Lulusan Lampung Paling Banyak Menganggur, TPT Capai 7,92 Persen

Lulusan Lampung Paling Banyak Menganggur, TPT Capai 7,92 Persen

Fenomena Pengangguran di Lampung: Ijazah Sarjana Tidak Menjamin Pekerjaan

Pengangguran di Provinsi Lampung terus menjadi perhatian masyarakat, khususnya setelah data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lulusan pendidikan tinggi justru mengalami tingkat pengangguran yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan pendidikan rendah. Hal ini menunjukkan bahwa ijazah sarjana tidak selalu menjadi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan.

Data Terbaru Tingkat Pengangguran Terbuka

Pada Mei 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Lampung mencapai 3,97 persen. Namun, jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, ternyata lulusan Diploma dan Universitas menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi. BPS mencatat bahwa TPT tamatan Diploma dan Universitas mencapai 7,92 persen, jauh di atas TPT penduduk berpendidikan SD ke bawah yang hanya sebesar 1,47 persen.

Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, menjelaskan bahwa tingkat pengangguran tertinggi berdasarkan pendidikan terdapat pada kelompok tamatan Diploma dan Universitas. Sebaliknya, TPT paling rendah justru ada pada pendidikan SD ke bawah.

Kondisi Angkatan Kerja di Lampung

Secara keseluruhan, jumlah angkatan kerja di Lampung pada Mei 2026 mencapai 5.153,54 ribu orang. Jumlah tersebut meningkat 37,64 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Dari total angkatan kerja tersebut, sebanyak 4.949,08 ribu orang bekerja, sementara 204,45 ribu orang masih menganggur. Jumlah pengangguran itu meningkat sekitar 2,13 ribu orang dibandingkan Februari 2026.

Meski demikian, TPT Lampung masih tergolong rendah jika dibandingkan sejumlah provinsi lain di Sumatera. Lampung berada di posisi ketiga dengan TPT terendah di Sumatera, setelah Bengkulu sebesar 3,20 persen dan Sumatera Selatan sebesar 3,60 persen.

Kesulitan Lulusan Sarjana Mendapatkan Pekerjaan

Tingginya angka pengangguran lulusan Diploma dan Universitas menjadi sorotan. Sebab, kelompok berpendidikan tinggi selama ini dianggap memiliki peluang lebih besar untuk memasuki pasar kerja. Namun, pengalaman para pencari kerja menunjukkan bahwa hal ini tidak selalu benar.

Lisya, seorang sarjana Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Islam Negeri Radin Inten Lampung (UIN RIL), mengaku telah mengirimkan lebih dari 50 lamaran kerja dalam tiga tahun terakhir. Berbagai cara telah dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan, termasuk rutin memantau situs informasi lowongan kerja hingga beberapa kali dalam sehari.

Menurut Lisya, salah satu kendala terbesar adalah terbatasnya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kompetensinya. “Kesulitan dalam mencari kerja kurangnya lapangan pekerjaan, padahal udah buka tutup situs online info loker sehari bisa lima kali,” ujarnya.

Persaingan Ketat dan Faktor Koneksi

Persaingan mendapatkan pekerjaan juga dirasakan semakin berat. Lisya mengaku pernah menemukan situasi ketika lowongan yang sesuai justru sulit ditembus karena adanya dugaan faktor koneksi dalam proses perekrutan. “Sekalinya ada yang sesuai kalah sama ordal.”

Lowongan Sales Dominan

Ironisnya, pendidikan tinggi yang ditempuh dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan sesuai bidang yang diminati tidak selalu berujung demikian. Lisya mengatakan banyak lowongan yang tersedia justru tidak berkaitan langsung dengan jurusan yang ditempuhnya selama kuliah. Salah satu posisi yang menurutnya cukup sering muncul adalah pekerjaan sebagai sales.

“Kuliah harapannya bisa kerja sesuai dengan jurusan yang diminati, kenyataannya banyak loker jadi sales.” Ia sebenarnya pernah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang dinilai cukup sesuai. Namun, persoalan lain muncul karena jam kerja yang tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

“Sudah pernah bekerja, gaji cocok tapi jam kerja kurang sesuai.”

Struktur Pasar Kerja Lampung

Di tengah tingginya pengangguran lulusan pendidikan tinggi, struktur pasar kerja Lampung masih sangat bergantung pada sektor-sektor yang tidak selalu membutuhkan pendidikan tinggi. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 44,04 persen dari total penduduk bekerja.

Berikutnya, sektor perdagangan besar dan eceran menyerap 16,70 persen, sedangkan industri pengolahan mencapai 8,41 persen. BPS juga mencatat mayoritas pekerja di Lampung masih berada di sektor informal. Sebanyak 3.423,3 ribu orang atau 69,17 persen bekerja dalam kegiatan informal. Sementara pekerja formal hanya mencapai 1.525,7 ribu orang atau 30,83 persen.


0 Komentar