirnya berdiri tegak.
“Bagi beliau, membangun lembaga bukan soal bagaimana gedung itu berdiri, tapi bagaimana orang-orang di dalamnya bisa berkembang dan punya masa depan,” ujar Benediktus Belang Niron, perwakilan Keluarga Besar Nusantara Project dalam sambutan dukanya, dengan suara bergetar, Sabtu (8/8) siang.
Beasiswa yang Tak Memandang Seragam
Di sinilah kisah Rudizon Budiman Doko Paty menjadi berbeda dari pemimpin kebanyakan. Di banyak institusi, beasiswa adalah hak dosen atau mahasiswa berprestasi. Namun, di STIKES Nusantara Kupang, dibawah kepemimpinan Rudizon Budiman Doko Paty, beasiswa juga sampai ke tangan cleaning service dan pegawai honorer.
Bapak Erwin, Bapak Defri, dan beberapa nama lain yang hari ini sudah menyandang gelar sarjana, dulunya adalah staf dengan seragam yang sering tak terlihat. Rudizon Budiman Doko Paty melihat mereka. Ia memanggil, ia memberi kesempatan, ia membiayai kuliah mereka sampai selesai.
“Itu bukan sekedar beasiswa. Itu investasi seorang pemimpin terhadap masa depan orang-orangnya,” kenang Benediktus Belang Niron, kolega almarhum Rudizon Budiman Doko Paty.

Bagi para penerima, ijazah itu bukan hanya kertas. Itu adalah tiket untuk mengangkat derajat keluarga. Dan bagi Rudizon Budiman Doko Paty, itulah esensi pendidikan yang sesungguhnya, memanusiakan manusia.
Tak heran jika selama periode 2017 hingga 2023, ketika ia dipercaya sebagai Ketua Yayasan Kunci Ilmu NTT, gaya kepemimpinannya tetap sama. Merangkul, memahami, memberi kesempatan, dan tetap berdiri bersama saat kesulitan datang. Ia adalah pemimpin yang sosial, suka memberi dan membantu tanpa melihat perbedaan.
Luka yang Ditinggalkan untuk yang Paling Dicintai
Kepergian Rudizon Budiman Doko Paty meninggalkan duka yang paling dalam bagi mereka yang paling dekat. Untuk Endang Prahasti Asni, sang istri, Rudizon Budiman Doko Paty bukan hanya suami. Ia adalah teman hidup, tempat berbagi keluh kesah, dan jangkar rumah tangga selama puluhan tahun.
Bagi Lani dan Radit, ia adalah ayah yang mungkin tak banyak bicara tentang cinta, tapi membuktikan cinta itu lewat kerja keras dan nilai-nilai yang ia wariskan. Dan untuk Mama Tabita Doko Paty, ibu dari Rudizon Budiman Doko Paty, luka ini adalah luka yang tak terukur.
Tidak ada seorang ibu pun di dunia yang siap mengantarkan kepergian anak yang pernah ia gendong, ia besarkan, dan ia doakan sepanjang hidupnya.
“Kita tidak bisa membayangkan betapa dalam luka yang Mama rasakan hari ini. Tapi percayalah, anak yang Mama lahirkan itu telah meninggalkan begitu banyak kebaikan dalam hidup orang lain,” ucap Benediktus Belang Niron.

Warisan yang Tidak Pernah Pergi
STIKES Nusantara Kupang hari ini telah meluluskan ribuan perawat, bidan, dan tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh NTT dan Indonesia Timur. Mereka adalah warisan fisik dari kerja Rudizon Budiman Doko Paty. Namun warisan terbesarnya bukanlah gedung atau SK pendirian STIKES Nusantara.
Warisan terbesarnya adalah sebuah budaya, bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang membuat orang lain tumbuh. Siang itu, setelah sambutan selesai, para pegawai, dosen, cleaning service, mahasiswa, dan alumni tidak langsung bubar. Mereka merasa kehilangan keluarga, bukan atasan.
Hari ini, bersama istri, anak, keluarga dan kerabat, mereka terus bersama mengantar kepergian Rudizon Budiman Doko Paty ke peristirahatan terakhir di TPU Kapadala Kupang.

