
gubukinspirasi.idKesultanan Yogyakarta tidak hanya dibangun di atas fondasi politik dan militer yang kokoh, melainkan juga dibentengi oleh tata ruang spiritual yang sangat matang. Salah satu wujud dari tata ruang filosofis tersebut adalah keberadaan Masjid Pathok Negoro.
Dikutip dari laman resmi Kraton Jogja, secara etimologi istilah "pathok" dapat diartikan sebagai pedoman, patok, tiang, atau batas penanda. Sementara kata "negoro" merujuk pada negara, wilayah, atau kerajaan.
Oleh sebab itu, Masjid Pathok Negoro pada hakikatnya memegang peran sentral sebagai batas terluar wilayah ibu kota kerajaan sekaligus menjadi empat pilar penopang utama pertahanan spiritual, hukum, dan kebudayaan Kesultanan Yogyakarta.
Dilansir dari situs web Dinas Kebudayaan DIY, fungsi masjid-masjid ini di masa lalu sangat kompleks. Selain menjadi tempat ibadah masyarakat, Masjid Pathok Negoro juga menjadi pusat Pengadilan Agama yang dipimpin oleh seorang Penghulu Pathok.
Tidak hanya itu, masjid ini jugan menjadi tempat pendidikan dan dakwah Islam, serta garda depan dalam strategi pertahanan fisik keraton di empat penjuru mata angin.
Berikut adalah daftar empat Masjid Pathok Negoro yang berdiri kokoh sebagai pilar utama Kesultanan Yogyakarta di empat penjuru wilayah:
1. Masjid Pathok Negoro Plosokuning (Pilar Utara)
Terletak di Desa Minomartani, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, masjid ini berfungsi sebagai penanda pilar pertahanan dan batas wilayah Kesultanan Yogyakarta di bagian utara.
Dikutip dari Dinas Kebudayaan DIY, Masjid Plosokuning yang juga dikenal dengan nama Masjid Jami' Sulthoni Plosokuning merupakan salah satu pilar yang hingga kini masih mempertahankan keaslian bentuk arsitektur fisik bangunan aslinya.
Atap masjid ini memakai gaya tajug dengan mustaka atau mahkota atap khas yang terbuat dari tanah liat, sangat mirip dengan karakteristik arsitektur Masjid Gedhe Kauman.
Dilansir dari Kraton Jogja, pemilihan lokasi di Plosokuning juga tidak lepas dari peran para ulama dan kerabat keraton yang ditempatkan di wilayah utara untuk menjaga nilai-nilai keislaman serta mengawasi pergerakan jalur menuju gunung Merapi.
Dinding-dindingnya yang kokoh dan perairannya yang melingkari masjid menjadi simbol penyucian spiritual masyarakat di perbatasan utara kerajaan.
2. Masjid Pathok Negoro Mlangi (Pilar Barat)
Berada di Desa Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, masjid ini menempati posisi strategis sebagai pilar benteng barat Kesultanan Yogyakarta.
Merujuk pada catatan sejarah dari Kraton Jogja, keberadaan Masjid Mlangi sangat lekat dengan sosok Kyai Nur Iman. Ia adalah kakak kandung dari Sultan Hamengku Buwono I yang memilih mendedikasikan hidupnya untuk dakwah Islam dibanding menduduki takhta.
Sultan Hamengku Buwono I kemudian menghadiahkan tanah perdikan di Mlangi kepada Kyai Nur Iman untuk mendirikan masjid dan pusat pembelajaran agama.
Dikutip dari Dinas Kebudayaan DIY, peran Masjid Mlangi sebagai pilar barat sangat dominan dalam bidang pendidikan agama.
Sejak era berdiri hingga saat ini, masjid ini menjadi magnet tumbuh mekar belas lembaga pesantren di sekitarnya, sehingga Mlangi menjelma menjadi kawasan santri yang membentengi keraton dengan nilai-nilai moralitas dan keilmuan Islam dari sisi barat.
3. Masjid Pathok Negoro Dongkelan (Pilar Selatan)
Di sisi selatan ibu kota kerajaan, berdiri Masjid Pathok Negoro Dongkelan yang secara resmi dinamai Masjid Jami' An-Nur. Masjid ini berlokasi di Desa Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul.
Mengutip informasi dari laman Kraton Jogja, pendirian masjid ini memiliki keterikatan sejarah yang erat dengan perjuangan Kyai Syihabuddin atau Kyai Dongkelan yang membantu Sultan Hamengku Buwono I dalam meredam berbagai pergolakan wilayah.
Sebagai pilar di bagian selatan, Masjid Dongkelan tidak hanya berfungsi dalam hal dakwah dan peradilan agama, tetapi juga dirancang dengan nilai militer yang amat kuat.
Dilansir dari Dinas Kebudayaan DIY, wilayah Dongkelan di masa lalu difungsikan sebagai markas dan basis pertahanan penting.
Ketangguhan pilar selatan ini terbukti kembali pada era Perang Jawa, di mana kawasan sekitar Masjid Dongkelan dijadikan salah satu pusat konsolidasi dan basis perlawanan pasukan Pangeran Diponegoro melawan benteng kolonial.
4. Masjid Pathok Negoro Babadan (Pilar Timur)
Melengkapi formasi empat penjuru, Masjid Pathok Negoro Babadan berdiri di wilayah Desa Banguntapan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul sebagai penjaga dan pilar batas timur kerajaan.
Sejarah perjalanan fisik dan eksistensi Masjid Babadan mencatatkan dinamika yang sangat unik dibandingkan tiga pilar lainnya.
Dilansir dari laman Kraton Jogja, pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1943, masjid dan warga pemukiman Babadan sempat mengalami penggusuran terpaksa oleh pihak militer Jepang karena lokasinya akan dijadikan perluasan pangkalan udara (Panggu).
Kondisi ini membuat bangunan dan masyarakatnya harus dipindahkan ke kawasan Kentungan, Sleman. Kendati demikian, tempat asal masjid di Banguntapan ini tetap dibangun kembali di kemudian hari karena nilai historis, spiritual, dan status ketetapannya yang tidak bisa dilepaskan dari posisi pilar timur Kesultanan Yogyakarta.
Tata letak keempat masjid yang mengapit pusat kerajaan ini mengusung makna filosofis yang sangat dalam.
Mengutip kesimpulan dari Kraton Jogja, susunan empat Masjid Pathok Negoro yang melingkari Masjid Gedhe Kauman dan Keraton Yogyakarta di pusatnya mengadopsi falsafah Jawa papat kiblat kalima pancer atau empat arah mata angin dengan satu pusat keseimbangan.
Dengan demikian, keberadaan keempat Masjid Pathok Negoro ini terbukti bukan sekadar struktur fisik penanda wilayah, melainkan pilar-pilar sejati yang menyatukan dimensi geografis, hukum, pertahanan, dan spritualitas bagi keberlangsungan Kesultanan Yogyakarta.
(MG Fuza Nihayatul Chusna)
0 Komentar