
Ringkasan Berita:
- Basarnas Lampung mengerahkan KN SAR 224 Basudewa untuk mencari delapan orang yang hilang di Selat Sunda.
- Operasi pencarian melibatkan 80 personel gabungan dari Basarnas, TNI-Polri, dan masyarakat.
- Tim SAR menyisir area perairan Belimbing, Teluk Semaka, hingga kawasan Gunung Anak Krakatau.
gubukinspirasi.id, Bandar Lampung -Basarnas Lampung mengerahkan Kapal KN SAR 224 Basudewa untuk mencari lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Speedboat tersebut hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) sore dan resmi dilaporkan hilang kepada Basarnas pada Selasa (8/9/2026).
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Lampung, Deden Ridwansah mengatakan KN SAR 224 Basudewa ditempatkan untuk melakukan pencarian di wilayah perairan Belimbing hingga Teluk Semaka.
KN SAR 224 Basudewa merupakan Kapal Negara milik Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) di bawah Kantor SAR Lampung yang berukuran panjang 40 meter berbahan aluminium.
Kapal itu memiliki laju cepat dan lincah bermanuver. Tugasnya, operasi pencarian dan pertolongan (SAR), evakuasi darurat, serta patroli laut di sekitar Selat Sunda, Teluk Lampung, dan sekitarnya.
"Untuk search area kami ada di perairan Belimbing, kemudian di Teluk Semaka. Semua Teluk Semaka itu menjadi area yang diberikan kepada alut kami," ujar Deden, Jumat (11/9/2026).
Menurut Deden, KN SAR 224 Basudewa sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Panjang pada Kamis (10/9/2026) pukul 06.00 WIB.
Operasi pencarian hari ini, Jumat (11/9/2026) kapal tersebut bergerak dari Pelabuhan Tabuhan yang berada di kawasan Teluk Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung.
Kapal itu tidak kembali ke Pelabuhan Panjang karena mendukung pencarian secara berkelanjutan. "Mereka tidak pulang ke Panjang, karena pencarian kan bergerak 24 jam. Setelah selesai pencarian, misalkan jam 8 atau jam 9 malam, mereka langsung merapat ke pulau yang ada di situ," jelas Deden.
Kapal RIB 02 Sisir Sekitar GAK
Selain KN SAR 224 Basudewa, Basarnas Lampung juga mengerahkan kapal RIB 02 untuk kembali menyisir kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau. Penyisiran dilakukan mulai dari Pulau Sertung, Pulau Rakata hingga kawasan Gunung Anak Krakatau.
Namun, operasi di sekitar Gunung Anak Krakatau dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi aktivitas vulkanik.
Deden mengatakan keselamatan personel tetap menjadi prioritas karena terdapat potensi bahaya akibat abu vulkanik maupun dinamika erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Kami tetap mengedepankan keselamatan tim. Kalau memungkinkan, disisir kembali," katanya.
Penyisiran di kawasan tersebut sebelumnya juga telah dilakukan, tetapi tim kembali melakukan pencarian secara lebih detail pada hari keempat.
"Kemarin sebetulnya sudah dilakukan penyisiran, tetapi sekarang ini kami lakukan kembali secara detail," ujarnya.
Deden menyebut operasi pencarian melibatkan puluhan personel gabungan dari berbagai unsur.
80 Orang Terlibat Pencarian
Untuk unsur yang termonitor dalam operasi dari wilayah Lampung, terdapat sekitar 50 personel. Namun, jika ditambah unsur lain yang terlibat, jumlahnya mencapai sekitar 80 orang.
Personel tersebut berasal dari Basarnas, TNI-Polri, serta mendapat dukungan dari nelayan dan unsur masyarakat.
"Khusus yang termonitor oleh kami 50, sebetulnya lebih dari itu. Kalau dari tim sendiri kurang lebih sekitar 80-an yang terlibat," jelas Deden.
