
Yogyakarta International Airport (YIA) Memasuki Tahun Keenam dengan Potensi yang Masih Terbuka
Memasuki tahun keenam sejak beroperasi, Yogyakarta International Airport (YIA) masih memiliki kapasitas yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kapasitas bandara yang mampu menangani hingga 20 juta penumpang per tahun baru mencapai sekitar 25 persen. Angka ini menunjukkan bahwa ada potensi besar yang belum tergarap secara optimal.
Untuk mempercepat proses tersebut, Pemda DIY memberikan tenggat waktu satu pekan kepada seluruh pemanggu kepentingan untuk merumuskan skema aksi percepatan. Fokus utama dari percepatan ini adalah pengembangan pasar internasional strategis, khususnya Australia, China, dan India, melalui misi penjualan (sales mission) dan promosi terpadu dengan Jawa Tengah.
Tantangan Optimalisasi Kapasitas Bandara
General Manager (GM) YIA, Muhammad Thamrin, menjelaskan bahwa YIA memiliki fondasi yang kuat sebagai bandara bertaraf internasional. Terminal seluas 219.000 meter persegi didukung landasan pacu sepanjang 3.250 meter yang sanggup melayani pesawat berbadan lebar seperti Airbus A380 dan Boeing 777ER, lengkap dengan fasilitas kargo mumpuni.
Saat ini, YIA melayani 13 maskapai untuk 17 rute domestik dan tiga rute internasional. Namun, hingga tahun 2025, pergerakan penumpang hanya berada di kisaran 4 juta orang. Angka ini baru menyentuh 25 persen dari total kapasitas terminal, sebuah kondisi yang sebagian besar dipicu oleh dimulainya operasional bandara yang bertepatan dengan pandemi Covid-19.
"Tantangan kita hari ini bukan lagi membangun bandara, melainkan mengoptimalkan kapasitas yang sudah tersedia. Kuncinya adalah memperkuat konektivitas penerbangan, membangun permintaan pasar, dan mengintegrasikan seluruh ekosistem pariwisata agar YIA benar-benar menjadi gerbang utama wisatawan mancanegara ke Yogyakarta dan kawasan JOGLOSEMAR," ujar Thamrin.
Perlu Roadmap yang Jelas
Menanggapi besarnya potensi infrastruktur yang belum optimal, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan bahwa percepatan pengembangan YIA ke depan tidak bisa lagi berjalan sektoral. Ekosistem pariwisata ini menuntut adanya peta jalan (roadmap) yang jelas, pembagian peran yang tegas, serta target yang terukur.
"Kalau ingin akselerasi, harus jelas siapa berbuat apa. Semua kontribusi harus dituangkan secara tertulis sehingga setiap pihak memiliki tanggung jawab yang jelas. Roadmap harus segera difinalisasi dan progresnya terus dikawal karena dampaknya bukan hanya bagi bandara, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi daerah," tegas Ni Made.
Ia mengingatkan, orkestrasi lintas sektor bukanlah hal mustahil bagi DIY. Keberhasilan DIY dalam menyiapkan Embarkasi Haji berbasis hotel pertama di Indonesia harus direplikasi dalam mengakselerasi Bandara YIA sebagai gerbang pariwisata internasional di Koridor Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang).
"Kita belajar ketika menyiapkan embarkasi haji berbasis hotel pertama di Indonesia. Kita memiliki strategi, menjalankannya bersama, dan berhasil karena ada komitmen dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Semangat yang sama harus kita bangun untuk akselerasi YIA. Yang paling penting adalah komitmen. Skemanya diselesaikan terlebih dahulu, kemudian kita evaluasi bersama agar progresnya terus berjalan," ujar Ni Made.
Sekda DIY pun meminta skema aksi konkret dapat diselesaikan dalam waktu satu pekan. Dokumen ini akan menjadi landasan penyusunan roadmap 100 hari. Implementasi program ditargetkan harus sudah berjalan pada 15 Oktober 2026.
Dampak Ekonomi Triliunan Rupiah
Optimalisasi Bandara YIA melalui strategi JOGLOSEMAR Integrated Tourism Corridor diyakini akan memberikan efek berganda. Implementasi yang memadukan konektivitas penerbangan, transportasi nirbatas (seamless), dan ekosistem ekonomi kreatif ini diproyeksikan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara hingga 75 persen dalam lima tahun.
Lebih jauh, durasi menetap wisatawan (length of stay) ditargetkan memanjang dari 2–3 hari menjadi 5–7 hari, dengan tingkat pengeluaran (spending) yang melonjak hingga sekitar 2.800 dollar AS per perjalanan. Apabila ini tercapai, diproyeksikan ada tambahan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bagi DIY dan Jawa Tengah hingga Rp 4 triliun.
Asisten Sekda DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Aria Nugrahadi membenarkan bahwa sinkronisasi antara YIA, Badan Otorita Borobudur (BOB), pemerintah daerah, dan pelaku industri adalah kunci mutlak. Hal tersebut disambut kesiapan Dinas Pariwisata DIY. Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi menyatakan, pihaknya saat ini intens berkoordinasi dengan InJourney Airports dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) untuk mengeksekusi pembukaan pasar dan rute penerbangan internasional baru.
Dari sisi pelaku industri, Ketua DPD GIPI DIY, Bobby Ardiyanto Setyo Aji, sepakat bahwa akselerasi YIA kini bertumpu pada kematangan ekosistem yang terintegrasi. Sebagai motor penggerak industri, GIPI menyodorkan tiga program cepat (quick wins): penguatan konektivitas penerbangan internasional (Connectivity Push), peluncuran paket wisata terpadu "Joglosemar Pass", serta penjualan promosi (joint promotion) antara pemerintah, BUMN, maskapai, dan para pelaku industri kepariwisataan.
Melalui gerak kolaboratif dan terstruktur ini, optimalisasi YIA diharapkan tak hanya mengukuhkan Yogyakarta sebagai Cultural Heart of Java di kawasan ASEAN, tetapi juga memutar roda perekonomian akar rumput. Keterisian bandara akan memicu geliat UMKM, perhotelan, restoran, hingga penciptaan lapangan kerja baru yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat DIY dan Jawa Tengah.
0 Komentar