"Selamat jalan, Bapak Rudizon Budiman Dokopaty. Istirahatlah dalam damai Tuhan. Langkah, jejak, dan kebaikan yang Bapak tanamkan tidak akan pernah kami lupakan," kata Benediktus Belang Niron dengan suara bergetar.
Rudizon Budiman Doko Paty akan terus hidup, di setiap sarjana yang dulunya adalah cleaning service, di setiap mahasiswa yang ia rangkul, dan di setiap hati yang pernah merasakan kebaikan tanpa syarat darinya dan di setiap cinta istri, anak dan keluarganya.
Terima Kasih Sudah Memeluk Kami
Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan kehilangan. Di sebuah rumah, Rabu (5/8), sekitar pukul 10 malam, Tuhan Yesus memanggil pulang seorang yang terkasih - seorang adik, seorang anak, seorang ayah, seorang bapak, Rudizon Budiman Doko Paty.
Duka itu pekat. Keluarga mengaku tak bisa berbuat apa-apa. Namun di tengah isak itulah, keajaiban kecil bernama kebersamaan terjadi. Siang itu, Sabtu (8/8), saat peti akan ditutup, Luis Kore, seorang perwakilan keluarga berdiri. Dia mewakili keluarga almh. Rudizon Budiman Doko Paty.
Suaranya bergetar, terbata-bata. Bukan pidato yang disiapkan. Itu adalah ucapan terima kasih yang tulus dari hati yang sedang hancur.
"Yang pertama kami sampaikan terima kasih kepada Tuhan Yesus. Karena Tuhan begitu baik," ucap Luis dengan suara lirih.
Ia tahu, tanpa kehadiran orang-orang di sekelilingnya, duka ini akan terasa jauh lebih berat. Dan orang-orang itu benar-benar datang. Dari mana-mana. Ada keluarga, kerabat, tetangga, sebagian masyarakat Kota Kupang. Ada juga alumni, mahasiswa, pegawai dari STIKES Nusantara maupun dari Nusantara Project.
Juga pemerintahan, lurah, RT, RW, dan sejumlah teman, sahabat, termasuk bapa mama Pendeta dari gereja yang sejak hari pertama tak henti berdoa di rumah duka itu.

Ada almamater yang tak melupakan, teman-teman STIKES Nusantara, dari angkatan 2010 hingga 2013 S1 Keperawatan, ada adik-adik dari SMA Kristen Tunas Bangsa, SMP Negeri 1 Kupang Angkatan 88, SMK Nusantara Kupang. Ada juga yang hadir melalui krans bunga dan banner duka cita dari berbagai instansi pemerintahan, bank, TNI/Polri/ cafe dan lainnya, yang dijejer rapi di sejumlah bagian tenda duka.
Banner duka itu berjejer. Ini bukan soal harganya, tapi soal pesan di dalamnya: Kami ada di sini. Keluarga tidak sendiri menghadapi duka ini.
"Kami keluarga tidak bisa berbuat apa-apa, tapi kami diberikan pertolongan oleh Tuhan lewat kehadiran saudara semua untuk menguatkan kami. Tidak ada yang bisa kami berikan, hanyalah kata terima kasih," kata Luis, perwakilan keluarga itu, sambil menunduk dalam.
Inilah potret Kota Kupang yang sesungguhnya. Di kota yang keras ini, solidaritas masih hidup. Ketika satu keluarga menangis, belasan komunitas yang berbeda latar belakang - gereja, kampus , bank, TNI-Polri, partai, sekolah, yayasan - melebur menjadi satu keluarga besar.
Mereka tidak datang karena diundang. Mereka datang karena ikatan kemanusiaan. Karena mengenal dan memiliki pengalaman berbeda dengan sosok Rudizon Budiman Doko Paty.
Setelah tutup peti, ibadah syukur lepas duka. Bukan ibadah perpisahan yang penuh ratap, tapi ibadah syukur. Syukur karena pernah memiliki, syukur karena pernah mengasihi dan dikasihi, syukur karena Tuhan mengizinkan kebersamaan itu walau hanya untuk sementara.

