Timnas Indonesia Kembali Gagal Melangkah ke Semifinal Piala AFF 2026
Timnas Indonesia senior kembali gagal melangkah ke semifinal Piala AFF 2026, yang kini dikenal sebagai ASEAN Championship. Pertandingan yang berlangsung pada Jumat (07/08/2026) menjadi momen kekecewaan bagi publik sepak bola Tanah Air. Timnas Indonesia ditahan imbang oleh Singapura dengan skor 1-1, sehingga tidak mampu melaju ke babak berikutnya.
Kegagalan ini memperpanjang penantian Indonesia untuk meraih gelar juara di ajang sepak bola antarnegara Asia Tenggara tersebut. Sejak pertama kali mengikuti Piala AFF, Timnas Indonesia belum pernah berhasil menjadi juara. Namun, Indonesia tetap memiliki rekor yang cukup menonjol sebagai negara yang paling sering masuk final dan menjadi runner-up (juara kedua), yaitu sebanyak enam kali.
Berikut adalah tahun-tahun ketika Timnas Indonesia berhasil menembus final namun harus puas di posisi kedua:
- 2000 – Indonesia kalah dari Thailand.
- 2002 – Indonesia kalah dari Thailand.
- 2004 – Indonesia kalah dari Thailand.
- 2010 – Indonesia kalah dari Vietnam.
- 2016 – Indonesia kalah dari Malaysia.
- 2020 – Indonesia kalah dari Thailand.
Kekecewaan kembali dialami publik Indonesia setelah Timnas Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2026. Kegagalan ini juga menjadi kegagalan dua edisi beruntun bagi Indonesia untuk lolos ke semifinal setelah pada Piala AFF 2024, skuad Garuda juga mentok di fase grup.
Sikap Pelatih: Tidak Mencari Kambing Hitam
Di tengah kekecewaan tersebut, pelatih Timnas Indonesia John Herdman memilih tidak mencari kambing hitam atas kegagalan yang dialami timnya. Ia tidak ingin menjadikan keputusan wasit maupun kesalahan yang terjadi dalam proses gol Singapura sebagai alasan kegagalan timnya.
Salah satu keputusan wasit yang sempat menjadi sorotan adalah pembatalan kartu merah untuk Song Ui Young. Wasit sebenarnya sudah memberi kartu merah kepada pemain Singapura itu, namun setelah pengecekan VAR keputusan itu dibatalkan sehingga tidak jadi kartu merah. Namun, John Herdman enggan memperpanjang persoalan tersebut.
Menurutnya, membicarakan kontroversi justru tidak akan mengubah hasil pertandingan. "Percuma membicarakan keputusan wasit malam ini. Itu hanya akan membuat saya mendapat masalah," kata Herdman setelah pertandingan, dikutip CNA.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Herdman tidak ingin kegagalan Indonesia dibingkai semata-mata karena faktor eksternal. Ia lebih memilih melihat apa yang terjadi di lapangan dan mengevaluasi permainan timnya.
Fokus pada Evaluasi Permainan Tim
Alih-alih memperdebatkan keputusan wasit, Herdman menilai persoalan utama adalah Indonesia tidak mampu memaksimalkan peluang yang dimiliki. Pelatih asal Inggris itu merasa anak asuhnya mampu mengontrol permainan dalam pertandingan tersebut. Indonesia juga dinilai memiliki cukup peluang untuk mencetak gol tambahan setelah unggul 1-0.
"Kami memiliki cukup banyak peluang untuk memenangkan pertandingan. Kami memiliki cukup penguasaan bola dan cukup mengontrol pertandingan," ujar Herdman. Namun, dominasi tersebut tidak berujung pada gol kedua. Inilah yang kemudian menjadi salah satu penyesalan terbesar pelatih 51 tahun ini.
Indonesia mampu menciptakan situasi yang seharusnya dapat membawa mereka meraih kemenangan, tetapi penyelesaian akhir dan momentum tidak berpihak kepada Garuda. "Kadang-kadang dewa sepak bola memang tidak memberikan apa yang Anda inginkan," kata Herdman.
Puji Singapura
Di sisi lain, John Herdman tidak hanya berbicara mengenai kegagalan timnya. Ia juga memberikan apresiasi kepada Singapura yang mampu bertahan dan menjaga hasil hingga pertandingan berakhir. Singapura memang berada dalam situasi yang lebih menguntungkan. Dengan hasil imbang, mereka sudah cukup untuk memastikan tiket semifinal.
Herdman menilai tuan rumah menunjukkan mentalitas yang kuat sepanjang pertandingan. "Selamat untuk Singapura. Mereka menunjukkan daya juang yang luar biasa dan bermain sangat terorganisasi," ujar Herdman. Pujian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Herdman mengakui Singapura mampu memainkan pertandingan sesuai kebutuhan mereka.
Indonesia memang memiliki lebih banyak tekanan untuk mencari kemenangan, sedangkan Singapura dapat bermain lebih pragmatis setelah berhasil menyamakan kedudukan. Hasil imbang tersebut menutup perjalanan Indonesia di Piala AFF 2026 dengan kekecewaan. Indonesia kembali gagal melangkah lebih jauh di turnamen Asia Tenggara tersebut. Penantian untuk meraih gelar juara Piala AFF pun kembali berlanjut.
0 Komentar