Kapal Patroli Tambling Ikut Pencarian
Selain alut Basarnas, pencarian juga mendapat dukungan dari Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC).
Pada Jumat (11/9/2026), satu kapal patroli Tambling dikerahkan untuk membantu pencarian dari sekitar Tanjung Cina hingga perairan Belimbing.
Soal Temuan Life Jacket
Sementara itu, terkait informasi ditemukannya life jacket atau pelampung dan botol putih dalam operasi pencarian sebelumnya, Deden mengatakan pihaknya belum menerima informasi resmi mengenai identitas benda tersebut.
Ia membenarkan bahwa informasi mengenai penemuan tersebut memang ada, tetapi belum dapat dipastikan apakah benda itu berkaitan dengan rombongan speedboat Arupadhatu 1.
"Kami tidak mendapatkan informasi, hanya beredar. Sudah dipertegas oleh SMC bahwa iya ada penemuan itu, tetapi apakah itu bagian dari yang ada atau digunakan oleh seluruh yang on board di speedboat yang hilang ini belum tahu," kata Deden.
Menurutnya, kepastian mengenai benda tersebut masih membutuhkan proses penelusuran dan konfirmasi kepada pihak terkait, termasuk pemilik kapal.
Basarnas Lampung, kata dia, akan melaporkan setiap temuan kepada Search Mission Coordinator (SMC) yang berada di Banten.
"Ini pembuktiannya benar-benar harus clear. Saya bilang, cuma dugaan-dugaan dari teman-teman jurnalis dan beberapa pihak," ujarnya.
Deden memahami bahwa temuan tersebut diharapkan dapat menjadi petunjuk keberadaan delapan orang yang hingga kini belum ditemukan.
Namun, ia menegaskan bahwa benda yang ditemukan belum dapat langsung dikaitkan dengan korban sebelum ada kepastian. "Nanti silakan dikomunikasikan ke Banten, posko induknya," katanya.
Dukungan Pencarian Melalui Udara
Operasi pencarian juga diperkuat dengan dukungan pencarian melalui udara.
Deden mengatakan satu unit helikopter telah disiagakan di Banten dan sebelumnya sudah digunakan untuk melakukan pencarian dari udara.
Helikopter Dauphin AS365 N3+ dengan nomor registrasi HR-3604
Namun, informasi teknis mengenai pengerahan helikopter dan operasi pencarian melalui udara berada di bawah koordinasi posko induk di Banten.
Deden menyarankan informasi lebih lanjut mengenai operasi udara dikonfirmasi langsung kepada Basarnas Banten.
"Kalau terkait masalah helikopter segala macam, ini kan semuanya ada di posko di Banten," ujarnya.
Kronologi Hilang Kontak
Ia menegaskan Basarnas Lampung fokus pada pergerakan alut dan unsur pencarian yang berada di wilayah Lampung, sedangkan koordinasi keseluruhan operasi berada di bawah SMC di Banten.
Kapal cepat Arupadhatu 1 sebelumnya dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Kapal tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Di dalam kapal terdapat tujuh orang, terdiri dari lima jurnalis, satu nakhoda dan satu anak buah kapal (ABK).
Lima jurnalis yang berada di kapal tersebut yakni M Bagus Khoirunnas, fotografer Antara Banten, Ari Basuki, jurnalis Merdeka, Yudhis, jurnalis iNews, Daus, jurnalis Anadolu, serta Donal, jurnalis freelance.
Berdasarkan informasi Basarnas Banten, laporan kapal hilang kontak diterima pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 13.55 WIB dari Bayu, Antara Banten.
Sebelum kehilangan kontak, komunikasi terakhir dengan rombongan tercatat pada Senin sekitar pukul 14.42 WIB.
Namun, komunikasi tersebut kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB.
Titik koordinat komunikasi terakhir berada di 6°14'40.52"S 105°40'49.48"E atau sekitar 9,98 mil laut dari daratan.
(gubukinspirasi.id/ Dominius Desmantri Barus)
0 Komentar