Iran Minta AS Ganti Rugi Jika Ingin Selat Hormuz Dibuka

Iran Minta AS Ganti Rugi Jika Ingin Selat Hormuz Dibuka

Tuntutan Iran terhadap Amerika Serikat

Pemerintah Iran menuntut Amerika Serikat untuk membayar ganti rugi kepada negara tersebut sebelum kembali membuka alur pelayaran di Selat Hormuz. Tuntutan ini disampaikan setelah sebuah rudal Iran menghantam kapal tanker yang dioperasikan oleh perusahaan minyak Uni Emirat Arab (ADNOC), hari Sabtu, 8 Agustus 2026.

Iran meminta AS untuk menarik pasukannya dari kawasan tersebut dan mencabut semua sanksi yang diberlakukan terhadap Iran. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah menetapkan tiga poin sebagai syarat baru yang harus dipenuhi oleh Amerika Serikat sebelum Iran bersedia membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menangani sekitar seperempat perdagangan minyak dan LNG lintas laut global. Pernyataan dari Sekretaris Dewan Keamanan Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, menyebutkan bahwa Iran tidak bisa membuka jalur perairan tersebut sampai "Amerika Serikat mengubah perilakunya."

Ia menegaskan bahwa AS harus mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan menarik pasukannya "dari wilayah di sekitar Iran," serta mencabut sanksi yang "tidak adil dan ilegal." Selain itu, Iran juga menuntut agar aset negara Iran yang dibekukan dicairkan dan ganti rugi diberikan.

Mohammad Baqer Zolqadr juga menegaskan bahwa AS harus mengakhiri "perang dan agresi" terhadap Iran dan sekutunya di Irak, Lebanon, Palestina, dan Yaman. Ia menambahkan bahwa AS tidak boleh mengancam Iran dengan bahasa apa pun atau menghina nilai-nilai luhur bangsa Iran.

Hari Sabtu lalu, UEA menyatakan bahwa sebuah rudal Iran telah menghantam kapal tanker yang dioperasikan oleh ADNOC, seraya menuduh Teheran melakukan pembajakan. Iran bersikeras bahwa semua kapal yang melintasi selat tersebut harus mematuhi instruksinya dan menghindari rute yang disebutnya "ilegal" yang ditetapkan oleh Angkatan Laut AS.

Meskipun pada hari Jumat Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz, pembicaraan damai dengan AS praktis telah terhenti. Presiden AS Donald Trump mengatakan ia membatalkan serangan baru pekan lalu untuk memberi ruang bagi negosiasi. Namun, sejumlah media AS melaporkan bahwa Pentagon telah kehabisan banyak rudalnya.

Laksamana Brad Cooper, komandan tertinggi AS di Timur Tengah, sudah menyampaikan hal tersebut kepada Donald Trump bahwa daftar target di sekitar Hormuz sebagian besar sudah habis. Presiden dan menteri pertahanannya, Pete Hegseth, membantah adanya kekurangan amunisi.

Kekacauan di Kawasan Timur Tengah

Tuntutan Iran ini muncul di tengah kekhawatiran akan kekacauan yang lebih luas yang melanda kawasan tersebut. Pekan ini, Israel kembali melancarkan pemboman besar-besaran terhadap Lebanon, menuduh Hizbullah melanggar gencatan senjata yang dicapai dua bulan lalu dengan pemerintah Lebanon.

Kelompok Houthi Yaman yang selama ini merupakan kelompok Syiah yang pro-Iran, melancarkan serangan besar-besaran terhadap pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi serta menargetkan kapal-kapal Saudi di Laut Merah.

Perang melawan Iran tetap tidak mendapat dukungan dari publik AS; jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa 50 persen warga Amerika meyakini serangan AS akan semakin mengacaukan stabilitas Timur Tengah. Hanya 17 persen rakyat AS dalam jajak pendapat tersebut yang menyatakan bahwa situasi akan "menjadi lebih baik."


0 Komentar