Dari rumah duka, langkah kemudian dilanjutkan ke TPU Kapadala. Air mata masih ada, tentu. Tapi kini air mata itu tidak jatuh sendirian. Ia jatuh bersama pelukan, doa, dan janji dari sebuah kota untuk terus menjaga keluarga yang ditinggalkan. Karena di Kupang, duka satu orang adalah duka semua orang. Selamat jalan Rudizon Budiman Doko Paty.
Biodata Alm. Rudizon Budiman Doko Paty
Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Seorang pejuang pendidikan, seorang ayah, seorang suami yang setia, telah berpulang. Rudizon Budiman Doko Paty. Nama yang mungkin tidak asing bagi kita yang mengenal STIKES Nusantara Kupang.
Ia pergi terlalu cepat. Di usia 53 tahun, 2 bulan, 8 hari. Rudizon Budiman Doko Paty bukan sekadar nama di dalam struktur organisasi. Ia adalah perintis. Sejak tahun 2008 hingga 2015, ia menjadi Ketua Harian cikal bakal PIKET Nusantara Kupang. Dari sebuah kelas kecil di Kupang, Rudizon Budiman Doko Paty bermimpi besar yakni menghadirkan akses pendidikan kesehatan bagi anak-anak NTT.
Mimpi itu ia wujudkan. Ia memimpin STIKES Nusantara Kupang dari 2015 hingga 2017, kemudian mengabdi sebagai Ketua Yayasan Kunci Ilmu Wilayah NTT selama enam tahun, hingga 2023.
Baginya, pendidikan adalah kunci. Itu sebabnya ia menamakan yayasannya Kunci Ilmu. Rudizon Budiman Doko Paty percaya, anak-anak dari timur Indonesia pun berhak bermimpi setinggi langit.
Perjuangannya tidak mudah. Lulus dari SD Katolik Santo Yoseph 1 Kupang tahun 85, SMP Negeri 1 Kupang tahun 88, Rudizon Budiman Doko Paty merantau jauh ke Pare, Kediri untuk SMA. Lalu Rudizon Budiman Doko Paty menyelesaikan S1 di STIE Indonesia Surabaya pada 1997 dan S2 Magister Manajemen Kesehatan pada 2007. Ilmu yang ia dapat di tanah rantau, ia bawa pulang untuk membangun tanah kelahirannya.

Di balik sosok pemimpin yang tegas itu, Rudizon Budiman Doko Paty adalah seorang suami yang mencintai istrinya, Endang Prahasti, dengan sepenuh hati. Dan seorang ayah bagi tiga anaknya. Anak pertamanya, Joshua Zone Budiman Dokopaty, telah lebih dulu berpulang. Kini ia menyusul sang buah hati.
Rudizon Budiman Doko Paty meninggalkan dua cahaya hatinya, Radjizon Budiman Dokopaty dan putri bungsunya Lani Quinnza Dokopaty, serta istrinya, Endang Prahasti.
Pada hari Rabu, 5 Agustus 2026, pukul 22.10 WITA, di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang, jantung yang selama ini berdetak untuk keluarga dan pendidikan NTT, berhenti berdetak. Serangan jantung merenggutnya. Rudizon Budiman Doko Paty pergi di tengah pengabdiannya sebagai Direktur Utama PT Nusantara Project dan Pembina Yayasan Nusantara Project Indonesia.
Tidak ada lagi rapat-rapat hingga larut malam. Tidak ada lagi nasihat untuk mahasiswa-mahasiswinya. Tak ada lagi dapat dan berdiskusi dengan dosen, pehawai dan cleaning servicenya. Yang tersisa adalah warisan. Warisan kebaikan. Warisan berupa ribuan perawat, bidan, dan tenaga kesehatan yang hari ini mengabdi di pelosok NTT, lahir dari lembaga yang ia rintis dengan keringat dan air mata.
Selamat jalan, Rudizon Budiman Doko Paty. Terima kasih telah menjadi kunci, yang membuka pintu masa depan bagi banyak orang. Tugasmu di dunia telah selesai. Istirahatlah dengan damai dalam pelukan kasih Tuhan, bersama putra terkasihmu Joshua Budiman Dokopaty.
0 Komentar