Antrean mengular di SPBU Lampung, Pemprov minta kuota BBM ditambah

Antrean mengular di SPBU Lampung, Pemprov minta kuota BBM ditambah

gubukinspirasi.id, Bandar Lampung- Pemprov Lampung melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah meminta penambahan kuota BBM subsidi. 

Hal itu untuk mengantisipasi kelangkaan BBM jenis pertalite dan biosolar.

Dalam beberapa pekan terakhir, antrean panjang di sejumlah SPBU di Lampung sudah menjadi pemandangan biasa. 

Kendaraan yang mengantre didominasi roda dua yang mengantre pertalite dan roda empat yang menunggu giliran membeli pertalite dan biosolar.

Kepala Dinas ESDM Lampung Budhi Darmawan mengatakan, pihaknya telah meminta mengajukan penambahan kuota BBM subsidi ke Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). 

"Pemda sudah bersurat dan akan mengawal terkait penambahan kuota Provinsi Lampung ke BPH Migas," ujar Budhi, Jumat (11/9/2026).

Budhi menjelaskan, penyaluran BBM subsidi di Lampung mengacu pada kuota tahunan yang ditetapkan BPH Migas. Untuk tahun ini, kuota biosolar di Lampung ditetapkan sebanyak 790.961 kiloliter (KL) dan pertalite 695.210 KL.

Pertamina, lanjut Budhi, mengatur distribusi agar ketersediaan BBM subsidi dapat mencukupi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun.

Namun, tingginya konsumsi biosolar membuat pemerintah perlu melakukan langkah antisipasi agar kuota yang tersedia tidak mengalami kekurangan.

Salah satu langkah yang telah dilakukan Pertamina adalah menambah penyaluran biosolar hingga 14 persen.

Budhi menyebut, tanpa adanya penambahan tersebut, perkiraan kebutuhan biosolar di Lampung dapat mengalami kelebihan sekitar 8 persen. 

Disparitas Harga

Terkait panjangnya antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Lampung dalam beberapa hari terakhir, Budhi menyebut bukan disebabkan distribusi BBM yang tersendat, melainkan meningkatnya konsumsi biosolar subsidi dan adanya disparitas harga.

Diketahui, per 1 September 2026, harga BBM nonsubsidi kembali mengalami penyesuaian.

Di Lampung, harga BBM nonsubsidi jenis pertamax (RON 92) Rp16.300 per liter, pertamax turbo Rp20.000 per liter, dexlite Rp24.200 per liter, dan pertamina dex Rp25.750 per liter. 

Sementara harga BBM subsidi jenis pertalite saat ini sebesar Rp10.000 per liter dan biosolar Rp6.800 per liter.

Menurut Budhi, semakin lebarnya disparitas harga BBM subsidi dan nonsubsidi membuat warga sebagai konsumen lebih memilih yang lebih terjangkau. "Jadi selisih (pertamina dex) dengan solar subsidi hampir Rp20.000 per liter," kata Budhi.

Budhi menjelaskan, kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat selisih harga dengan biosolar semakin besar. Khusus BBM diesel, kenaikan harga dexlite dan pertamina dex membuat disparitas dengan biosolar subsidi semakin lebar.

Menurut Budhi, kondisi tersebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya minat masyarakat menggunakan biosolar subsidi. "Konsumen pribadi juga banyak yang beralih ke biosolar," ujarnya.

Budhi bahkan mengaku turun langsung memantau kondisi antrean solar di sejumlah SPBU di Lampung. "Dua hari kemarin saya sampai malam keliling, hampir semua antrean solar panjang sekali," katanya.

Ia menegaskan, persoalan yang terjadi bukan karena distribusi BBM dari Pertamina terhambat. "Distribusinya lancar dan sudah melebihi kuota, tapi permintaannya makin besar," jelas Budhi.

Meski antrean solar terjadi di sejumlah SPBU, Budhi memastikan stok BBM di Provinsi Lampung saat ini masih dalam kondisi aman. Ia memastikan penyaluran BBM kepada masyarakat tetap berjalan. "Untuk stok BBM saat ini dipastikan cukup dan aman untuk penyaluran ke masyarakat di Provinsi Lampung," tegasnya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak panik dan melakukan pembelian BBM secara berlebihan.

Budhi mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan dan menggunakan jenis BBM yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan.

"Jangan panic buying dan membeli BBM sesuai kebutuhan dan spesifikasi masing-masing kendaraan," pesannya.

Budhi menilai, tingginya permintaan biosolar saat ini perlu disikapi bersama agar distribusi BBM subsidi tetap berjalan dan kuota yang tersedia dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya.

Antrean Mengular

Antrean kendaraan mengular di SPBU wilayah Lampung sudah menjadi sajian sehari-hari.

Seperti yang terlihat di SPBU 24.351.36 di depan Mal Boemi Kedaton (MBK), Jalan ZA Pagar Alam, Bandar Lampung, Jumat. 

Antrean sepeda motor yang hendak mengisi pertalite terlihat cukup panjang.

Andi, salah satu pengendara sepeda motor, mengeluhkan panjangnya antrean. "Untuk mendapatkan BBM subsidi, kita harus meluangkan waktu cukup lama hanya untuk mengantre," kata pegawai TVRI Lampung ini. 

Ia mengatakan, untuk bisa mendapatkan pertalite ia biasanya harus mengantre selama 20 menit. Hal itu tergantung kondisi panjang tidaknya antrean.

Hal sama dikatakan Rakha. Mahasiswa Itera ini mengaku harus berpanas-panasan di siang bolong untuk mengantre pertalite.

“Ya terpaksa panas-panasan antre BBM. Kalau nggak antre ya nggak dapat,” ujar Rakha. 

Yoga Ramanda, pegawai SPBU 24.35136, menyebutkan, rata-rata pengiriman harian pertalite di SPBU tersebut berada di angka 12 KL. Sedangkan biosolar sekitar 8 KL. 

Ia membenarkan mayoritas konsumen memilih BBM subsidi dibandingkan nonsubsidi. Alasannya sederhana, yakni harganya jauh lebih terjangkau.

Hal sama dikatakan pengawas SPBU 24.351.125 di Jalan Sultan Agung, Andi Lesmana. Ia mengatakan, setiap hari antrean kendaraan yang membeli pertalite dan biosolar selalu terjadi.

​"Efeknya jelas ke antrean yang makin panjang. Kalau penyaluran tidak merata, SPBU A kosong maka pengendara lari ke SPBU B. Nanti SPBU B habis, pindah lagi ke SPBU C," kata Andi.

Andi menjelaskan, dalam mengantisipasi keterlambatan pasokan, SPBU menerapkan sistem safety stock. Rata-rata penerimaan harian di SPBU-nya berkisar 8-10 KL.

​"Kita atur stoknya supaya selalu ada dan tidak sampai kosong sama sekali. Misalnya hari ini masuk 8 KL dan masih ada sisa stok kemarin 10 KL, ya kita lepas 8 KL dulu untuk jaga-jaga kalau besok pasokan tersendat," kata Andi.

(gubukinspirasi.id/Bayu Saputra/Oky Indrajaya)

0 Komentar