Antre Pertalite sejak subuh, pria 80 tahun di Takalar masih menunggu

Antre Pertalite sejak subuh, pria 80 tahun di Takalar masih menunggu

gubukinspirasi.id, TAKALAR -Daeng Rate (80) sudah berada di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kalabbirang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, sejak pukul 05.00 Wita, Jumat (11/9/2026).

Ia datang usai salat subuh untuk mendapatkan Pertalite.

Namun hingga pukul 10.30 Wita, Pertalite belum tersedia di SPBU DODO 74-922-02 Kalabbirang.

Informasi yang diterima Daeng Rate, Pertalite baru akan tersedia sekitar pukul 15.00 Wita.

Jika pasokan datang sesuai informasi tersebut, ia harus menunggu sekitar 10 jam sejak tiba di SPBU.

“Dari jam 5 subuh saya sudah berada di tempat ini antre. Dari kemarin juga modelnya begini juga,” kata Daeng Rate kepada gubukinspirasi.id, Jumat (11/9/2026).

SPBU DODO 74-922-02 berada di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar.

Lokasinya berada di kawasan pusat aktivitas masyarakat karena berada tidak jauh dari Pasar Sentral Takalar.

Saat pantauan gubukinspirasi.idsekitar pukul 10.30 Wita, antrean kendaraan sudah memanjang sekitar 500 meter.

Barisan kendaraan dimulai dari pintu masuk Pasar Sentral Takalar hingga pintu masuk SPBU Kalabbirang.

SPBU 74.922.02 Takalar memiliki tiga jalur pengisian BBM, yakni Pertamax, Pertalite dan Solar.

Namun saat pantauan dilakukan, dispenser Pertalite belum beroperasi.

Puluhan mobil justru sudah berjejer di jalur Pertalite.

Daeng Rate memperkirakan sekitar 50 mobil masih menunggu di jalur tersebut.

“Tidak ada katanya nanti jam 3 lagi baru ada. Begitu alasannya,” ujarnya.

“Pertalite kita semua ini. Kurang lebih 50 mobil ke sana,” lanjutnya.

Antrean dari Subuh

Daeng Rate mengatakan dirinya bukan satu-satunya warga yang menunggu sejak pagi.

Sejumlah kendaraan sudah berada di SPBU sejak sebelum matahari terbit.

Sebagian pengendara bahkan memilih meninggalkan antrean karena tidak sanggup menunggu sampai pasokan Pertalite tiba.

“Dan sebelum itu lagi sudah banyak yang kembali karena tidak tahan untuk menunggu sampai datangnya Pertalite itu,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat antrean tidak hanya memenuhi area SPBU.

Kendaraan yang belum mendapatkan BBM mengular hingga keluar area SPBU dan memanjang ke arah Pasar Sentral Takalar.

Di dalam SPBU, antrean kendaraan juga memenuhi jalur pengisian Pertalite yang belum beroperasi saat pantauan dilakukan.

Kondisi ini berbeda dengan jalur Pertamax dan Solar yang juga tersedia di SPBU tersebut.

Warga Pertanyakan Pasokan

Daeng Rate mempertanyakan penyebab Pertalite yang menurutnya belum tersedia saat warga sudah mengantre sejak subuh.

Ia ingin mengetahui alasan pasokan Pertalite belum tersedia hingga siang hari.

“Ini yang saya pertanyakan, apa sebenarnya yang menyebabkan kurangnya pasokan masuk di tempat ini? Apa penyebabnya? Itu yang kita mau tahu,” ujarnya.

Pertanyaan tersebut muncul ketika warga harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM bersubsidi.

Daeng Rate juga menyoroti penyaluran BBM untuk kebutuhan pertanian.

Ia mempertanyakan penggunaan barcode dalam pembelian BBM untuk sektor pertanian dan meminta agar penyalurannya dipastikan tepat sasaran.

“Kalau jatah untuk pertanian mengeluarkan barcode, itu yang harus dipertanyakan di tempat, apakah betul petani yang memakai atau tidak,” katanya.

Pernyataan tersebut merupakan pertanyaan dan kekhawatiran Daeng Rate. Belum ada keterangan dari pihak Pertamina mengenai dugaan penyalahgunaan penyaluran BBM pertanian di SPBU tersebut.

Polisi Atur Lalu Lintas

Panjangnya antrean juga berdampak terhadap arus kendaraan di Jalan Jenderal Sudirman.

Sekitar lima personel Polres Takalar terlihat melakukan pengaturan lalu lintas di depan SPBU.

Pengaturan tersebut dipimpin AKP Hasli Duna.

Ia juga terlihat memantau kondisi pengisian BBM di dalam SPBU bersama Aiptu Alimuddin.

Antrean kendaraan yang keluar dari area SPBU membuat petugas harus mengatur pergerakan kendaraan di ruas jalan tersebut.

Bukan Antrean Pertama

Antrean BBM di Takalar sebelumnya juga terpantau di SPBU Panaikang, Kelurahan Pattallassang.

gubukinspirasi.idpada 16 Agustus 2026 melaporkan puluhan kendaraan mengantre untuk mendapatkan Pertalite dan Solar di SPBU tersebut.

Kondisi antrean di SPBU Kalabbirang pada Jumat (11/9/2026) kembali menunjukkan persoalan waktu tunggu warga dalam mendapatkan BBM.

Di Kalabbirang, antrean mencapai sekitar 500 meter dan warga seperti Daeng Rate mengaku sudah berada di lokasi sejak pukul 05.00 Wita.

Pada saat pantauan pukul 10.30 Wita, Pertalite belum tersedia dan warga mendapat informasi pasokan baru akan datang sekitar pukul 15.00 Wita.

Artinya, warga yang datang sejak subuh harus menunggu hingga siang untuk kepastian mendapatkan BBM.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, penyebab pasti keterlambatan pasokan Pertalite di SPBU DODO 74-922-02 Kalabbirang belum diperoleh dari pihak Pertamina.

Mengenal SPBU COCO dan DODO

SPBU Pertamina terbagi dalam beberapa pola pengelolaan, di antaranya COCO (Company Owned, Company Operated) dan DODO (Dealer Owned, Dealer Operated).

SPBU COCO merupakan stasiun pengisian bahan bakar yang aset dan lahannya dimiliki Pertamina melalui anak usahanya, serta pengelolaan operasionalnya dijalankan oleh manajemen Pertamina.

Sementara SPBU DODO merupakan SPBU yang lahan dan asetnya dimiliki mitra swasta atau perorangan.

Operasional dan manajemen hariannya juga dijalankan oleh pihak mitra tersebut, dengan produk BBM dan standar pelayanan tetap mengikuti ketentuan Pertamina.

Perbedaan pola kepemilikan dan pengelolaan tersebut juga dapat dikenali dari kode SPBU.

Dalam penomoran SPBU Pertamina, angka kedua pada kode digunakan untuk membedakan jenis pengelolaannya.

SPBU COCO menggunakan angka 1. Sedangkan SPBU DODO menggunakan angka 4. (*)

0 Komentar