Ringkasan Berita:
- Otorita IKN bersama instansi terkait melakukan patroli udara untuk memantau kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur;
- Patroli menggunakan helikopter Caracal H225M menemukan kepulan asap baru di Wonotirto dan Muara Jawa;
- Kerja sama lintas instansi seperti TNI, Polri, BMKG, dan BNPB diperkuat untuk mencegah munculnya titik api baru.
gubukinspirasi.id, NUSANTARA — Mengendarai helikopter tempur Caracal H225M melintasi langit IKN Nusantara di Kalimantan Timur, tim gabungan Otorita IKN bersama TNI-Polri dan BNPB kembali menyisir titik-titik rawan karhutla dari udara.
Manuver patroli ini membuktikan bahwa perang melawan bara di kawasan Ibu Kota Nusantara belum usai, kepulan asap baru di Wonotirto dan Muara Jawa langsung diadang sebelum sempat melahap bentang alam Tahura Bukit Soeharto, Kalimantan Timur.
Meski sejumlah titik sebelumnya telah berhasil dipadamkan melalui penanganan dari darat hingga operasi water bombing, patroli udara yang dilakukan Otorita IKN bersama sejumlah instansi justru menemukan kembali kepulan asap di beberapa lokasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat.
Pemantauan harus dilakukan secara terus-menerus untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu titik api baru.
Temuan itu terungkap dalam patroli udara yang dilakukan sejak Kamis 10 September 2026 menggunakan helikopter Caracal H225M yang berangkat dari Lanud TNI AU Dhomber, Sepinggan, Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.
Patroli dilakukan Otorita IKN bersama TNI/Polri, BMKG, BNPB, BIN dan mitra terkait untuk mengecek langsung kondisi sejumlah wilayah yang sebelumnya menjadi lokasi penanganan karhutla.
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen Kebijakan dan Strategi Konstruksi, Danis H. Sumadilaga, mengatakan patroli tersebut salah satunya bertujuan memastikan titik-titik yang telah ditangani benar-benar dalam kondisi padam.
Namun, hasil pemantauan dari udara menunjukkan kondisi lapangan masih dinamis.
“Di KM 31 sudah tidak ada lagi asap. Namun, di Wonotirto yang kemarin sudah padam, kembali timbul asap. Di Muara Jawa juga terlihat ada asap baru,” ujar Danis, Jumat (11/9/2026) di Balikpapan.
Menurut Danis, munculnya kembali asap menjadi perhatian karena kondisi karhutla dapat berubah dengan cepat.
Ia menegaskan, tidak terlihatnya asap pada suatu titik bukan berarti lokasi tersebut sepenuhnya aman dari potensi kebakaran kembali.
“Sifatnya kebakaran ini dinamis. Bila sudah tidak ada asap, bukan berarti itu selesai,” tegasnya.
Patroli udara tersebut mencakup sejumlah lokasi, mulai dari Jalan Tol Balikpapan–Samarinda KM 31, Wonotirto, Muara Jawa, hingga Bukit Tengkorak 1 yang mencakup kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto.
Dari rangkaian pemantauan tersebut, OIKN bersama tim dapat menentukan titik mana yang masih membutuhkan penanganan, baik melalui udara maupun dari darat.
Danis mengatakan pendekatan tersebut penting karena karhutla tidak selalu dapat terlihat secara kasatmata. Setelah api dipadamkan, proses pembasahan dan pemantauan tetap diperlukan untuk mencegah api kembali muncul.
“Kita harus secara kontinu melakukan monitoring, pengamatan, dan tindakan. Berdasarkan data monitoring, ada yang bisa dilakukan dari sisi udara dan darat,” katanya.
OIKN juga terus melakukan pembasahan di lokasi yang dinilai masih memiliki potensi munculnya kembali titik api.
“Ini yang harus kita upayakan, jangan sampai ada titik-titik baru. Monitoring dan penanganan akan terus kami lakukan, kami juga lakukan pembasahan,” beber Danis.
Ia menegaskan penanganan karhutla di sekitar IKN tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Diperlukan kerja bersama antara OIKN, TNI/Polri, BMKG, BNPB, BIN dan berbagai mitra terkait.
“Upaya kita bekerja sama sebagai satu tim mencari solusi terhadap hal ini,” ujarnya.
Dengan kondisi karhutla yang masih dinamis, OIKN memastikan pemantauan akan terus dilakukan. Data hasil patroli udara maupun informasi dari instansi terkait menjadi dasar untuk menentukan tindakan berikutnya.
"Fokusnya bukan hanya mengejar titik api yang sudah terlihat, tetapi mencegah bara yang tersisa berkembang menjadi kebakaran baru," pungkasnya. (*)
0 Komentar