
Peningkatan Impor Maluku pada Januari–Juni 2026
Impor Maluku mengalami lonjakan signifikan selama enam bulan pertama tahun 2026. Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku menunjukkan bahwa total impor mencapai US$398,91 juta, meningkat sebesar 135,02 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, yang hanya mencapai US$169,74 juta.
Menurut Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia, peningkatan ini terutama didorong oleh sektor migas. Sepanjang Januari–Juni 2026, impor migas tumbuh sebesar 114,40 persen dan memberikan kontribusi dominan sebesar 90,34 persen terhadap total impor Maluku. Sementara itu, impor non-migas juga mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi, yaitu sebesar 2.245,04 persen, meskipun kontribusinya hanya sebesar 9,66 persen terhadap total impor.
Peningkatan Impor pada Bulan Juni 2026
Lonjakan impor juga terjadi pada bulan Juni 2026. Nilai impor Maluku pada bulan tersebut mencapai US$78,20 juta, naik 219,04 persen dibandingkan Juni 2025. Kenaikan ini dipengaruhi oleh kenaikan impor migas sebesar 218,16 persen dan impor non-migas yang melonjak hingga 570,76 persen.
Dari sisi negara asal, Singapura menjadi pemasok utama impor Maluku pada Juni 2026 dengan nilai US$43,27 juta. Disusul oleh Malaysia dengan nilai US$34,53 juta dan Tiongkok sebesar US$0,41 juta.
Singapura sebagai Pemasok Terbesar
Secara kumulatif dari Januari–Juni 2026, Singapura menjadi negara asal impor terbesar Maluku dengan kontribusi sebesar 52,14 persen terhadap total impor. Malaysia berada di posisi kedua dengan kontribusi 34,42 persen, disusul Korea Selatan 3,78 persen, Tiongkok 0,52 persen, dan Finlandia 9,14 persen.
Kenaikan impor secara kumulatif berasal terutama dari Malaysia, dengan nilai impor meningkat sebesar 242,61 persen, dari US$40,08 juta pada Januari–Juni 2025 menjadi US$137,31 juta pada periode yang sama tahun 2026.
Pelabuhan Yos Sudarso Menjadi Pintu Masuk Utama
Besarnya nilai impor ternyata terkonsentrasi pada satu pintu masuk. Dari total impor Maluku sebesar US$398,91 juta sepanjang Januari–Juni 2026, sebanyak 99,48 persen atau US$396,85 juta dibongkar melalui Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Sementara itu, Pelabuhan Wahai di Maluku Tengah hanya menangani sekitar 0,52 persen atau US$2,06 juta.
Kinerja Pelabuhan Yos Sudarso juga meningkat tajam, yakni 136,01 persen dibanding periode Januari–Juni 2025. Pada Juni 2026 saja, dari total impor US$78,20 juta, sebanyak US$77,79 juta masuk melalui Pelabuhan Yos Sudarso. Sedangkan Pelabuhan Wahai hanya menangani US$0,41 juta. Hal ini menunjukkan bahwa Pelabuhan Yos Sudarso masih menjadi pintu utama masuknya barang impor ke Maluku.
Peningkatan Volume Impor
Bukan hanya nilainya yang melonjak, volume impor Maluku juga mengalami pertumbuhan. Sepanjang Januari–Juni 2026, volume impor tercatat 378,18 ribu ton, naik 48,62 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Namun lagi-lagi, sektor migas mendominasi, dengan 99,53 persen volume impor berasal dari sektor ini. Sementara sektor non-migas hanya menyumbang 0,47 persen.
Pada Juni 2026, volume impor mencapai 82,89 ribu ton, meningkat 114,49 persen dibanding Juni 2025 yang sebesar 38,64 ribu ton.
Data BPS ini menunjukkan bahwa struktur impor Maluku masih sangat bergantung pada sektor migas, sementara aktivitas bongkar barang juga sangat terkonsentrasi di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Dari sisi negara asal, Singapura dan Malaysia menjadi dua pemasok terbesar yang menyumbang porsi sangat besar terhadap total impor Maluku.
0 Komentar