
gubukinspirasi.id,TENGGARONG - Intrusi air laut yang semakin jauh masuk ke aliran Sungai Mahakam mulai berdampak terhadap pelayanan air bersih di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.
Perumda Tirta Mahakam harus menyesuaikan operasional dua intake yang berada di Kecamatan Anggana dan Sangasanga karena kondisi air baku yang terdampak peningkatan kadar garam.
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno, mengatakan kondisi di Anggana dan Sangasanga tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada sistem pengambilan air baku di Samarinda.
Menurutnya, kedua wilayah tersebut masih berada dalam satu aliran yang terdampak masuknya air laut.
“Sama, karena itu satu aliran. Sangasanga, Anggana. Sangasanga itu bedanya dia ada masuk Sungai Sangasanga. Tapi kalau Anggana kan satu aliran dengan PDAM Samarinda. Jadi kasusnya sama,” ungkap Suparno saat dihubungi Jumat (11/9/2026).
Meski demikian, Suparno menegaskan intake di Anggana dan Sangasanga tidak sepenuhnya dihentikan.
Pengoperasian tetap dilakukan dengan melihat kondisi air baku dan kadar garam yang terkandung di dalamnya.
“Tidak stop, tapi melihat kondisi air. Jika itu di bawah 250 kita operasikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, angka 250 ppm menjadi salah satu batas yang diperhatikan dalam menentukan apakah air baku masih dapat diolah.
Jika kadar garam berada di bawah angka tersebut, intake dapat dioperasikan. Namun jika melebihi batas, pengoperasian harus dihentikan atau disesuaikan.
Suparno menyebut kondisi saat ini diduga menjadi salah satu titik puncak dorongan air laut ke wilayah sungai.
“Tapi kan ini memang hari ini kayaknya puncaknya ini, puncak dorongan air laut ini kayaknya gitu seperti ini hari ini,” katanya.
Untuk memastikan kondisi air baku, Perumda Tirta Mahakam melakukan pemantauan secara berkala.
Pengecekan kadar garam dilakukan setiap satu jam karena kondisi air di permukaan dan bagian dalam sungai dapat berbeda.
“Tiap jam kita cek gitu, Mas. Ada perubahan apa gitu. Karena antara permukaan dengan yang di dalam kan berbeda biasanya. Lebih di dalam itu yang harus kita cermati,” jelas Suparno.
Menurutnya, air yang digunakan untuk proses produksi tidak diambil dari permukaan sungai. Karena itu, kondisi air pada bagian yang lebih dalam menjadi perhatian utama.
Petugas terus memantau perubahan kadar garam, termasuk ketika kondisi air mengalami pasang maupun surut.
“Kalau kondisi airnya surut itu kecenderungannya turun. Cuma kan kita melihat sampai batas berapa turunnya,” ujarnya.
Dengan pola tersebut, intake tidak dapat beroperasi secara penuh selama 24 jam.
Perumda Tirta Mahakam harus menyesuaikan waktu operasional dengan hasil pemeriksaan kualitas air baku.
Untuk mengantisipasi berkurangnya produksi air bersih, Perumda Tirta Mahakam telah melakukan dropping air menggunakan mobil tangki.
Distribusi tersebut sudah dilakukan sejak sekitar dua pekan terakhir.
Suparno mengatakan sumber air bersih untuk kebutuhan dropping berasal dari Loa Janan.
Khusus untuk Kecamatan Anggana, pihaknya menyiapkan empat unit mobil tangki yang beroperasi secara bergantian.
“Empat unit mobil tangki. Semampu kita sampai. Soalnya kita buat dua sif gitu, datang drop, datang drop gitu terus,” ungkapnya.
Ia menegaskan distribusi tersebut tidak dibatasi selama kondisi intrusi air laut masih terjadi.
“Tidak terbatas selama masih kondisi ini. Saya ingat paling tidak itu mengurangi lah kekurangan,” lanjut Suparno.
Menurutnya, dropping air menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan Perumda Tirta Mahakam untuk membantu masyarakat yang terdampak keterbatasan pasokan air bersih.
Jika kondisi belum membaik hingga pekan depan, pihaknya juga akan meminta bantuan BPBD.
“Maka kami juga minta bantu dengan BPBD yang bisa membantu kami,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Suparno mengatakan secara teknologi air asin sebenarnya dapat diolah menjadi air baku.
Proses tersebut dapat dilakukan melalui teknologi desalinasi atau pengolahan air asin menjadi air yang dapat digunakan sebagai air baku.
Namun, persoalan utama berada pada biaya produksi dan investasi yang cukup besar.
“Tapi kalau dari air asin menjadi air baku itu ada. Bisa dilakukan. Cuma kan kita tahu sendiri bagaimana besarnya biaya produksi,” jelasnya.
Suparno mencontohkan, teknologi pengolahan air laut pernah diuji di Balikpapan.
Berdasarkan pengujian tersebut, harga pokok produksi air hasil pengolahan air laut berada di kisaran Rp15 ribu per meter kubik.
Sementara harga jualnya dapat mencapai sekitar Rp45 ribu per meter kubik.
“Seperti di beberapa daerah selanjutnya. Cuma kan harga jualnya sampai Rp45 ribu per meter kubik. Mungkin kah ekonomi kita bisa dilakukan, itu kan berat sekali,” katanya.
