gubukinspirasi.id Tanggal 11 September 2026 merupakan hari Jumat dengan weton Legi dan wuku Mahanil dalam kalender Jawa.
Dalam penanggalan Jawa, weton merupakan bagian dari warisan budaya yang menggabungkan unsur hari dalam kalender Masehi dengan pasaran Jawa.
Tanggal 11 September memiliki catatan penting dalam sejarah dunia. Tanggal tersebut setiap tahun dikenang sebagai Tragedi 9/11, merujuk pada rangkaian serangan teroris yang terjadi di Amerika Serikat pada 11 September 2001.
Serangan tersebut menyasar sejumlah lokasi penting, termasuk kompleks World Trade Center di New York dan Pentagon di Arlington, Virginia.
Peristiwa itu menewaskan ribuan orang dan kemudian menjadi salah satu kejadian yang paling dikenang dalam sejarah awal abad ke-21.
Di sisi lain, Jumat Legi dalam kalender Jawa dapat dipahami sebagai bagian dari sistem penanggalan dan tradisi masyarakat Jawa.
Weton tidak perlu dimaknai sebagai sesuatu yang menentukan nasib, keberuntungan, karakter, maupun masa depan seseorang.
Memahami weton lebih tepat ditempatkan sebagai upaya mengenal peninggalan budaya leluhur.
Pengetahuan mengenai nama hari, pasaran, dan cara masyarakat Jawa menyusun penanggalan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi sekarang agar tradisi tersebut tetap dikenal.
Untuk weton hari ini adalah Jumat Legi pada wuku Manahil, jumlah neptunya senilai 11, kombinasi dari Jumat 6 dan Legi 5.
Bagi pemilik weton Jumat Legi pada wuku Manahil diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Maksudnya adalah, pemilik weton ini dikenal memiliki hati yang tulus dan suka menolong.
Mereka tidak suka membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. Hanya saja, ketulusan hati weton Jumat Legi ini sering dimanfaatkan oleh orang lain.
Mereka memanfaatkan kebaikan weton Jumat Legi untuk memperoleh keuntungan sendiri. Maka dari itu, weton Jumat Legi harus berhati-hati jika bertemu dengan orang baru.
Kita boleh saja berbaik sangka, tapi juga perlu melihat lebih dalam siapa orang yang akan kita tolong tersebut. Jangan-jangan mereka itu hanya lah orang yang berpura-pura saja, demi mendapatkan simpati dari kita.
Ada baiknya sembari menolong. kita juga mencari tahu latar belakang orang yang akan kita tolong. Jangan sampai karena ketulusan hati kita, kita malah terkena masalah.
Hari Tragedi 9/11
Tanggal 11 September juga dikenal secara global sebagai peringatan tragedi 9/11 di Amerika Serikat.
Pada tahun 2026 ini, tragedi tersebut genap 25 tahun sejak peristiwa tersebut terjadi.
Tragedi 11 September 2001 merupakan serangan teroris yang dilakukan dengan cara membajak pesawat komersial dan mengarahkannya ke sejumlah target penting di Amerika Serikat.
Tiga pesawat berhasil menabrak Gedung Pentagon di Washington DC serta Menara Kembar World Trade Center di New York.
Satu pesawat lainnya jatuh di wilayah Pennsylvania setelah para penumpang melakukan perlawanan terhadap para pembajak.
Meski target pastinya tidak pernah diketahui secara pasti, pesawat tersebut tidak sempat mencapai sasaran yang direncanakan.
Akibat peristiwa tersebut, sekitar 3.000 orang meninggal dunia, termasuk penumpang pesawat, pekerja di gedung yang terdampak, serta petugas penyelamat yang berada di lokasi kejadian.
Pemimpin Redaksi Russia in Global Affairs sekaligus Direktur Riset Valdai International Discussion Club, Fyodor Lukyanov mengatakan, peristiwa 9/11 menjadi titik balik peta politik global.
Warisan terbesar dari tragedi tersebut dinilai bukan hanya luka fisik, melainkan awal dari berakhirnya era hegemoni tunggal Negeri Paman Sam di panggung dunia.
"Peristiwa itu mengakhiri dekade dominasi AS yang hampir tanpa tandingan pasca-Perang Dingin."
"Narasi 'akhir dari sejarah' yang sempat digagas Francis Fukuyama justru berbalik menjadi kembalinya sejarah yang penuh pergolakan dan kekerasan," tulis Lukyanov dalam analisanya, dikutip dari RT.
Lukyanov menilai, respons yang diambil pemerintah AS di bawah Presiden George W. Bush pasca-serangan justru mempercepat pelemahan posisi geopolitiknya sendiri.
Dipengaruhi oleh pemikiran neokonservatif, Washington menerapkan strategi agresif dengan dua asumsi utama: melawan ancaman terorisme non-negara di mana pun berada dan memperluas demokratisasi secara global.
Namun, langkah AS yang melakukan intervensi militer ke Afghanistan dan Irak, serta keterlibatannya dalam dinamika Arab Spring dan konflik Libya, justru berbuah bumerang.
Invasi Irak pada 2003 menghancurkan keseimbangan kawasan Timur Tengah dan memicu kebangkitan kelompok-kelompok radikal baru.
Di saat yang sama, dorongan AS untuk menggelar pemilu di wilayah Palestina pada 2006 justru berujung pada kemenangan Hamas.
"AS terjebak dalam apa yang kemudian disebut oleh para politisi mereka sendiri sebagai 'perang tanpa akhir'."
"Upaya memaksakan demokrasi asing ini tidak hanya memicu polarisasi di dalam negeri AS, tetapi juga merusak reputasi demokrasi itu sendiri di mata internasional," jelas Lukyanov.
Selain dampak luar negeri, Tragedi 9/11 juga mengubah lanskap domestik AS. Atas nama Perang Melawan Teror, pengawasan negara terhadap komunikasi pribadi dan transaksi keuangan warganya meningkat drastis.
Standar ganda dalam mendefinisikan terorisme juga dinilai tetap bertahan ketika berbenturan dengan kepentingan geopolitik negara-negara besar.
Meskipun dinamika global lain seperti bangkitnya kekuatan ekonomi Tiongkok, kembalinya pengaruh Rusia, dan perubahan teknologi turut berkontribusi dalam pergeseran peta dunia, peristiwa 11 September tetap dipandang sebagai katalis utama.
Kini, tatanan unipolar atau dunia yang didominasi satu kekuatan tunggal berangsur-angsur runtuh dan bergeser menuju tatanan multipolar.
"Bentuk tatanan internasional baru yang akan menggantikannya memang belum sepenuhnya jelas. Namun satu hal yang pasti: serangan 11 September tidak sekadar menyela tatanan pasca-Perang Dingin, melainkan menandai awal dari akhir kepemimpinan tunggal AS di dunia," pungkas Lukyanov.
(Bangkapos.com/TribunMedan.com/Kompas.com)
0 Komentar