Selain biaya produksi, investasi awal untuk membangun sistem pengolahan air laut juga menjadi tantangan.
Suparno menilai penerapan teknologi tersebut untuk pelayanan masyarakat perlu mempertimbangkan kemampuan masyarakat dalam membayar tarif air.
“Di samping investasinya juga besar. Kemudian yang kedua juga kaitannya juga harga jual yang tidak memungkinkan kalau ini kita berikan ke masyarakat,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Perumda air minum tidak hanya memiliki fungsi bisnis, tetapi juga fungsi sosial dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Suparno menyebut kondisi intrusi air laut seperti yang terjadi saat ini bukan fenomena yang sepenuhnya baru.
Ia mengingat kejadian serupa pernah terjadi sekitar 1997 atau 1998.
“Saya ingat sekali tahun 97 atau 98 kejadiannya hampir sama ini,” katanya.
Namun, Suparno berharap kondisi kali ini tidak berlangsung selama kejadian sebelumnya dan segera kembali normal.
Ia menilai hujan di wilayah hulu Sungai Mahakam sangat dibutuhkan untuk membantu mengatasi intrusi air laut.
Menurutnya, bertambahnya debit air dari hulu dapat memperkuat arus Sungai Mahakam sehingga dorongan air laut dapat tertahan.
“Menurut saya sih hujannya di wilayah hulu. Wilayah hulu Sungai Mahakam itu yang kita harapkan. Sehingga dorongan atau intrusi air laut ini bisa tertahan oleh arus yang dari hulu Sungai Mahakam,” lanjutnya.
Suparno menjelaskan, debit Sungai Mahakam yang saat ini relatif kecil menjadi salah satu faktor yang memengaruhi masuknya air laut semakin jauh ke wilayah sungai.
Bahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, intrusi air laut telah mencapai kawasan Jembatan Mahakam di Samarinda.
Kondisi tersebut juga berdampak terhadap pelayanan air bersih di wilayah hilir.
Suparno menyebut sejumlah instalasi pengolahan air di Samarinda harus menyesuaikan operasional karena air baku yang terdampak intrusi.
Menurutnya, instalasi yang masih dapat beroperasi berada di wilayah yang relatif lebih jauh dari pengaruh intrusi air laut.
“Jadi off semua yang di hilir. Kemudian yang beroperasi kalau tidak salah Pak Loa Bakung sama Lipan sama Bedang yang masih operasi itu karena memang masih jauh itu,” ujarnya.
Ia juga menyarankan agar masyarakat Samarinda mengambil air bersih dari Loa Janan sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut.
Menurut Suparno, langkah serupa dapat menjadi opsi sementara selama kondisi air baku masih terdampak.
Sementara itu, terkait kemungkinan intrusi air laut mencapai wilayah Tenggarong, Suparno mengatakan dirinya belum pernah menemukan kondisi tersebut selama sekitar 35 tahun bekerja di Perumda Tirta Mahakam.
Ia menyebut lokasi terjauh yang pernah mengalami intrusi air laut berada di kawasan Jembatan Mahulu.
“Kalau saya sih belum pernah menemukan itu ya, belum pernah itu selama saya 35 tahun di PDAM. Terjauh itu kemarin di Jembatan Mahulu. Itu yang terjauh,” katanya.
Karena itu, ia berharap intrusi air laut kali ini tidak bergerak semakin jauh menuju wilayah hulu Sungai Mahakam.
Menurutnya, kondisi alam menjadi faktor utama yang saat ini harus dihadapi bersama.
Suparno menilai kondisi intrusi air laut yang terjadi saat ini bukan hanya persoalan Perumda air minum.
Menurutnya, fenomena tersebut sudah menjadi persoalan yang berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat.
Ia menyebut kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Indonesia.
“Ini kemarin kita juga diskusi, tidak hanya Kalimantan. Ini Indonesia, Mas, posisi seperti ini. Kalimantan secara umum kan masih dilihat dari Kapuas sendiri, sungai terpanjang aja seperti itu kondisinya,” ujarnya.
Ia berharap kejadian tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah untuk mempersiapkan kebutuhan dasar masyarakat menghadapi kondisi serupa di masa mendatang.
“Semoga dengan kejadian ini juga pemerintah juga memahami bahwa kebutuhan dasar ini juga sangat penting menjadi segala prioritas untuk dipersiapkan di masa depan yang akan datang,” lanjutnya.
Suparno menegaskan, Perumda Tirta Mahakam akan terus berupaya memberikan pelayanan di tengah kondisi air baku yang terdampak intrusi air laut.
Ia juga meminta masyarakat memahami bahwa keterbatasan produksi air bersih bukan terjadi karena perusahaan tidak ingin memberikan pelayanan.
“Kualitas air yang nantinya didistribusikan ini juga tidak berdampak yang lain,” ujarnya.
Menurutnya, air baku tetap harus memenuhi standar sebelum diproses dan didistribusikan kepada masyarakat.
“Untuk kondisi ini persoalannya bukan PDAM tidak mau atau tidak upaya, tapi memang kondisi alam kita,” kata Suparno.
Ia pun mengajak masyarakat untuk bersabar dan berharap hujan segera turun di wilayah Kalimantan Timur.
“Kita sama-sama mohon kesabaran dan berdoa semoga segera hujan diturunkan kepada masyarakat Kalimantan Timur,” pungkasnya. (*)
0 Komentar